Indotnesia - Yogyakarta menjadi salah satu tujuan wisata yang terkenal dengan budaya, alam, dan kulinernya. Biar nggak melulu menyantap gudeg Jogja, ada juga sajian kuliner sate legendaris yang patut dicoba.
Mulai dari sate kambing yang empuk dengan bumbu minimalis, hingga sate yang menggetarkan lidah karena rasanya yang super pedas. Ada banyak warung makan yang menyuguhkan sate dengan berbagai versi.
Berikut, lima rekomendasi kuliner sate legendaris di Yogyakarta yang nggak boleh terlewatkan.
Sate Klathak
Sate klatak adalah sate kambing muda yang ditusuk bukan dari tusukan bambu, melainkan besi. Tusukan besi yang panas karena bara api membuat potongan daging bagian dalamnya menjadi empuk.
Dengan bumbu super minimalis, sate ini menyuguhkan rasa asli dari daging kambing. Nama "klathak" sendiri diambil dari suara klathak-klathak ketika taburan garam mengenai daging kambing muda ketika dibakar,
Untuk melengkapi sajian daging tersebut, penjual biasanya menyuguhkan kuah gule kambing. Kawasan yang terkenal dengan berbagai warung sate klathak di Yogyakarta adalah Jalan Imogiri Timur, Bantul.
Puluhan warung sate tersedia di sini, mulai dari sate klathak Pak Pong, Pak Bari, Bu Jazim, Mak Adi, dan lain sebagainya. Satu porsinya mulai dari Rp20.000 per porsi.
Sate Petir Pak Nano
Menu sate ini lebih spesifik menjurus pada satu warung yang berada di Jalan Jogja Ring Road Selatan No.90, Kasihan, Bantul. Dari namanya saja, kita bisa menduga bahwa menu yang disajikan sangatlah pedas.
Yup, benar! Sate Petir Pak Nano adalah sate kambing dengan bumbu kecap. Nampak biasa saja awalnya, namun kita bisa minta cabai dengan berbagai level.
Level pedasnya mulai dari TK hingga profesor, yang artinya semakin tinggi jenjangnya semakin pedas pula bumbu satenya. Irisan bawang merah dan cabai yang tipis namun banyak membuat lidah tak bisa berhenti mengunyah.
Sate milik Pak Nano ini telah berdiri sejak 1980-an, yang membuat warung tersebut punya pelanggan setia. Harga satu porsi sate kambing Rp25.000.
Sate Merah Bangde
Sate merah ini adalah pendatang baru di dunia perkulineran Jogja. Buka pada pertengahan tahun lalu, sate ini terbuat dari daging ayam yang telah dimarinasi selama berjam-jam dengan bumbu merah yang khas.
Warung sate yang terletak di Jalan Wahid Hasyim (Nologaten) No. 135, Condongcatur, Sleman, juga menyediakan sate kulit ayam. Tentu saja, warnanya yang merah mencerminkan rasanya yang pedas.
Dengan sensasi rasa bumbu pedas, manis, dan dibakar dengan batu kali, Anda bisa mencicipi seporsi Sate Merah Bangde dengan merogoh kocek mulai dari Rp20.000-an.
Sate Sapi Pak Bayu
Warung sop dan sate sapi Pak Bayu ini terletak di Jalan Yudistiro No.2, Palgading, Sinduharjo, Ngaglik, Sleman. Sate ini terbuat dari daging sapi yang tentu memberikan cita rasa berbeda dibandingkan sate kambing.
Sate sapi dengan bumbu kecap yang manis dan gurih disantap dengan potongan cabai, bawang merah, serta taburan bawang goreng. Selain dagingnya, kita bisa menikmati bagian sapi lainnya sebagai sate seperti sate babat, sate koyor, sate ati, dan sate iso.
Tapi kalau ingin mencoba menu lain selain sate, Anda bisa memesan sop balungan gajah yang super besar. Yang pasti ini bukan dari hewan gajah ya, namun sapi dengan tulang yang besar.
Sate Taichan Sumoo
Jogja juga punya sate taichan yang terkenal, salah satunya Sate Taichan Suumo. Terletak di Jalan Pangeran Mangkubumi No.22, Gowongan, warung ini menyajikan sate taichan dari daging ayam, kulit ayam, dan usus.
Harganya mulai Rp1.500 hingga Rp19.000 sehingga Anda bisa menikmati hidangan ini dengan sepuasnya. Daging ayam di sini menggunakan bumbu spesial dan ukurannya yang besar membuat sate ini berbeda dengan sate taichan lainnya.
Untuk menikmati sate ini, kita akan disuguhkan sambal pedas dengan rasa khas Sumoo.
Itulah lima rekomendasi sate yang bisa Anda nikmati selama berada di Yogyakarta. Selalu jaga kesehatan dengan makan makanan bergizi, olahraga, dan istirahat yang cukup.
Berita Terkait
-
Sate Kadal: Mencicipi Keunikan Rasa yang Menggugah Selera
-
Harga Tiket dan Lokasi On The Rock Jogja, Destinasi Viral Mirip Pantai Pandawa Bali
-
5 Spot Wisata Kuliner Jogja: Asli Sedap, Bukan Efek Marketing FOMO
-
5 Wisata Hidden Gems di Jogja yang Masih Sepi, Nyaman buat Healing
-
Kisah Unik Sate Lisidu Surabaya dari Garasi Rumah hingga Menembus Istana Kepresidenan
Terpopuler
- Gerbang Polda DIY Dirobohkan Massa Protes Kekerasan Aparat, Demonstran Corat-coret Tembok Markas
- Setahun Andi Sudirman-Fatmawati Pimpin Sulsel, Pengamat: Kinerja Positif dan Tata Kelola Membaik
- Mahasiswi Tergeletak Bersimbah Darah Dibacok Mahasiswa di UIN Suska Riau
- Viral Bocah Beragama Kristen Ikut Salat Tarawih 3 Hari Berurut-turut, Celetukannya Bikin Ngakak
- 5 Rekomendasi Sepeda Lipat di Bawah 5 Juta yang Ringan dan Stylish, Mobilitas Semakin Nyaman
Pilihan
-
Jenazah Alex Noerdin Disalatkan di Masjid Agung Palembang, Ini Suasana Lengkapnya
-
John Tobing Sang Maestro 'Darah Juang' Berpulang, Ini Kisah di Balik Himne Reformasi
-
Pencipta Lagu 'Darah Juang' John Tobing Meninggal Dunia di RSA UGM
-
Hidup Tak Segampang Itu Ferguso! Ilusi Slow Living di Magelang yang Bikin Perantau Gulung Tikar
-
Hujan Gol, Timnas Indonesia Futsal Putri Ditahan Malaysia 4-4 di Piala AFF Futsal 2026
Terkini
-
5 Rekomendasi Parfum Wanita Aroma Elegan untuk Buka Bersama
-
Hasil Tes Urine Sopir Calya Ugal-ugalan Bersih Zat Adiktif, Tapi Ditemukan Benda Ini di Mobil
-
Profil Anthony Lopes, Kiper FC Nantes yang Pura-pura Cedera Demi Rekan Setimnya Berbuka Puasa
-
Jarang Didekati Cewek, Lee Dong Wook Merasa Insecure
-
Polisi Hentikan Laporan Yoni Dores, Lesti Kejora Tak Terbukti Langgar Hak Cipta
-
Ole Romeny Masih Seret Gol, Pilihan Pertama Sebagai Timnas Indonesia Terancam
-
350 Kg Sampah Elektronik Dikumpulkan, LG Gaungkan Gerakan Daur Ulang E-Waste di Indonesia
-
Menanti THR MLBB 2026: Ini Hadiah dan Potensi Skin Gratisnya
-
Siapa yang Bakal Jadi Pesepak Bola Pria Terbaik versi PSSI, Ini Kandidatnya
-
Profil Irawati Puteri, Alumni LPDP Eks SPG Nugget yang 'Diburu' Netizen