Indotnesia - Kekalahan Arema FC dalam pertandingan Liga 1 dengan Persebaya Surabaya di Stadion Kanjuruhan, Sabtu (1/10/2022) memicu kerusuhan hingga mengakibatkan 126 orang meninggal dunia.
Banyak orang menuding penyebab kericuhan juga disinyalir akibat dari tembakan gas air mata ke tribun penonton.
Hal itu terlihat dari sejumlah komentar warganet di akun Instagram @polresmalang_polisiadem dalam unggahan mereka terkait himbauan untuk mematikan api flare saat pertandingan sepak bola.
"Sangat disayangkan kejadian semalam di Kanjuruhan, penggunaan gas air mata," tulis akun @nadie.onggojoyo.
"Gas air mata tembak ke bangku penonton EVALUASI banyak anak kecil yang menonton," tulis akun @fajar_ilhmm.
"Gas air mata ditembakin aturan ke tengah lapangan atuh, jadi banyak korban kan," tulis akun @ahmad_mulmull.
Bahkan, ada pula warganet di Twitter yang menyebut penggunaan gas air mata melanggar aturan FIFA, asosiasi sepak bola dunia.
"126 orang yg meninggal di pertandingan Arema vs Persebaya?? Ini tragedi besar teman2. Gila ini. Ratusan nyawa melayang. Gas air mata ditembakan, padahal melanggar kode keamanan Fifa. Jam pertandingan minta diubah ke sore, tp ttp jam 8. Negara ini emang gak bs jd negara sepakbola," tulis akun @kemalpalevi.
Meski lazim digunakan oleh kepolisian dalam melawan kerusuhan dan penangkapan, gas air mata bisa memicu serangan jantung hingga meninggal dunia.
Baca Juga: 5 Rekomendasi Drakor tentang Perselingkuhan yang Penuh Emosi dan Dendam
Lalu, apa itu gas air mata, apa efek bahayanya dan bagaimana cara mengatasinya?
Mengenal Gas Air Mata
Gas air mata merupakan senjata kimia yang mengandung sejumlah bahan kimia, diantaranya gas CS (2-klorobenzalmalononitril, C10H5ClN2), CN (kloroasetofenon, C8H7ClO), CR (dibenzoksazepin, C13H9NO), dan semprotan merica (gas OC, oleoresin capsicum).
Meski dikenal sebagai senjata tak mematikan, paparan terhadap gas ini bisa mengakibatkan dampak jangka pendek dan panjang, termasuk pemicu penyakit pernapasan, luka serta penyakit mata seperti keratitis, glaukoma dan katarak.
Selain itu, gas air mata juga dapat menyebabkan penyakit radang kulit, kerusakan sistem peredaran darah dan kematian, terutama ketika mengalami paparan tinggi.
Gas air mata biasanya juga terdiri dari campuran aerosol, seperti bromoaseton dan metilbenzil bromida, bukan gas.
Berita Terkait
Terpopuler
- Dicukur Timnas Indonesia 5-1, Pemain Naturalisasi Kamboja Jadi Sasaran Kemarahan Fans
- 4 Serum Wardah untuk Mengecilkan Pori, Kulit Halus dan Mulus Bertahap
- Daftar Harga Motor Listrik dengan Subsidi Pemerintah, Ada yang Cuma Rp5 Jutaan!
- Nasib Berubah, Ini 4 Shio yang Panen Keberuntungan dan Rezeki pada 29 Juli 2026
- Siapa Ipda Ambarita? Ini Profil Polisi yang Viral Saat Pengamanan Bentrok Matraman
Pilihan
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
-
Dicecar 23 Pertanyaan Penyidik KPK, Ini Kata Plt Bupati Sukoharjo
-
Cuma Sisa Rp200 Juta! Perampok Rp1,2 Miliar di Kalideres Diciduk Usai Habiskan 1 M Dalam 8 Hari
Terkini
-
Kasus Bocah Tersiram Air Panas, Puskesmas Waluran Perketat Pengawasan Pasien ODGJ
-
Amerika Gagah di Perang Iran Tapi Lagi Rapuh di Dalam Negeri, Kenapa Bisa Begitu?
-
Madura United Pulangkan Hugo Gomes, Perkuat Lini Tengah Hadapi Super League 2026/2027
-
Kenapa Muka Jadi Abu-Abu setelah Pakai Cushion? Begini Cara Mengatasinya
-
2 Mobil Listrik Bekas Diprediksi Turun Harga Gegara Wuling Aira EV: Mending Mana?
-
Gus Ipul Buka MPLS Sekolah Rakyat Gelombang Kedua Serentak di 65 Titik
-
Perayaan 35 Tahun Twilite Orchestra, BRI Buka Akses Tiket Eksklusif Lewat BRImo
-
Drama The Bond, Perjuangan Kakak Mengasuh Empat Adiknya di Tengah Cobaan
-
Jam Tangan Alexandre Christie Beli di Mana? Ini 4 Toko Resmi dan Modelnya yang Termurah
-
Judol dan Pinjol Intai Buruh Banten, Ada Pekerja Terlilit Utang Miliaran hingga Kena PHK