/
Kamis, 02 Februari 2023 | 15:42 WIB
Ilustrasi pencegahan Covid-19 (Foto: ANTARA)

Suara Joglo - Kabar menggembirakan kembali datang dari dunia akademis Indonesia. Doktor muda dari Universitas Airlangga ( UNAIR ), Arif Nur Muhammad Ansori, menemukan vaksin COVID-19 halal berbasis imunoterapi dengan sel dendritik.

Kabar ini terungkap melalui penelitian disertasi yang dilakukannya. Vaksin buatan Arif ini memiliki sejumlah keunggulan dibanding dengan vaksin Covid-19 yang sudah beredar selama ini. Salah satunya, vaksin ini diklaim halal dan lebih cepat.

"Vaksin ini memiliki berbagai macam kelebihan seperti aspek halal, respons imun lebih cepat, tidak memerlukan adjuvant, tidak adanya penolakan dari tubuh, dan efek samping yang minimal," kata Arif kepada wartawan di Surabaya, Kamis (02/02/2023).

"Jika vaksin yang lain masih memiliki berbagai macam kekurangan seperti efek samping yang berat, adanya respon penolakan tubuh, dan aspek halal yang masih belum terpenuhi," ujarnya menambahkan.

Penelitian yang dilakukan Arif tersebut bermula saat COVID-19 pertama kali masuk di Indonesia pada Maret 2020. Arif bersama tim dari Professor Nidom Foundation melakukan analisis terhadap virus COVID-19. Penelitian yang dilakukan pada disertasinya berfokus pada protein S atau spike.

Protein yang didapat itu lalu dipetakan melalui metode in silico dan in vitro, di mana hasilnya berupa protein terbaik dalam menghasilkan respons imun.

Hasil penelitian juga telah melalui proses publikasi jurnal ilmiah pada 2020 dan 2021 lalu yang masuk pada jurnal internasional terindeks Scopus baik Q2 maupun Q1.

Arif mengungkapkan proses penelitian berjalan bukan tanpa kendala. Kesulitan pernah dia hadapi, seperti pada aspek pendanaan dan fasilitas pendukung penelitian.

Kendati demikian, dukungan penuh dari Professor Nidom Foundation, serta dana penelitian dari Program Beasiswa Pendidikan Magister Menuju Doktor Untuk Sarjana Unggul (PMDSU) dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi membuatnya dapat menyelesaikan penelitian dengan baik.

Baca Juga: Jauhi 4 Makanan Ini Kalau Tidak Ingin Dietmu Gagal Lagi, Jangan Tergoda!

Penelitian yang dihasilkan oleh Arif tersebut dapat menjadi dasar konstruksi protein S yang digunakan dalam pembuatan vaksin berbasis imunoterapi dengan sel dendritik.

"Hasil penelitian ini dapat menunjang kemandirian Indonesia tanpa menggantungkan diri pada bangsa lain untuk ketersediaan protein S," kata doktor muda lulusan program doktor Fakultas Kedokteran Hewan Unair tersebut.

Hasil penelitian berupa vaksin ini akan terus dikembangkan sehingga tidak hanya mengendap di perpustakaan atau bahkan berhenti pada publikasi ilmiah saja.

"Harapannya vaksin ini dapat digunakan lebih luas untuk masyarakat Indonesia mengingat akan keunggulan dibanding lainnya seperti aspek halal dan minimnya efek samping yang ditimbulkan," katanya.

Load More