Wacana koalisi lima partai besar yang menggabungkan Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) dan Koalisi Kebangkitan Indonesia Raya (KKIR) mendapat taggapan dari PKS.
Melalui Ketua DPP PKS bidang Koordinasi Kehumasan, Mardani Ali Sera menyentil Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk tidak ikut campur dalam pertarungan partai di Pemilu 2024 nanti.
Lima partai yang terdiri dari Gerindra dan PKB (KKIR), serta Golkar, PAN dan PPP (KIB) sebelumnya melakukan pertemuan bersama. Dalam pertemuan itu presiden Jokowi juga ikut hadir.
Mardani Ali Sera meminta Jokowi cukup mempersiapkan Pemilu 2024 yang adil dan sehat.
"Jadi jangan ada bayang-bayang Pak Jokowi. Cukup siapkan agar Pemilu 2024 nanti terbentuk kontestasi yang fair, adil dan sehat. Kontestasi karya, gagasan yang tak perlu cawe-cawe, yang menang siapa. Biar rakyat yang menentukan," terang Mardani Ali Sera dikutip dari Suara.com, Selasa (4/4/2023).
Menurutnya, penggabungan koalisi besar ini lebih baik dilakukan di putaran kedua Pilpres 2024. Menyusul koalisi yang saat ini sudah cukup baik dalam menentukan capres dan cawapresnya masing-masing.
Bukan tanpa alasan, Mardani Ali Sera khawatir Pemilu 2024 tak jauh berbeda dengan 2019 lalu. Dua pasangan capres-cawapres menimbulkan konflik di tengah masyarakat yang dinilai tak sehat.
"Sebenarnya (koalisi) yang sekarang kan lebih ideal. KIB sendiri, KKIR sendiri, KKP dan Perubahan untuk Persatuan juga sendiri. Nah tinggal PDIP, punya golden ticket, mau sendiri atau gabung dengan koalisi yang ada. Kalau cuma dua pasang (capres-cawapres) buat saya tidak sehat," terang dia.
Mardani Ali Sera menyebutkan bahwa koalisi besar di awal-awal ini akan merugikan masyarakat. Pasalnya masyarakat tak mendapat pendidikan politik yang sehat karena kontestasi yang minim.
Baca Juga: Megawati Tak Datang Silaturahmi Ramadhan, PDI Perjuangan Tepis Ditinggal Pembentukan Koalisi Besar
"Jadi kalau koalisi kecil itu kan masyarakat bisa menilai. Bisa menentukan dan tertarik dengan visi yang akan dibawa. Kalau gabung ramai-ramai memang bagus untuk stabilitas pembangunan. Tapi bagaimana pemilu dan demokrasi ini jadi wadah pendidikan politik rakyat. Jadinya nanti tidak menarik dan masyarakat tidak terlibat karena tidak ada kontestasi," ungkap dia.
Berita Terkait
Terpopuler
- Istana Diminta Istirahatkan Qodari atau Demo Mahasiswa Bisa Makin Besar
- Ciri-Ciri Sepatu Berbahan Kulit Babi, Kenali sebelum Membeli
- 4 Sepatu Jalan Kaki Lokal Terbaik Harga Rp300 Ribuan Sesuai Review, Kualitas Jempolan
- 4 Pompa Air Kedalaman 20 Meter ke Atas, Hemat Listrik dan Tekanan Air Stabil
- Roy Suryo Ditangkap di Bintaro Terkait Kasus Ijazah Palsu Jokowi, Sempat Diancam Borgol
Pilihan
-
Salah Sasaran Evaluasi: Menilai Program MBG Lewat Respons Anak Itu Absurd
-
Dasco di Mobil Komando Aksi: Aspirasi Kawan-kawan Sudah Disampaikan, Hidup Mahasiswa!
-
Bukan Sekadar Karaoke, Orutaku Club Jadi Mesin Waktu Bagi Wibu Generasi 90-an
-
Kejagung Tetapkan Glory Harimas Sihombing Tersangka, Dugaan Jual Beli Titik Dapur MBG Terungkap
-
Wamensesneg Terluka Kena Batu, Kivlan Zen Berdarah Saat Eksekusi Hotel Sultan GBK Ricuh
Terkini
-
Senator Republik Prediksi Donald Trump Bakal Ambil Paksa Selat Hormuz
-
Rahang Patah Tak Halangi Pemain Austria Tampil Mati-matian Jelang Lawan Argentina
-
Pemain Liverpool: Apa yang Dilakukan Lionel Messi Tak Masuk Akal!
-
Joget Gemoy Ratu Belanda di Ruang Ganti Usai Curacao Tahan Imbang Ekuador Viral
-
Daftar Lengkap 10 Pencetak Gol Termuda Piala Dunia: Lamine Yamal Lewati Messi
-
Kurang dari 16 Jam untuk Persiapan! Iran Tercekik Aturan AS, Ghalenoei Protes Keras
-
Hasil Spanyol vs Arab Saudi: Matador Tanduk Elang Hijau, Lamine Yamal Sejajar Pele
-
Argentina Lawan Austria di Dallas, Kota Terkutuk buat Maradona
-
Pemain Bongkar Borok PSSI-nya Tunisia Usai Tersingkir dari Piala Dunia 2026
-
Jepang Juara Piala Dunia 2026? Deretan Rekor Samurai Biru Usai Tebas Tunisia