Indonesia pernah memiliki sebuah klub besar legendaris namun memiliki sederet prestasi mentereng bernama Arseto Solo.
Meski Arseto lahir di Jakarta, tapi klub tersebut dirindukan oleh masyarakat Solo khususnya yang hidup di era Galatama.
Arseto Solo merupakan klub milik Sigit Harjoyudanto yang tak lain adalah putra mantan presiden Soeharto.
Melansir Hops.id--jaringan Suara.com, saat kompetisi Galatama bergulir, Sigit membuat klub sepak bola bernama Arseto yang awalnya berbasis di Jakarta pada 1978.
Karena di Jakarta sudah banyak klub Galatama, seperti Jayakarta, Pelita Jaya, ataupun UMS 80, maka Arseto pun pindah ke Solo dan menjadi Arseto Solo.
Pamor Sigit sebagai putra presiden Soeharto membuatnya menjadi Ketua Haran Liga Sepak Bola Utama.
Punya jabatan yang berkualitas, pengaruhnya di PSSI pun semakin menguat usai menjadi Kepala Proyek PSSI Garuda dan menjadi Ketua I PSSI.
Meski Arseto lahir di Jakarta, tapi klub tersebut dirindukan oleh masyarakat Solo khususnya yang hidup di era Galatama.
Ya, pamor Arseto saat itu menggusur nama besar Persis Solo sebagai tim legendaris Indonesia. Hal ini tak lepas dari prestasi Arseto yang mulai menjuarai Piala Liga 1 pada 1985.
Baca Juga: Pj Wali Kota Bekasi Raden Gani Masih Bolak Balik Jakarta-Bekasi Gegara Belum Dapat Rumah Dinas
Dua tahun berselang, Arseto mampu tampil sebagai juara Invitasi Perserikatan-Galatama.
Tahun 1992 menjadi musim terbaik Arseto setelah mereka menjuarai Galatama dan mewakili Indonesia di Liga Champions Asia.
Arseto Solo juga mencatatkan sejarah dengan keberhasilannya melaju ke grup semifinal Liga Champions Asia.
Berita Terkait
Terpopuler
- Kinerja Tim Komunikasi Buruk, Prabowo Diingatkan Segera Reshuffle Seskab Teddy hingga Kapolri
- Ruben Onsu Jadi Tersangka Kasus Dugaan Penipuan, Bakal Dipanggil Polisi Minggu Depan
- 20 Kode Redeem FF Aktif 20 Agustus 2026: Klaim Item Langka dan Bundle Spesial
- Harga Serum Penghilang Flek Hitam yang Efektif dan Aman, Ini 5 Rekomendasi Produknya
- Warga Jogja Protes Desil Naik, Status Miskin Masuk Desil 9, Pemda DIY Minta BPS Klarifikasi
Pilihan
-
KPK Tangkap Rektor Unsoed Akhmad Sodiq Terkait Dugaan Suap Penerimaan Mahasiswa Baru
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
Terkini
-
Pati Kompak! Ratusan Ormas Deklarasi Damai di Alun-alun, Tegaskan Tolak Aksi Provokatif
-
Dari Panggung KKI 2026, Belasan UMKM Sumsel Membidik Pasar Nasional hingga Ekspor
-
Cek Kesehatan Gratis Efektif Deteksi Dini dan Eliminasi Kasus TBC di Tangsel
-
Karhutla Sumsel Belum Terkendali, 8 Lokasi Masih Terbakar, Air Makin Menipis
-
Guncang Lima Kota Besar, Deddy Corbuzier Bawa Invasi Indonesia Podcast Festival 2026 ke Luar Jakarta
-
Kemendagri Dorong Digitalisasi Transaksi Daerah Tak Sekadar Pembayaran, tapi Dongkrak PAD
-
Indonesia - China Sepakat Tingkatkan Kerja Sama Bidang Pertahanan
-
Praperadilan Febrie: Ahli Sebut TPPU Pasca 2026 Wajib Pakai Pasal 607, Bukan UU Lama
-
28 Tahun Berlalu, Luka Mei 1998 Kembali Disuarakan Lewat Lagu
-
Bayi 3 Bulan di OKU Terbaring di ICU, 11 Hari Setelah Diduga Dianiaya Ayah Kandung