Penggiat Media Sosial, Ferry Koto menyoroti kehadiran wacana pembatasan haji menjadi satu kali seumur hidup yang diwacanakan oleh pemerintahan dari Presiden Joko Widodo alias Jokowi.
Dirinya secara terbuka menyatakan ketidaksetujuannya terkait rencana tersebut karena dapat melanggar hak asasi manusia bahkan konstitusi.
Ferry mengingatkan pemerintah bahwa ada hak masyarakat untuk berkeyakinan sesuai yang dipercayai masing-masing termasuk soal haji dimana ada yang percaya cukup satu kali maupun berkali-kali, pemerintah harus menghormati hal itu karena hak ini dijamin oleh konstitusi.
"Ndak perlu jg membatasi haji, malah melanggar hak asasi. Ada yg punya keyakinan haji berkali-kali, ada yg cukup sekali. Konstitusi menjamin keyakinan itu," ungkapnya melalui akun @ferrykoto seperti yang dilansir pada Selasa (29/8).
Sebagai gantinya, ia menyarankan pemerintah mengalihkan wacana ini kepada keharusan mereka untuk melayani peserta haji dari Indonesia. Menurutnya pemerintah hanya perlu melayani peserta haji bagi mereka yang melakukan hal tersebut pertama kali dalam hidupnya.
"Yg perlu dibatasi itu pelayanan pemerintah. BPKH dan layanan negara cukup sekali u/ tiap org. Kedua & seterusnya mandiri," tegasnya.
Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy mengatakan kajian khusus sedang disiapkan terkait wacana larangan ibadah haji lebih dari satu kali. Hal ini terjadi setelah wacana tersebut direspon positif oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
Ini terkait dengan dampak positif yang bisa dihasilkan oleh pembatasan ini. Ia juga menegaskan para ulama hanya mewajibkan ibadah haji sebanyak satu kali saja. Menurutnya, ibadah haji lebih dari satu kali dapat menimbulkan dilema.
"Yang jelas kalau itu (haji tidak lebih dari satu kali) bisa dilakukan, akan perpendek antrian. Kemudian juga dapat memberikan kesempatan bagi mereka yang belum (haji). Jadi bisa sunnah, tapi akan mengambil hak orang lain yang belum pergi haji yang lebih wajib. Maka ya sebetulnya harus mendahulukan yang wajib daripada yang sunnah," tuturnya.
Baca Juga: Sosok Erick Thohir Dianggap Punya Daya Pikat Tarik PPP Dukung Prabowo di Pilpres 2024
Berita Terkait
Terpopuler
- Pemerintah Tutup Ruang Pembentukan Provinsi Luwu Raya, Kemendagri: Ikuti Moratorium!
- Warga Sambeng Borobudur Pasang 200 Spanduk, Menolak Penambangan Tanah Urug
- Arya Iwantoro Anak Siapa? Ternyata Ayahnya Eks Sekjen Kementan yang Pernah Diperiksa KPK!
- Usut Kematian Nizam Syafei yang Disiksa Ibu Tiri, Video di Ponsel Korban akan Diperiksa
- 7 Skema Suami Dwi Sasetyaningtyas Kembalikan Dana Beasiswa LPDP
Pilihan
-
Debut Berujung Duka, Pemain Senegal Meninggal Dunia Usai Kolaps di Lapangan
-
Di Tengah Jalan Raya, Massa Polda DIY Gelar Salat Gaib Massal untuk Korban Represi Aparat
-
Massa Aksi di Depan Polda DIY Dibubarkan Paksa oleh Sekelompok Orang Berpakaian Sipil
-
5 Fakta Mencekam Demo di Mapolda DIY: Gerbang Roboh hingga Ledakan Misterius
-
Suasana Mencekam di Depan Polda DIY, Massa Berhamburan Usai Terdengar Ledakan
Terkini
-
Setelah Affan Kurniawan, Pelajar Ini Menyusul Gugur di Tangan Aparat: Kapan Trauma Ini Berakhir?
-
Komisi III DPR RI Sayangkan Guru Honorer di Probolinggo Dipidanakan karena Rangkap Jabatan
-
Kritik Dibungkam atas Nama HAM: Salahkah Rakyat Menentang MBG?
-
Tren Pelihara Kucing Makin Naik, Nutrisi Anabul Jadi Perhatian Utama
-
Jesus Casas Batal Latih Timnas Indonesia Berlabuh ke Klub yang Pernah Repotkan Persib Bandung
-
Suami Dwi Sasetyaningtyas Diprediksi Habiskan Uang LPDP Hampir Rp6 Miliar!
-
Sebut Dakwaan Jaksa Tidak Terbukti, Kerry Riza Minta Pembebasan dan Pengembalian Aset
-
Apakah Makan dan Minum Membatalkan Wudhu? Simak Penjelasan Hukum Fiqihnya
-
Rp986 Miliar vs Rp11 Triliun, Bodo/Glimt Bukti Si Kecil Bisa Menang Besar
-
THR ASN, PPPK, Polisi dan TNI Cair Kapan? Ini Penjelasannya