Lifestyle / Relationship
Sabtu, 15 April 2017 | 08:15 WIB
Ilustrasi pasangan tak harmonis. [shutterstock]

Pang belajar dari pengalaman teman dekatnya setahun yang lalu mengenai jaminan hidup bersama yang saling menguntungkan setelah berpisah.

Awalnya, dia tidak menyangka pengalaman temannya itu dialaminya sendiri. Meskipun dia tidak ingin terperangkap dalam pernikahan tanpa cinta, dia akan tetap berupaya memperoleh apartemen itu.

"Beruntung kami punya tiga kamar tidur. Mungkin hal ini yang membuat kami bisa tinggal satu atap," tuturnya.

Mantan suaminya menyetujui usulan Pang untuk tinggal satu atap walaupun hidup tanpa cinta lagi. Oleh sebab itu, setelah mendapatkan akta cerai, mereka tidur di kamar berbeda walaupun masih dalam satu petak apartemen.

Hal yang sama juga dialami Jack Su (37). Dia bersama istrinya membeli apartemen di Beijing sekitar lima tahun yang lalu. Saat bercerai pada musim panas tahun lalu, mereka tidak punya solusi bagaimana bisa membayar sewa apartemen 10.000 yuan (Rp19,5 juta) per bulan. Padahal tidak satu pun di antara gaji keduannya mencapai angka itu.

"Berbagi tempat tinggal setidaknya menjadi jalan keluar bagi kami," tuturnya.

Su dan mantan istrinya memiliki apartemen dengan satu kamar tidur. Setelah berpisah, Su tinggal di ruang tamu, sedangkan kamar tidur untuk mantan istrinya.

Masalah keuangan juga membebani Xia Sheng, sekretaris berusia 28 tahun, dan mantan suaminya. Pasangan suami-istri itu berpisah beberapa bulan lalu.

Xia dan mantan suaminya menandatangani kontrak apartemen dengan satu kamar tidur setelah merajut ikatan pernikahan lima tahun yang lalu. Sulit baginya untuk tinggal satu apartemen, apalagi tipe studio yang satu kamar itu. Sehingga ketika memutus kontrak, dia harus membayar penalti senilai puluhan ribu yuan kepada pemilik apartemen.

"Memang tidak semuanya buruk untuk tinggal satu atap sampai masa kontrak habis," ujar Xia yang tidak menyesali sedikit pun keputusannya mengakhiri kontrak apartemennya itu meskipun harus menanggung kerugian finansial yang cukup besar agar bisa menjauh dari mantan suaminya.

Pengasuhan anak Pang menyampaikan alasan lain mengenai pilihan tinggal satu atap bersama mantan suaminya itu agar bisa sama-sama merawat putri kesayangan mereka yang masih berusia lima tahun.

Keduanya percaya bahwa perceraian tersebut tidak berdampak negatif terhadap putrinya. "Terlalu dini baginya untuk mengetahui kedua orang tuanya berpisah. Dia masih bisa melihat kedua orang tuanya di rumah," tuturnya.

Hidup satu atap juga membuat pengasuhan terhadap putri tunggalnya itu berjalan mulus. "Kami berdua bisa sama-sama mempersiapkan keperluan sekolah, mengantarkan, dan menjemputnya dari sekolahan," katanya menambahkan.

Pang menganggap mantan suaminya menjadi teman baik layaknya pasangan suami-istri dalam hal memberikan kasih sayang terhadap putrinya.

"Bagi putri kecil kami, memiliki ayah biologis akan merasa aman selama masa pertumbuhannya. Pada saat yang sama, ayahnya dan saya tidak perlu mengalami penderitaan atas perkawinan kami. Saya tidak yakin apakah kami menginginkan perubahan agar bisa mengatasi beban hidup saat ini," ujarnya.

Terkadang, Pang merasa khawatir saat sang putri mulai bertanya, kenapa kedua orang tuanya tidak pernah berpelukan atau ciuman satu sama lain. "Saya telah habis pikir untuk menjelaskannya," ujarnya beterus terang.

Dia dan mantan suaminya memutuskan perpisahan secara baik-baik dan keduanya menganggap sebagai teman biasa sehingga mereka tidak menghadapi persoalan seperti mantan pasangan suami-istri lainnya.

Su, salah satu contoh yang tidak beruntung. Masalah keuangan menjadi ujung pangkal persoalan antara dia dan mantan istrinya.

Saat sudah tidak lagi menjadi teman sekamar, mereka bingung siapa yang membayar asuransi, rekening listrik, dan keperluan lainnya. Oleh sebab itu, mereka memutuskan beban ditanggung masing-masing dalam jumlah yang sama.

Mereka juga menerapkan aturan penggunaan kamar yang berbelit. Sebagai contoh, Su dilarang mencuci piring setelah makan dan mengambil apa pun dari dalam kulkas. Dia harus mengajukan permintaan terlebih dahulu sebelum memakan sesuatu yang tidak dibeli dengan uangnya sendiri.

"Saya berusaha lebih perhatian agar tinggal di rumah lebih mudah dan lebih menyenangkan," ujarnya.

Sisa-sisa emosi atau kemarahan juga masih tampak bagi pasangan yang telah mengakhiri pernikahan mereka, khususnya saat salah satu merasa kecewa.

Xia dan mantan suaminya sempat melakukan kebiasaan lamanya, saling berpelukan saat sama-sama merasakan kesedihan. Keduanya merasa menyesal, namun tidak mudah untuk merajut lagi jalinan cinta kasih yang terkoyak. "Secara bertahap waktulah yang menyembuhkan luka," ujarnya.

Namun Pang yang mengaku punya pilihan sama dengan mantan suaminya bisa merasa nyaman hidup bersama dan saling membantu setelah perceraian.

"Belum tentu ada kesamaan cara pandang dengan teman sekamar yang baru nanti," tuturnya. (Antara)

Tag

Load More