Setengah kasus perceraian disebabkan uang disebutkan dalam acara #BicaraUang di Permata Bank Office, Menara WTC II, Jakarta, Rabu (20/9/2017). (Suara.com/Risna)
Membina rumah tangga merupakan sebuah petualangan yang penuh suka dan duka. Dari beragam permasalahan yang biasa terjadi dalam rumah tangga, masalah keuangan menjadi faktor utama perceraian.
Konsultan keuangan, Andreas Hartono menjabarkan hasil survei mengejutkan, bagaimana uang menjadi dalang dalam pertikaian rumah tangga. Dari hasil survei yang dilakukan oleh WeCan, diketahui jika 65 persen pasangan di Indonesia tidak terbuka dalam masalah keuangan. Akibatnya, 47 persen konflik rumah tangga didominasi oleh masalah finansial dalam keluarga.
"Bahkan 56 persen hasil survei dari Gallup Poll 10 tahun lalu mengatakan jika uang menjadi penyebabkan perceraian utama," kata Andreas dalam acara #BicaraUang di Permata Bank Office, Menara WTC II, Jakarta, Rabu (20/9/2017).
[Baca_Juga
Andreas juga bercerita bagaimana potensi krisis keuangan, paling rawan terjadi ketika baru memasuki masa pernikahan, memiliki anak, dan memasuki masa pensiun. Karenanya, Andreas melihat perlu adanya prinsip pengelolaan keuangan yang baik dari kedua belah pihak. Prinsip tersebut, menurut Andreas adalah benar mengelola keuangan sejak awal, adanya keterbukaan, dan teamwork yang baik dalam mengatur ekonomi domestik rumah tangga.
Untuk itu, Andreas menyarankan pasangan harus membagi peran dalam masalah keuangan. Peran tersebut adalah peran operasional dan peran strategis.
"Peran operasional itu mengatur cashflow atau uang masuk dan keluar, mengatur tabungan dan dana darurat. Tidak selalu perempuan yang bisa. Sementara peran strategis, memiliki tugas mencari pilihan asuransi, investasi, dan pensiun. Jadi dia harus memikirkan strategi ke depan," ungkapnya.
Nah, dalam membagi pengeluaran bulanan, Andreas meminta pasangan untuk konsisten membagi pos-pos pengeluaran dan pastikan casflow selalu positif setiap bulan. Caranya dengan memastikan 10 persen pemasukan menjadi tabungan setiap bulan, 40 persen sebagai kebutuhan sehari-hari termaauk makan dan biaya sekolah anak, 20 persen sebagai jatah rekreasi seperti jalan-jalan dan makan di luar serta 30 persen untuk membayar hutang maupun tagihan.
"Ini ibaratnya seperti aliran darah, ketika tidak normal, maka keuangan akan tidak normal," tandasnya.
Komentar
Berita Terkait
Terpopuler
- Cara Menata Isi Dompet yang Baik Menurut Feng Shui agar Rezeki Lebih Lancar
- Amplop Raja Juli Menyusut SGD2.000, KPK Buka Peluang Periksa Ajudan hingga Kapolres Kuansing
- Contoh Teks Sambutan Ketua RT Malam Tirakatan 17 Agustus yang Singkat, dan Penuh Makna
- Masuk Desil 10 Padahal Penghasilan Pas-pasan? Jangan Panik, Ini Arti dan Penjelasan Resminya
- 4 Rice Cooker Mini Murah yang Cepat Matang dan Hemat Listrik Sesuai Review Pembeli
Pilihan
-
Prabowo: Ojol Sekarang Dapat 92 Persen Hasil Kerja, Pendapatannya Naik 3 Kali Lipat
-
Hadiri Sidang Tahunan, Intip Gaya Prabowo dan Gibran saat Tiba di Gedung Parlemen Senayan
-
Kampung Bahari Memanas! Massa Lawan BNN dan Brimob Pakai Petasan saat Gerebek Narkoba
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
Terkini
-
Modal Foto AI Berseragam Polisi, Pria di Bandung Tipu Korban dan Bawa Lari Uang
-
Insentif Guru Ngaji di Bogor Jadi Rp1,2 Juta per Tahun
-
Jaga Gajah Sumatera, Pertamina Kilang Plaju Perkuat Upaya Melestarikan Warisan Alam Sumsel
-
Temukan 1.500 Warga Terjebak Grup LGBT Daring, Pemkab Serang Siapkan Langkah Pembinaan
-
Bank Sumsel Babel dan Unsri Bersinergi Menyiapkan Generasi Pemimpin Masa Depan
-
Havaianas Debut Kitten Heel di Copenhagen Fashion Week
-
Perombakan Buku Sekolah, Solusi Literasi atau Cuma Proyek Bisnis Baru?
-
Filosofi Baru Oscar Bruzon Mulai Menggila, Pemain Bhayangkara FC Dipaksa Beradaptasi
-
Polda DIY Tetapkan Tiga Tersangka Kasus Pembubaran Ibadah Gereja di Bantul
-
Puji Target Defisit Turun di RAPBN 2027, Habib Idrus Tetap Minta Keberpihakan pada Usaha Kecil