Suara.com - Memakai gaun malam yang elegan dan tatanan rambut serta make up yang sempurna, Maria Diaz terlihat seperti kontestan kontes kecantikan lain, kecuali kursi roda yang sudah dipakainya 10 tahun lalu. Maria adalah satu dari 24 perempuan muda yang berkumpul di Warsawa pada hari Sabtu untuk memperebutkan gelar Miss Wheelchair World pertama.
"Tidak masalah siapa yang mendapat mahkota. Kami semua adalah pemenang," kata petenis asal Chili berusia 28 tahun, yang merupakan pemain tenis kursi roda profesional.
"Ini kesempatan pertama kami untuk menunjukkan kepada dunia bahwa kami dapat melakukan apapun yang kami inginkan," sambungnya.
Mahasiswa psikologi dan pedagogi Belarusia, Aleksandra Chichikova meraih gelar sebagai Putri Kursi Roda Sedunia yang digelar di sebuah gala malam di Ibu Kota Polandia.
Para kontestan menampilkan diri dalam kostum nasional, koktail, dan gaun malam. Mereka juga menampilkan tarian, beberapa dengan menggerakkan kursi roda mereka sendiri, sementara yang lain dibantu asisten.
Kebanyakan dari para kontestan membicarakan pengalaman pribadi mereka, termasuk tantangan hidup di kursi roda.
Kati van der Hoeven dari Finlandia hanya bisa berbicara dengan suaminya dengan menggerakkan murid-muridnya, sementara Mirande Bakker dari Belanda merupakan korban malapraktek seorang dokter.
Petugas kinesioterapis Polandia, Beata Jalocha telah berada di kursi roda sejak 2013 saat sebuah jumper bunuh diri mendarat di tubuhnya.
"Ini merupakan inisiatif pertama dari jenisnya di dunia," kata presiden Miss Wheelchair World, Katarzyna Wojtaszek-Ginalska kepada AFP.
Tujuannya adalah untuk, "Mengubah citra perempuan di kursi roda, sehingga mereka tidak akan dinilai hanya oleh kecacatan mereka", tambah perempuan cacat berusia 36 tahun itu.
Wojtaszek-Ginalska adalah kepala Yayasan Satu-Satunya, yang telah menyelenggarakan kontes ini dengan pengalaman dari pementasan kecantikan Polandia untuk orang-orang cacat.
"Bukan penampilan yang paling penting," kata Wojtaszek-Ginalska.
"Tentu saja, terlihat bagus, tapi kami fokus terutama pada kepribadian anak-anak, aktivitas keseharian mereka," lanjutnya.
Tujuan lain adalah untuk menunjukkan bahwa kursi roda merupakan kemewahan di banyak belahan dunia.
"Ini adalah ungkapan umum tentang wanita cacat yang tidak kami tanyakan untuk menjadi cacat, bahwa dengan senang hati kami akan menyingkirkan cacat kami, sehingga kami ingin dianggap orang biasa," paparnya.
"Tentu kita duduk di kursi roda, tapi itu takdir yang bisa menimpa siapa saja, kapan saja," tandasnya. (Asiaone)
Berita Terkait
Terpopuler
- Mengenal Lisda Cancer, Perwira Tinggi Polri yang Pensiun Tak Lama Usai Jadi Brigjen
- Pelatih FC Twente Usir Mees Hilgers: Saya Tak Berharap Dia Kembali ke Klub!
- PIP Termin II 2026 Kapan Cair? Ini Jadwal Lengkap dan Cara Ceknya agar Dana Tidak Hangus!
- Skenario Timnas Indonesia Jika Imbang atau Kalah dari Vietnam di Piala AFF 2026
- Sunscreen Apa yang Bagus untuk Menghilangkan Flek Hitam di Wajah? Ini 3 Rekomendasi sesuai Review
Pilihan
-
Aktris Sali Irsalina Dianiaya Pacar di Fatmawati, Mata Lebam Hingga Diselamatkan Polantas
-
Dipilih Lewat Seleksi Ketat, Bank Dunia Kembali Tunjuk Sri Mulyani Duduki Jabatan Strategis
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
Terkini
-
Kesan Singkat Berkendara Isuzu Traga AC yang Kini Dilengkapi Fitur Isuzu Link
-
Di Mana Beli Bendera Merah Putih Ukuran Besar? Ini Rekomendasi Tempat dan Kisaran Harganya
-
4 Shio Beruntung Hari Ini 6 Agustus 2026, Terhindar dari Kesepian dan Kesulitan
-
12 Ramalan Zodiak Hari Ini 6 Agustus 2026: Leo dan Libra Beruntung, Capricorn Waspada Konflik
-
Karhutla Memanas, Kabut Asap Selimuti Kota Palembang
-
Menyoal PHK 178 Buruh Garmen di Cimahi, Dedi Mulyadi Minta Pekerja Fleksibel Ikuti Peta Industri
-
Kronologi Misteri Jasad Mutilasi dalam Karung di Pancoran Mas Depok
-
Final Piala Presiden 2026 Antara Persib vs Persebaya Digelar Tanpa Penonton, Ini Alasannya
-
Potongan Kaki Masih Dicari, Polisi Buru Motif Pelaku Mutilasi Pria Tanpa Identitas di Depok
-
Lawan Kejagung dan Polri, Sidang Perdana Praperadilan Febrie Digelar Usai HUT RI