Suara.com - Beberapa tahun lalu, lurik, kain bermotif garis yang dibuat dengan proses penenunan secara tradisional, mungkin belumlah sepopuler saat ini.
Kain khas tanah Jawa ini kerap digunakan sebagai pakaian sehari-hari masyarakatnya, mulai dari kemben, kebaya, hingga gendongan.
Namun pada 2011, melalui tangan seorang desainer Lulu Lutfi Labibi, lurik seakan 'naik kelas' dan bertransformasi menjadi busana yang modern dan kasual.
"Lurik punya banyak keistimewaan. Motifnya yang menggambarkan kesederhanaan, membuat orang melihat lurik sangat membumi. Lurik juga dipakai siapapun, mulai dari Keraton sampai supir andong. Dalam artian seperti tidak memilah-milih siapa yang mau memakainya," ungkapnya kepada suara.com, beberapa waktu lalu.
Saat itulah, desainer yang mengawali kariernya sejak 2005 ini juga mengenalkan gaya drapping atau lipatan sebagai ciri khas dalam karya-karyanya. Lulu memainkan desainnya dengan tali, kain tersebut dililit, diikat dan ditumpuk menjadi tampilan yang unik.
Lelaki kelahiran Banyumas, Jawa Tengah ini mengatakan, gaya drapping sengaja dipilih agar setiap orang yang memakai koleksinya bisa mengkreasikan sendiri busana yang sesuai keinginan dan karakter mereka.
"Aku berharap, si pemakai baju Lulu tidak didikte dengan tren. Aku makanya kasih banyak pilihan. Misalnya ini outer-nya, ini bawahannya. Karena apa? Karena aku ngerasa kalian harus pakai sesuai dengan karakter. Jangan didikte oleh tren, jangan didikte oleh orang-orang yang sudah pake sebelumnya," tambah dia lagi.
Tak heran, jika di tahun tersebut, desainer lulusan Institut Seni Indonesia, Yogyakarta tersebut memenangkan juara pertama Lomba Perancang Mode (LPM). Dengan usaha dan semangat, Lulu akhirnya berhasil memadukan batik kontemporer, lurik Yogyakarta hingga sarung goyor Klaten pada rancangannya.
Ia pun berkesempatan mendapatkan beasiswa selama tiga bulan untuk belajar di The Fashion Institute of Design & Merchandising, Los Angeles, Amerika Serikat. Melalui proses inilah, kini Lulu dan kain lurik seakan menjadi dua hal yang tak terpisahkan.
Dalam menciptakan kain-kain lurik, yang sesuai dengan kebutuhan rancangannya, saat ini Lulu bekerja sama dengan para pengrajin yang tersebar di beberapa daerah di Klaten, Jawa Tengah. Hingga saat ini, kata dia, jumlahnya mencapai 80an pengrajin.
Sayangnya, kata Lulu, semakin hari, para pengrajin lurik semakin sedikit dan masih didominasi oleh lanjut usia (lansia). Hal ini menimbulkan keprihatinan sendiri bagi Lulu.
"Aku ngerasa semakin ke sini, pengrajin lurik yang ATBM semakin sedikit. Kayanya kalau kita nggak pakai karya mereka, 2-3 tahun ke depan bisa jadi udah punah. Karena bayangin sekarang yang nenun tuh udah tua-tua banget. Usianya 70, 80 bahkan ada yang 85 tahun," jelasnya panjang lebar.
Selain terus memberikan lapangan pekerjaan bagi pengrajin, dengan menggunakan kain-kain lurik tersebut untuk rancangannya, Lulu juga kerap berkolaborasi dengan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) untuk membantu proses regenerasi pada pengrajin.
Salah satunya seperti yang dilakukan bersama SMKN 2 Gedangsari, di mana Lulu berbagi pengetahuan tentang lurik dan mengembangkan banyak motif batik ciri khas Gedangsari.
"Setelah di kroscek ya, memang sih upah untuk pengrajin sangat kecil. Ada banyak rantai yang sebenarnya harus diperbaiki, di mana harusnya dari pihak pengrajin sendiri, mereka bisa menjual dengan harga yang sepantasnya. Itu sih harus dibenerin ya," tambah dia.
Meski namanya sudah melambung hingga ke mancanegara, desainer yang menetap di Yogyakarta ini tetaplah menjadi sosok yang rendah hati. Menurutnya karier go international bukanlah tujuan utama.
"Go international tuh bukan goal ya sebenernya. Tapi lebih ke bagaimana pada akhirnya aku mengenalkan busana Indonesia keluar, menurut aku sih itu lebih bijaksana. Artinya, ketika mereka menjadi tahu bahwa lurik dan batik itu dikerjakan sedemikian susah dan lamanya dan mereka mengamini, itulah tujuanku," tutup dia penuh harap.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Rekomendasi Serum Malam untuk Hempas Flek Hitam Usia 50 Tahun ke Atas
- Kecil tapi Lega: Hatchback Bermesin Avanza Kini Cuma 50 Jutaan, Makin Layak Dilirik?
- Promo JCO Mei 2026, Paket Hemat Donat dan Kopi yang Sayang Dilewatkan
- Work to Run: 5 Sepatu Lari Hitam Polos yang Tetap Rapi di Kantor dan Nyaman Dipakai Lari
- 5 HP Redmi RAM 8 GB Memori 256 GB Termurah di Bawah Rp1,5 Juta, Spek Juara
Pilihan
-
Bejatnya Kiai Cabul Ashari di Pati: Ngaku Keturunan Nabi hingga Istri Orang Bebas Dicium
-
Mengungkap Jejak Pelarian Kiai Cabul Pati: Terendus Ritual di Kudus, Kini Raib Bak Ditelan Bumi
-
Diterpa Kontroversi dan Dilaporkan ke Bareskrim Terkait Ceramah JK, Ade Armando Mundur dari PSI
-
Lolos Blokade AS! Kapal Tanker Iran Rp 3,8 T Menuju Riau, Kemlu RI: Tak Langgar Hukum
-
Kapal Perang AS Dihantam 2 Rudal karena Coba Masuk Selat Hormuz, Klaim Iran
Terkini
-
5 Sepatu Running Lokal Rp200 Ribuan Terbaik, Kualitas Juara Bukan Barang Abal-abal
-
4 Rekomendasi Bedak Padat Translucent yang Ringan dan Bikin Makeup Flawless
-
4 Zodiak Paling Beruntung 6 Mei 2026: Siap-siap Uang Bertambah dan Cinta Bersemi
-
Cushion Barenbliss Harga Berapa? Ini Update Terbaru dan 3 Rekomendasinya
-
Apa Beda Undertone dan Skintone? Kunci agar Tak Salah Pilih Makeup hingga Pakaian
-
5 Sifat Orang yang Lahir di Bulan Mei, Tenang tapi Penuh Keteguhan
-
Achmad Zaky Dorong Pertukaran Pelajar IndonesiaMalaysia: Pendidikan adalah Investasi Terbesar
-
7 Parfum Lokal Wangi Segar Seperti Habis Mandi, Tetap Clean Meski Cuaca Panas Ekstrem
-
Fungsional dan Eco-Friendly, VIVAIA Hadirkan Koleksi Kolaborasi dengan Seniman Prancis
-
5 Rekomendasi Sepatu Running Lokal Wanita, Ringan dan Terjangkau untuk Lari