Suara.com - Masyarakat Indonesia tengah dihebohkan dengan kasus pembunuhan sadis terhadap perempuan bernama Laura yang mayatnya ditemukan terdampar di Pantai Karang Serang, Banten.
Meski masih dalam penyelidikan aparat, diduga kuat pelaku pembunuhan Laura adalah calon suaminya sendiri, Stevanus.
Keduanya diberitakan baru saja menjalani prosesi pemotretan pranikah dan akan segera naik ke pelaminan untuk mengucap janji suci sehidup semati pada Agustus mendatang.
Namun janji tinggal janji, Stevanus gelap mata dan membunuh calon mempelai perempuannya sendiri sesaat setelah melangsungkan sesi pemotretan pranikah.
Terlepas dari masalah apa yang menimpa keduanya hingga berakhir tragis, seorang psikolog klinis lulusan Universitas Indonesia, Ajeng Raviando mengatakan bahwa detik-detik menjelang pernikahan merupakan masa krusial yang rentan terjadi cekcok pada pasangan.
"Masa-masa tersebut juga menjadi salah satu faktor yang membuat kita mempertanyakan apakah kita cocok (langgeng) atau tidak dengan pasangan," kata Ajeng kepada Suara.com belum lama ini.
Ia menuturkan, biasanya perempuan akan lebih disibukkan dengan persiapan pernikahan sementara laki-laki lebih banyak menghabiskan waktu berpikir tentang bagaimana kehidupan setelah menikah.
"Ini yang membuat mudah konflik. Si perempuan pun yang biasanya lebih banyak mempersiapkan pernikahan, akan merasa kesal bila si lelaki tidak peduli," imbuh Ajeng.
Rasa kesal bisa muncul apabila salah satu pasangan terlalu pasif, terlalu menekan keinginan atau bahkan adanya masalah uang yang belum selesai.
Baca Juga: Dorong Investasi Digital, 2 Aturan Ini Dilonggarkan
"Belum lagi masalah uang. Makin lama, makin memuncak dan akan menimbulkan keributan," tambah Ajeng.
Padahal, menurut dia, esensi dari pernikahan adalah adanya komunikasi yang baik antara kedua belah pihak. Untuk itu, Ajeng sangat menekankan perlunya persiapan matang secara mental ketika pasangan berencana melanjutkan ke jenjang yang lebih serius.
"Apapun yang dirasa tidak enak, mengganjal, bicarakan. Tidak bisa habis menikah baru dibicarakan, karena pasti ada yang merasa disakiti," terangnya.
Namun untuk perkara main bunuh seperti yang dilakukan Stevanus pada calon pasangannya sendiri, Ajeng enggan berkomentar lebih jauh.
"Kalau sampai begitu (pembunuhan), banyak alasan. Bisa saja secara psikologis si pelaku cenderung menyukai kekerasan," tutupnya
Berita Terkait
Terpopuler
- TNI Mau Ambil Alih Kamtibmas? TB Hasanuddin: Itu Tugas Polri
- Cara Menata Isi Dompet yang Baik Menurut Feng Shui agar Rezeki Lebih Lancar
- 6 Tanda-Tanda Rumah Memiliki Energi Positif Chi yang Membuat Penghuni Tenang
- 5 Sunscreen untuk Flek Hitam Usia 30 Tahun ke Atas Sesuai Review dan Harga
- Media Italia Sebut Jay Idzes Masuk Radar PSG: Transfer Mewah untuk Sassuolo
Pilihan
-
Hadiri Sidang Tahunan, Intip Gaya Prabowo dan Gibran saat Tiba di Gedung Parlemen Senayan
-
Kampung Bahari Memanas! Massa Lawan BNN dan Brimob Pakai Petasan saat Gerebek Narkoba
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
Terkini
-
MDKA Tambah Kepemilikan EMAS, Saham Tembus 64%
-
Bli Nyoman, Sosok Penggerak Desa Sejahtera Astra di Desa Les, Buleleng Bali
-
4 Cushion Waterproof untuk Makeup 17 Agustus, Anti Luntur Meski Terkena Keringat
-
Pemicu Konflik Anak Tuha Versi Kapolres Lampung Tengah
-
81 Tahun Indonesia Merdeka, Masih Ada Keluarga Harus Pilih Antara Makan atau Berobat
-
4 Contoh Teks Sambutan Ketua Panitia 17 Agustus yang Ringkas dan Santai tapi Tetap Sopan
-
Hari Pramuka ke-65, Gubernur Khofifah Ajak Pramuka Jatim Jadi Penggerak Swasembada Pangan
-
Pekan Depan, Amerika Serikat Umumkan Sanksi Baru untuk Iran yang Belum Pernah Ada
-
Prabowo Siapkan Kejutan di Pidato Kenegaraan, Masyarakat Diminta Simak hingga Tuntas
-
7 Cara Menetralkan Energi Negatif Rumah Tusuk Sate dengan Elemen Dekorasi Sesuai Feng Shui