Suara.com - Sebagai salah satu gerakan seni paling berpengaruh di abad ke-20, Minimalisme menawarkan cara baru untuk menikmati sebuah pameran seni. Daripada merujuk pada dunia luar, bentuknya yang sederhana mengundang kita untuk merenungkan apa yang secara fisik hadir di hadapan kita pada saat ini.
Pergeseran mendasar ini terinspirasi oleh pertanyaan tentang peran seni selama 1960-an di tengah perubahan sosial yang besar. Hal tersebut memacu pencarian bentuk-bentuk kesadaran baru, dengan inspirasi penting termasuk spiritualitas Asia seperti Buddhisme Zen dan I Ching, serta munculnya gagasan tentang persepsi.
Minimalisme berkontribusi pada transformasi para seniman dalam menggunakan bahan dan ruang pada karya-karyanya, dan bagaimana mereka melibatkan para pengunjung. Hal ini telah menjadi dasar untuk pengembangan bentuk seni kontemporer termasuk instalasi dan juga seni pertunjukan.
Dr. Eugene Tan, Direktur Galeri Nasional Singapura, mengatakan, meskipun Minimalisme memiliki dampak yang signifikan terhadap desain dan gaya hidup kontemporer di Asia, namun hubungannya dengan seni di wilayah ini masih kurang dipahami.
“Dengan begitu, pameran ini akan menguji hubungan antara Minimalisme dengan seni di Asia, serta pengaruhnya akan spiritualitas dan filosofi di Asia, merujuk pada asal-usul sejarahnya. Dengan demikian, pameran ini akan mengevaluasi kembali pemahaman yang diterima oleh Minimalisme sebagai pengembangan paradigma Euro-Amerika pada landasan modernisme dalam praktik formalis,” ungkap Eugene Tan melalui siaran pers yang diterima Suara.com.
Ia menambahkan, pameran ini juga akan meneliti lebih jauh koneksi dan warisan yang telah dimiliki oleh para seniman kontemporer saat ini. Hal ini sesuai dengan perspektif seni modern yang dimiliki oleh Galeri Nasional Singapura sebagai fenomena global yang dihasilkan dari perkembangan yang kompleks dan saling terkait keseluruhan yang terjadi di seluruh dunia.
Pameran ini menampilkan sekitar 150 karya seni oleh lebih dari 80 seniman dan 40 komposer yang mencakup dua lokasi pameran berbeda. Pengunjung dapat menelusuri perkembangan dan warisan yang kaya dari seni dan gagasan Minimalis dari tahun 1950 hingga saat ini di Galeri Nasional Singapura, sebelum menggali aspek-aspek kunci dari kecenderungan artistik termasuk warna dan spiritualitas di ArtScience Museum.
“Pameran ini juga akan menjelaskan keterlibatan berkelanjutan dari seni Minimalisme dengan seni dan filosofi Asia, serta kontribusi seniman Asia ke wacana yang lebih luas terkait Minimalisme,” sambungnya.
Pameran yang terletak di ArtScience Museum di Marina Bay Sands, Minimalism: Space. Light. Object ini dibuka untuk umum mulai dari tanggal 16 November 2018 hingga 14 April 2019. Pameran yang berlangsung selama lima bulan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Feng Shui Warna Cat Rumah Pembawa Keberuntungan Berdasarkan Shio
- 4 Sepatu Lari Skechers yang Empuk untuk Jogging hingga Long Run Sesuai Review Pembeli
- Pemain Timnas Terlibat? 3 Kejanggalan Dugaan Pengaturan Skor Piala AFF 2026
- 5 Rice Cooker Murah untuk Keluarga Kecil, Hemat Listrik dan Awet
- 4 Shio yang Diprediksi Nasibnya Makin Baik pada 15 Agustus 2026, Siapa Saja?
Pilihan
-
Gempa 6,4M Guncang Sumatera Utara sampai Sumbar
-
Masih Banyak Warga NTT Terjebak di Bawah Reruntuhan Bangunan, 2000 Orang Mengungsi
-
Info Terbaru Gempa NTT: 15 Warga Manggarai Tewas, 280 Bangunan Jadi Puing
-
5 Bandara Rusak Diguncang Gempa NTT, Landasan Pacu Sampai Retak
-
Pesona Masjid Pancasila Kediri: Sederhana di Luar, Bikin Pangling di Dalam
Terkini
-
Apa Penyebab Kulit Kering di Sekitar Mulut? Begini Cara Mengatasinya
-
Ada Pesta Rakyat hingga Kirab Bendera di Jakarta, Belasan Ribu Personel Dikerahkan saat HUT ke-81 RI
-
Apa Arti Dirgahayu? Ini Cara Penulisan yang Benar untuk Ucapan HUT RI
-
itel VistaTab 30 Pro: Tablet Layar 13 Inci dengan Baterai 10.000 mAh dan Bonus Keyboard
-
Upacara Penurunan Bendera Dimulai Jam Berapa? Ini Jadwal HUT RI ke-81 pada 17 Agustus 2026
-
Suasana Khidmat Tengah Malam: Momen Presiden Prabowo Mengheningkan Cipta di Depan Makam Pahlawan
-
Profil Kolonel Inf Priyo Handoyo, Komandan Upacara HUT ke-81 RI di Istana Negara
-
Jejak Konsep Proklamasi yang Musnah Dibakar di Rumah Sejarah Rengasdengklok
-
Antara Cinta dan Realita: Mengapa Menjauh dari Indonesia Jadi Pilihan untuk Bertahan Hidup?
-
Profil Julita Rista Lestari, Pemimpin Upacara HUT ke-81 Kemerdekaan RI