Suara.com - Di tengah dunia seni pertunjukan yang kerap dianggap bebas tanpa batas, Teater Jaran Abang justru memilih membangun ruang kreatif yang menempatkan etika dan kenyamanan anggota sebagai hal utama.
Founder sekaligus ketua Teater Jaran Abang, Inggit Muhammad, mengatakan komunitasnya berusaha menjaga keseimbangan antara nilai etika dan estetika dalam setiap proses produksi.
“Di Jaran Abang, kami punya dua nilai yang dijaga keseimbangannya, yaitu etika dan estetika,” ujar Inggit.
Bagi mereka, pertunjukan yang indah tidak boleh lahir dari rasa terpaksa atau ketidaknyamanan para pemainnya. Karena itu, sebelum produksi dimulai, sutradara dan pemain selalu berdiskusi secara terbuka terkait peran, kostum, hingga batas kenyamanan masing-masing anggota.
Mayoritas anggota Teater Jaran Abang merupakan perempuan. Karena itu, komunitas ini berupaya menciptakan ruang kreatif yang lebih aman dan inklusif.
“Kami selalu memberikan ruang bagi mereka untuk terus tumbuh, tapi etikanya juga harus bagus,” katanya.
Hal itu juga diterapkan dalam pemilihan kostum panggung. Untuk anggota yang berhijab, misalnya, tim produksi tidak memaksakan konsep visual yang bertentangan dengan prinsip pribadi mereka. Sebagai gantinya, tim kostum akan mencari alternatif busana yang tetap nyaman dipakai tanpa menghilangkan nilai artistik pertunjukan.
Menurut Inggit, seni seharusnya tidak membuat seseorang kehilangan dirinya sendiri demi tuntutan estetika panggung.
“Ketika seseorang bisa menyeimbangkan etika dan estetika, maka dia akan menjadi manusia yang utuh,” tuturnya.
Melalui pendekatan tersebut, Teater Jaran Abang ingin menunjukkan bahwa panggung seni juga bisa menjadi ruang yang aman, hangat, dan inklusif tanpa harus mengorbankan kualitas artistik pertunjukan.
Datang dari Berbagai Sisi
Teater Jaran Abang juga menerapkan budaya saling menghargai bagi anggota yang berasal dari latar belakang daerah dan budaya yang berbeda. Komunitas ini diisi mahasiswa dari berbagai wilayah, mulai dari Sumatra, Kalimantan, hingga Papua.
Founder Teater Jaran Abang, Inggit Muhammad, mengatakan komunitasnya berupaya menjadi ruang kultural yang setara. Di satu sisi, para anggota dikenalkan pada budaya Jawa sebagai lingkungan tempat mereka berkarya. Namun di sisi lain, anggota dari luar daerah juga diberi ruang untuk berbagi budaya asal mereka.
Baca Juga: Dollar Perkasa, Kreativitas Berjaya: Mencari Cuan di Balik Rupiah Rp17.500
Bagi Jaran Abang, proses kreatif teater tidak hanya soal menghasilkan pertunjukan yang indah, tetapi juga membangun hubungan yang sehat antarmanusia di balik panggung.
Komunitas ini meyakini kualitas seorang seniman tidak hanya dilihat dari karya yang memukau secara visual, tetapi juga dari cara mereka memperlakukan orang lain selama proses produksi berlangsung.
Menurut Inggit, keseimbangan antara etika dan estetika menjadi hal yang penting dalam dunia seni pertunjukan. Tanpa etika, karya seni dinilai hanya akan menjadi tontonan yang kosong dan egois.
Pandangan tersebut sekaligus menjadi kritik terhadap ekosistem seni yang terkadang mengabaikan kenyamanan, hak, hingga latar belakang para pelaku seni demi memenuhi idealisme kreator atau sutradara.
Di Teater Jaran Abang, latihan dan proses produksi justru dijadikan ruang pembelajaran sosial bagi anak muda. Mereka ingin membentuk generasi yang tidak hanya mampu menciptakan karya artistik, tetapi juga memiliki empati dan tanggung jawab sosial.
“Harapannya, Jaran Abang bisa jadi komunitas yang konsisten, membantu banyak orang, memfasilitasi anak muda, dan bisa menghidupi kami sendiri maupun lingkungan sekitar,” pungkas Inggit.
Penulis: Vicka Rumanti
Berita Terkait
Terpopuler
- Feng Shui Warna Cat Rumah Pembawa Keberuntungan Berdasarkan Shio
- Debitur Dikejar Utang, Yasonna Laoly Minta PPATK Telusuri Sumber Dana Pinjol
- Apa Itu IKD dan Kenapa Wajib Memilikinya?
- 5 Rice Cooker Murah untuk Keluarga Kecil, Hemat Listrik dan Awet
- HP RAM 16 GB Berapa Harganya? Ini 5 Pilihan Termurah dengan Performa Ngebut
Pilihan
-
Pernyataan Prabowo Soal Gaji Pengupas Bawang Dipertanyakan, Keluarga Susanah: Itu Salah
-
Prabowo Sebut Upah Kupas Bawang Rp700 Ribu per Kg, Emak-emak Bogor Tertawa: Sini Cuma Rp1.200
-
Prabowo Salah! Upah Susanah Bukan Rp 700 Ribu Tapi Rp 700 Perak per Kilogram
-
Gempa 6,4M Guncang Sumatera Utara sampai Sumbar
-
Masih Banyak Warga NTT Terjebak di Bawah Reruntuhan Bangunan, 2000 Orang Mengungsi
Terkini
-
Semarak 'Ngahias Lembur' di Cibadak: Ketika Seni Sunda, Kekompakan Warga dan Rasa Haru Menyatu
-
Upacara 17 Agustus di Belitung Digelar Tanpa Tenda, Pejabat dan Warga Kepanasan Bersama
-
Semarak Kemerdekaan, Warna Merah Putih Hadir di Ruang Publik dan Kampung Nelayan
-
Viral Siswa SMKN 2 Palembang Dikeroyok, Benarkah Dipicu Tawuran Antarpelajar?
-
10.910 Warga Binaan di Sumsel Terima Remisi HUT RI, Ratusan Langsung Bebas
-
Turnamen Dikemas Lebih Berbeda, Ratusan Pemain Bakal Adu Kekuatan Tenis Meja
-
Gempa Flores Disusul Dua Gempa Besar di Sumatra dan Sulawesi, Benarkah Gempa Menjalar?
-
175 Perahu Bakal Ramaikan Festival Pacu Jalur 2026 Kuansing, Berikut Daftarnya
-
Merdeka dari Penjajah, Tapi Belum Merdeka dari Amarah: Mengapa Masyarakat Masih Suka Menghakimi?
-
Sebanyak 86 Persen BTS yang Rusak Akibat Gempa Flores Sudah Beroperasi Lagi