Lifestyle / Food & Travel
Kamis, 01 Agustus 2019 | 18:30 WIB
(Wikimedia Commons Nola Yudistira)

Mencicipi es legendaris ini kita harus menyambangi gerai yang terletak di Jalan Zainul Arifin Nomor 35, Malang.

Es Campur Pak Djoni di Semarang

Menyambangi Semarang, Jawa Tengah tak lengkap rasanya jika belum menikmati seporsi Es Campur Pak Djoni nan melegenda.

Dijajakan tepat di depan Universitas PGRI Semarang (UPGRIS), gerai Es Campur Pak Djoni beroperasi sejak tahun 1976.

Selain bakso sapi dan bakso jumbo isi telurnya nan menggugah, es campur merupakan salah satu menu andalan warung yang membentang di Jl. Sidodari Timur, Karangtempel, Semarang tersebut.

(Instagram Anak Jajan Semarang)

Seporsi Es Campur Pak Djoni, disuguhkan bersama potongan kelapa muda, irisan nangka, alpukat, melon, cincau, tape singkong hingga potongan roti tawar yang menambah kepadatan menu istimewa ini.

Sajian ini kian sempurna dengan baluran sirup, es serut dan susu kental manis nan segar.

Tak heran, Es Campur Pak Djoni kerap jadi menu pamungkas pelepas dahaga andalan mahasiswa UPGRIS dan masyarakat sekitar.

Es Dawet Jembut Kecabut di Purworejo

Menyambangi Kabupaten Purworejo di Jawa Tengah tak lengkap rasanya jika belum menyeruput minuman legendaris, Es Dawet Jembut Kecabut.

Penamaannya nan nyeleneh merupakan singkatan nama lokasi dawet khas ini dijajakan yakni tepat di sebelah timur Jembut (Jembatan Butuh) di kawasan Kecabut (Kecamatan Butuh).

Nama yang dibaptiskan dan terkenal di kalangan penggemarnya ini sesungguhnya bukanlah nama yang dikehendaki sang penjual, sebab di lokasi hanya papan bertuliskan Dawet Hitam Asli Pak Wagiman Butuh yang dapat kita lihat. 

Namun penamaan nan nyeleneh tersebut kadung lebih viral dan membuat lebih banyak orang penasaran dengan kelezatan dawet legendaris ini.

(Instagram Helmy Hananto)

Dawet hitam legendaris Jembut Kecabut telah disajikan turun-temurun sejak tahun 1950-an.

Saat itu, sang pencetus, Ahmad Dansri awalnya menjual dawet hitam racikannya untuk para petani tatkala musim panen tiba. Ia bergerak dari sawah satu ke sawah lainnya di Purworejo.

Hari ini warisan Ahmad Dansri diteruskan generasi ketiganya, Wagiman dan sang istri, Hartati. Mereka menjajakan dawet legendaris tersebut nyaris setiap hari di tepi jalan Purworejo - Kebumen di Kecamatan Butuh, persisnya di sebelah timur Jembatan Butuh.

(Instagram Anggoro Wati Eny)

Terbuat dari bahan alami, tanpa pewarna buatan sama sekali, Dawet Jembut Kecabut nan legendaris diolah manual menggunakan tangan.

Warna hitam dawetnya diambil dari pewarna alami berupa jerami padi yang dibakar terlebih dahulu lantas abunya dihaluskan dan disaring.

Sementara cendol dalam dawetnya terbuat dari tepung pati gelang yang direbus sembari diaduk menjelma adonan nan kental.

(Instagram Veta Mandra)

Untuk mencicipi seporsi sajian legendaris, Dawet Jembut Kecabut dibanderol dengan harga yang sangat murah, yakni Rp 4000 saja.

Kita juga dapat menambah topping tambahan berupa tape ketan dan hanya dikenakan charge sebesar Rp 1000. Murah banget kan!

Load More