Suara.com - Bagi sebagian orang mungkin sudah tidak asing lagi dengan istilah wisata kuliner. Wisata kuliner sudah menjadi aktivitas wajib yang dilakukan oleh sebagian masyarakat saat berkunjung ke suatu daerah atau negara.
Itu dilakukan atas banyak dasar mulai dari kegemaran atau sekadar penasaran untuk mencicipi menu masakan khas dari daerah yang di kunjungi.
Namun tahu kah Anda, selain wisata kuliner, dalam beberapa tahun terakhir ini telah berkembang istilah wisata gastronomi? Meskipun keduanya sama-sama masuk dalam dunia makanan, namun keduanya memiliki arti yang berbeda.
Vice President Indonesian Gastronomy Association, Ria Musiawan mengatakan masih banyak masyarakat yang belum memahami bahwa wisata kuliner dan wisata gastronomi memiliki pemahaman dan arti yang berbeda.
Ria menjelaskan, wisata kuliner hanya fokus kepada proses memasak hingga proses penyajiannya. Sedangkan untuk gastronomi lebih dari itu.
Gastronomi menekankan pada nilai sejarah dan kearifan dari setiap makanan yang ada. Selain itu, gastronomi juga lebih fokus memberitahukan nilai gizi dari makanan tersebut.
“Jadi lebih ke historinya ya dan nilai gizinya seperti apa dari setiap makanan yang disajikan. Kalau kuliner kan hanya soal proses memasak saja. Gastronomi kita mempelajari sejarahnya,” kata Ria, Kamis (8/4/2021).
Ia pun bercerita, belum lama ini Indonesia Gastronomy Association menyelenggarakan pameran makanan dari hasil gastronomi. Di mana ia membuat sebuah makanan dari abad ke 7 dan 8. Selain itu para anggota IGA membuat makanan yang ada di relief Candi Borobudur.
“Kita buat sekitar 104 jenis makanan ya dari relief Candi Borobudur. Disitu kan (Direlief Candi Borobudur) ada gambar makanan yang disajikan seperti lele, terus ada kerbau dan kambing. Nah kita buat, kita cari tahu bumbunya zaman dulu tuh seperti apa, karena kan di relief tersebut gak ada resepnya kan,” ujarnya.
Baca Juga: Terlalu Nikmat, Pria Ini Habiskan Rp82 Ribu di Warung Nasi Uduk Legendaris
Dari kegiatan tersebut, IGA mendapati bahwa zaman dulu untuk mendapatkan rasa pedas bukan bersumber dari cabai, melainkan merica.
“Jadi nyebutnya zaman dulu itu cabai jawa. Jadi bentuknya kayak biji merica itu. Terus banyak makanan zaman dulu seperti kambing yang mau disajikan harus yang sudah disteril."
"Kenapa, ternyata dagingnya lebih empuk, itu biasanya disajikan untuk makanan raja. Dan memberikan cita rasa yang lebih manis. Jadi gastrtonomi bukan hanya membelajari bumbunya saja tapi proses memasaknya juga," imbuhnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Mengenal Lisda Cancer, Perwira Tinggi Polri yang Pensiun Tak Lama Usai Jadi Brigjen
- Skenario Timnas Indonesia Jika Imbang atau Kalah dari Vietnam di Piala AFF 2026
- Sunscreen Apa yang Bagus untuk Menghilangkan Flek Hitam di Wajah? Ini 3 Rekomendasi sesuai Review
- Fortuna Sittard Ogah Jual Justin Hubner ke Klub Super League
- 4 Shio Beruntung Hari Ini 4 Agustus 2026: Macan hingga Babi Berpeluang Dapat Kabar Baik
Pilihan
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
Terkini
-
Mosi Tidak Percaya! Jajaran Wakasek dan Guru SMPN di Subang Mundur Massal
-
Lolos ke Final Usai Singkirkan Persija, Lucho Keluhkan Lapangan Dipta yang Keras dan Kering
-
Singkirkan Arema FC, Persebaya Tantang Persib di Final Piala Presiden 2026
-
Apa Itu Registration Ban FIFA? Ini Penyebab Klub Sriwijaya FC Bisa Dilarang Daftar Pemain
-
Jejak Kasus Haji Halim Ali, Dari Pengusaha Besar hingga Ahli Waris Kembalikan Rp127 Miliar
-
Modus Penimbun Pertalite Terbongkar, Isi BBM Berulang Pakai Barcode Berbeda di SPBU
-
Geger Temuan Mayat Mutilasi dalam Karung Beras di Pancoran Mas Depok
-
Jelang HUT ke-81 RI, Masjid Indonesia Pertama di Kanada Barat Resmi Berdiri
-
Diduga Bawa Kabur Kamera Rp200 Juta, DJ Wanita dan Suaminya Dipolisikan di Bogor
-
5 Perubahan Contact Center di Era Generative AI, Tak Lagi Sekadar Layanan Pengaduan