Sistem pengundiannya bisa dilakukan dengan pengocokan nama. Nah, di bulan pertama, nama yang keluar sebagai penerima dana adalah si A. Jadilah, dia menerima Rp6 juta di awal.
Kemudian bulan berikutnya si B yang menerima dana dan seterusnya. Sampai dengan undian terakhir diperoleh orang yang namanya masih tersisa.
Dari contoh tersebut bisa dikatakan si A yang mendapatkan dana pertama kali diibarakan mendapatkan pinjaman dan dia harus mencicilnya hingga semua orang mendapatkan dana arisan.
Sementara orang yang terakhir mendapatkan dana hampir sama seperti menabung karena dia menaruh uang sejak awal dan baru mendapatkan hasilnya terakhir.
Jenis-jenis Arisan di Masyarakat Indonesia
Pada umumnya kegiatan ini menggunakan uang walau tidak selalu demikian sebenarnya. Di Indonesia ada beberapa jenis arisan yang diterapkan masyarakat.
1. Arisan Uang
Arisan uang terbilang paling umum dan sudah sangat melekat bagi masyarakat Indonesia. Metodenya pun sangat mudah, yaitu dengan menyetorkan uang saja pada periode tertentu.
2. Arisan Logam Mulia
Meski namanya arisan logam mulia, yang disetorkan tetap uang ya. Anggota kelompok bisa membuat kesepakatan untuk tiap periode menyetorkan sejumlah uang untuk dibelikan emas 10 gram.
Sistem ini dinilai lebih adil karena peserta bisa menikmati pertukaran harga emas yang diasumsikan selalu naik.
Khusus arisan emas, sekarang Pegadaian sudah menyediakan program tersebut lho!
Baca Juga: 4 Fakta Krisna Mukti Dilaporkan Atas Dugaan Penggelapan Uang Arisan, Total Kerugian Rp724,6 Juta
Syarat untuk ikutan program arisan emas dari Pegadaian adalah peserta minimal enam orang dengan waktu pembiayaan hingga 36 bulan.
Konsepnya mirip dengan arisan emas biasa, tapi akan lebih aman karena dikelola Pegadaian.
Setiap anggota terlebih dahulu menyepakati besaran emas yang dibeli dari Pegadaian, contohnya 10 gram.
Misalnya, harga emas per gram adalah Rp700 ribu. Total anggota adalah 20 orang. Berarti total uang yang perlu disetorkan sebagai berikut.
10 gram emas x Rp700.000 = Rp7.000.000
Rp7.000.000 / 20 orang = Rp350.000
Itu berarti tiap bulan setiap anggota harus menyetorkan uang Rp350 ribu. Gampang, bukan? Plus aman serta terpercaya pula karena tiap-tiap anggota mendapatkan emas bersertifikat dari Pegadaian.
Mirip dengan sistem ini adalah tabungan emas Pegadaian. Namun, sistem tabungan ini bisa kita jalani sendiri tanpa arisan.
Caranya mudah, kita hanya perlu menyetor sejumlah dana hingga pada periode tertentu hingga terkumpul sejumlah uang yang setara dengan satuan emas tertentu yang diinginkan.
3. Arisan Barang
Arisan barang ini masih cukup sering dilakukan di desa. Biasanya patungan dilakukan saat salah satu anggota akan mengadakan hajatan atau pesta.
Jadi, tiap orang harus membawa barang yang tentu saja sudah ditentukan di awal.
Barang itu sendiri bisa berupa sembako, minyak goreng, dan bahan-bahan lain yang dibutuhkan untuk kepentingan pesta.
Dengan begitu orang yang menggelar pesta pernikahan atau hajatan lain sangat terbantu karena bahan atau barang yang diperlukan sudah terpenuhi oleh anggota.
Berita Terkait
-
Karhutla Meluas di Ogan Ilir, Petugas Berjibaku Cegah Api Membesar
-
Hentikan Gengsi! Begini Cara Kelola Arisan Biar Tetap Cuan di Bulan Suci
-
Arisan Lebaran: Ketika Ibu-Ibu Menjaga Dapur Tetap Ngebul di Hari Raya
-
5 Aroma Parfum yang Bikin Emak-Emak Arisan Auto Wangi Sepanjang Hari!
-
Menyasar Ibu-ibu dan Anak Muda, OJK Bongkar Modus Baru Penipuan di Sektor Perbankan
Terpopuler
- Megawati: Saya Dipanggil Polisi 3 Kali, Diperiksa Jaksa Sampai Malam
- Febrie Adriansyah Minta Emas 74 Kg dan Uang Ratusan Miliar Segera Dikembalikan
- Sunscreen Apa yang Bisa Memudarkan Flek Hitam di Wajah? Ini 9 Rekomendasi Terbaiknya
- Besok, Front Mahasiswa UI hingga IPB Siap Gelar Aksi 'Merebut Kemerdekaan' di Jakarta
- 4 Perbedaan Rice Cooker Keramik vs Stainless Steel untuk Memasak Nasi, Mana yang Lebih Sehat?
Pilihan
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
-
Dihadang Polisi di UOB Plaza, Massa UI: Ini Bukti Kita Belum Merdeka!
Terkini
-
Bukan Cuma Jualan Dawet, Cerita Siti Aminah Bikin Usaha Tradisional Tetap Laris
-
Mengintip EIGER Nature, Wajah Baru Ekowisata Bogor yang Buka September 2026
-
Kata Warga, Pedagang hingga Ojol soal Demo Mahasiswa Digelar di Bundaran HI
-
Bukan Sekadar Bikin Citra, Ini Cara PR Membangun Kepercayaan di Era AI
-
Mendagri Apresiasi Posko Sikka, Dirjen Bina Adwil Dorong Percepatan Pendataan Pascagempa Maumere
-
Gudang Solar Subsidi 5.350 Liter di Palembang Ternyata Beroperasi di Balik Bengkel Las
-
Bawa Produk Lokal Tembus Pasar Internasional, BRI Fasilitasi UMKM di GMBPF 2026
-
5.990 PPPK di Sumsel Masih Menunggu Kepastian, Harapan Jadi Penuh Waktu Tergantung Anggaran
-
Promo Mr. DIY, Dapatkan Cashback 45 Persen dengan QRIS BRImo
-
Indonesia Bisa Tiru! Begini Cara Pemkot Seoul Hadapi Gelombang Panas yang Mematikan