Suara.com - Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno minta Pulau Pasir NTT diklaim Australia sebagai Kepulauan Ashmore dan Cartier, agar dipertahankan sebagai wilayah NKRI (Negara Satuan Republik Indonesia).
Pulau Pasir Nusa Tenggara Timur (NTT), hanya berjarak 120 kilometer dari Pulau Rote NTT, dan 320 kilometer dari pantai Barat-Utara Australia, kerap jadi tempat beristirahat nelayan Indonesia.
"Kami sedang koordinasi karena setiap jengkal Tanah Air Indonesia itu harus dipertahankan, apalagi itu destinasi wisata yang bisa mendatangkan peluang kesejahteraan bagi masyarakat," ujar Sandiaga saat Weekly Press Briefieng di Kemenparekraf, Jakarta Pusat, Senin (24/10/2022).
Adapun salah satu koordinasi yang dilakukan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) berkerjasama dengan pihak kepolisian, termasuk juga Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) yang secara langsung mengurus wilayah teritorial Indonesia.
"Tapi kami mengimbau, bahwa setiap potensi wisata dan ekonomi kreatif yang kita miliki harus sesuai pasal 33 UUD digunakan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia," tutup Sandiaga.
Perlu diketahui, sengketa Pulau Pasir sudah menjadi polemik antara Indonesia-Australia, dan disebut sudah berlangsung sejak tahun 1974 ketika Canberra-Jakarta menandatangani nota kesepahaman (Mou) soal batas wilayah teritorial.
Apalagi pulau itu tidak berpenghuni dan hanya terdiri dari koral, pasir dan sedikit rumput. Tapi di dalamnya terdapat artefak dan makam leluhur masyarakat adat Rote.
Tidak terima dengan klaim itu, Masyarakat Adat Laut Timor Rote juga berniat akan mengugat ke Pengadilan Commonwealth Australia di Canberra.
Di sisi lain situs lembaga pemerintah, Geoscience Australia, menyebutkan pulau yang berada di wilayah Ashmore dan Kepulauan Cartier itu memiliki luas gabungan 1,12 kilometer persegi, yang terbesar panjangnya sekitar satu kilometer.
Baca Juga: Airlangga Hartarto dan Sandiaga Uno Hadiri Local Media Summit 2022 yang Dihadiri Ratusan Media
Menurut situs tersebut, penampakan karang pertama yang tercatat di Eropa adalah pada 11 Juni 1811 oleh Samuel Ashmore, yang menamai Hibernia Reef di dekatnya dengan nama kapal tersebut.
Selama tahun 1850-an, kapal penangkap ikan paus Amerika beroperasi di wilayah tersebut dan selama paruh akhir abad ke-19, penambangan fosfat dilakukan di Pulau Barat.
Berita Terkait
Terpopuler
- Ogah Pasang AC? Ini 4 Rekomendasi Air Cooler yang Murah, Hemat Listrik, dan Cepat Dingin
- 5 Sepatu Running Lokal yang Anti Licin dan Senyaman Skechers, Harga Cuma Rp200 Ribuan
- 8 Sunscreen di Indomaret untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun ke Atas sesuai Review
- 7 Pilihan HP Murah Terbaik Harga 1 Jutaan Juli 2026: NFC hingga Baterai 7000 mAh
- 4 Moisturizer di Alfamart untuk Hempas Flek Hitam Berdasarkan Review Pengguna
Pilihan
-
Tangis Bayi Pecah Pagi Hari, Warga Temukan Bayi Perempuan Baru Lahir di Teras Rumah
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
-
Ole Romeny Bakal Satu Tim dengan Justin Hubner di Liga Belanda, Fortuna Sittard Siapkan Tawaran
-
Antar Timnas Perancis ke 16 Besar, Mbappe Pecahkan Sejumlah Rekor Piala Dunia 2026
-
Prabowo ke Polisi: Gaji dan Senjata Kalian dari Rakyat, Jadi Jangan Menyusahkan Rakyat
Terkini
-
7 Aturan Menata Meja Makan Menurut Feng Shui, Menarik Rezeki dan Keluarga Makin Harmonis
-
8 Rekomendasi Tone Up Cream dan Sunscreen untuk Wajah Tampak Cerah Seketika
-
4 Air Cooler Midea Termurah yang Hemat Konsumsi Listrik dan Tidak Bising
-
5 Zodiak yang Paling Tenang saat Situasi Genting, Jago Menghadapi Tekanan
-
Plisket Kembali Digandrungi Gen Z, Begini Tips Padupadan agar Tetap Stylish
-
Sunscreen Paling Murah Merek Apa? Ini 3 Pilihan Rp20 Ribuan, Sudah BPOM, dan Dipuji Bagus
-
Berapa Harga Langganan Strava Premium? Kini Kena Pajak 11%
-
Tak Perlu Bongkar Dinding! Ini 4 AC Portable 1 PK Review Terbaik yang Dinginnya Semriwing
-
4 Shio Bernasib Baik Hari Ini 4 Juli 2026, Masa Sulit Mulai Berlalu
-
7 Tanaman Pembawa Hoki di Ruang Tamu Menurut Feng Shui, Bikin Rumah Terasa Lebih Segar dan Estetik