Suara.com - Saksi mata tragedi Itaewon mengungkap detik-detik massa saling dorong sebelum akhirnya massa tumpang tindih dan menimbulkan korban meninggal dunia. Apa ceritanya?
Pada 29 Oktober 2022, kerumunan massa di gang sempit di sebelah landmark Hotel Hamilton menyebabkan kematian sedikitnya 153 orang. Gelombang kerumunan adalah penyebab di mana banyak orang meninggal dunia. Ini adalah kondisi di mana ketika sejumlah besar orang mencoba pindah ke ruang yang relatif kecil sekaligus, persis seperti yang terjadi di Itaewon.
Dilansir Koreaboo, menurut para penyintas dan saksi, alasan terjadinya lonjakan massa adalah "dorongan paksa", terlebih kondisi gang kecil itu cenderung miring.
Kabarnya, orang-orang yang berada di puncak gang mulai mendorong ke bawah, tidak menyadari bahwa mereka yang berada di bawah akhirnya berjatuhan. YouTuber Seon Ye Jung mengenang pengalamannya terjebak di tengah keramaian dan diselamatkan oleh temannya.
"Di belakang saya, orang-orang meneriakkan hal-hal seperti 'Dorong! Kita lebih kuat! Kita bisa memenangkan ini, haha!’ dan mulai mendorong. Beberapa dari kami mencoba membuat orang banyak mengikuti lalu lintas kanan lagi, tetapi tidak ada gunanya," ujarnya.
"Sejujurnya saya didorong dan didorong melawan keinginan saya. Kemudian, tiba-tiba, kekacauan terjadi dan semua orang mulai saling dorong dengan agresif—seperti tarik tambang. Tidak butuh waktu lama sebelum saya mulai merasakan kekuatan orang-orang yang mendorong. Penglihatan mulai memudar," ungkap dia lagi.
"Teman saya, yang ada di sana bersama saya, lebih kuat dari saya. Jadi mereka berpegangan pada saya dan membantu saya menahan kekuatan. Seandainya saya tidak bersama teman saya, saya akan benar-benar jatuh," lanjut YouTuber tersebut.
Tapi apa yang bisa menyebabkan 153 orang meninggal setelah jatuh di sebuah gang? Dalam kasus seperti itu, hampir tidak mungkin bagi mereka yang jatuh untuk melarikan diri dan akhirnya mereka terinjak-injak dengan yang lain.
Padahal, menurut para ahli, penyebab utama kematian dalam keramaian sebenarnya adalah mati lemas. Menurut Steve Allen, seorang konsultan di Crowd Safety, kesalahan yang terjadi adalah ketika kerumunan runtuh dan orang-orang di belakang mereka naik ke atas orang-orang di depan mereka yang sudah jatuh horizontal.
Baca Juga: Urai Lautan Manusia Sebelum Tragedi Itaewon, Aksi Heroik Emak-emak Berhasil Selamatkan Wanita Ini
"Orang-orang ditekan bersama-sama begitu erat sehingga menjadi tidak mungkin untuk bernapas. Bahkan, tekanan yang diberikan dikabarkan bisa membengkokkan baja. Dalam beberapa kasus, orang pingsan dan bahkan mati saat masih berdiri, tubuh mereka ditahan oleh kerumunan orang," pungkasnya.
Ia juga berbicara pada kasus lonjakan kerumunan tragis yang terjadi di konser Astroworld pada tahun 2021, G. Keith Still, profesor ilmu kerumunan di University of Suffolk di Inggris, menjelaskan apa yang terjadi ketika seseorang secara fatal terjebak dalam lonjakan kerumunan.
"Dibutuhkan 30 detik sebelum Anda kehilangan kesadaran, dan sekitar enam menit, Anda mengalami asfiksia kompresif atau restriktif. Itu umumnya penyebab kematian yang dikaitkan - tidak hancur, tetapi mati lemas," jelas G. Keith Still.
Selain tak sengaja menginjak-injak, para ahli telah menyimpulkan bahwa penyebab utama kematian dalam lonjakan massa adalah sesak napas, yaitu ketika tubuh kekurangan oksigen. Di lokasi tragedi Itaewon, orang menderita mati lemas dan serangan jantung, yang pada akhirnya menyebabkan sebagian besar korban.
Ada banyak elemen yang akhirnya menambah hasil tragis di Itaewon, termasuk pencabutan mandat jarak sosial dan kurangnya kontrol massa. Saat pihak berwenang menyelidiki insiden tersebut, Korea Selatan berharap untuk melihat langkah-langkah keamanan yang lebih kuat diterapkan ke depan.
Berita Terkait
-
Once We Were Us: Romansa, Penyesalan, dan Realitas yang Memisahkan
-
Antara Kebenaran dan Kebohongan: Psikologi Moral dalam Drama The Art of Sarah
-
HUMINT Lampaui 1 Juta Penonton dalam 6 Hari, Kuasai Box Office saat Imlek
-
9 Fakta dan Kronologi Perang Knetz vs SEAblings Memanas di Medsos
-
Jule Mendadak Jadi Pahlwan di Perang Knetz vs SEAblings
Terpopuler
- Tak Hanya di Jateng, DIY Berlakukan Pajak Opsen 66 Persen, Pajak Kendaraan Tak Naik
- 5 Rekomendasi HP Layar Besar untuk Orang Tua Mulai Rp1 Jutaan
- Jalan Lingkar Sumbing Wonosobo Resmi Beroperasi, Dongkrak Ekonomi Tani dan Wisata Pegunungan
- 5 Sepatu Tanpa Tali 'Kembaran' Skechers Versi Murah, Praktis dan Empuk
- 10 Rekomendasi Cream Memutihkan Wajah dalam 7 Hari BPOM
Pilihan
-
Siswa Madrasah Tewas usai Diduga Dipukul Helm Oknum Brimob di Kota Tual Maluku
-
Impor Mobil India Rp 24 Triliun Berpotensi Lumpuhkan Manufaktur Nasional
-
Jadwal Imsak Jakarta Hari Ini 20 Februari 2026, Lengkap Waktu Subuh dan Magrib
-
Tok! Eks Kapolres Bima AKBP Didik Resmi Dipecat Buntut Kasus Narkoba
-
Bisnis Dihimpit Opsen, Pengusaha Rental Mobil Tuntut Transparansi Pajak
Terkini
-
The Sultan Hotel & Residence Jakarta Gelar Exclusive Iftar Gathering "Ramadan Cita Rasa Sultan"
-
Jadwal Imsak dan Subuh Wilayah Yogyakarta Sabtu 21 Februari 2026
-
Bolehkah Puasa Tapi Tidak Tarawih? Simak Penjelasan Fiqih untuk Pekerja Sibuk
-
Doa Makan Sahur: Bacaan Lengkap, Niat Puasa, dan Keutamaannya
-
Kapan Batas Akhir Salat Tarawih di Bulan Ramadan 2026?
-
Kapan Batas Waktu Lapor SPT Tahunan? Segini Dendanya Jika Telat
-
Jam Berapa Buka Puasa Jabodetabek Hari Ini? Ini Waktu Adzan Maghrib Resmi
-
Cara Membuat Sambal Kacang Gorengan yang Gurih dan Kental, Cocok untuk Buka Puasa
-
Link Ngaji Online Ramadan 2026 Bareng Gus Mus dan Kiai PBNU, Simak Jadwal Lengkapnya!
-
Rahasia Bonus Waktu Sahur Ala Muhammadiyah Plus 8 Menit, Apa Maksudnya?