Suara.com - Nikita Mirzani mengaku dirinya memiliki kebiasaan setiap kali akan berhubungan intim dengan pasangan. Hal ini ia sampaikan pada Melaney Ricardo di podcast-nya yang tayang pada Senin (14/11/2022).
Menurut perempuan yang saat ini tengah mendekam di penjara Serang, Banten ini lantaran kasusnya dengan Dito Mahendra, ia selalu minta pasangannya untuk cek kesehatan organ reproduksi sebelum memutuskan untuk berhubungan intim.
"Kalau aku punya feeling, 'kayaknya boleh juga, nih, dicobain', nah, sebelum itu aku selalu ngomong sama lelakinya. 'Sorry nih, bukannya mau bikin lo sakit hati atau apa, bisa enggak kita cek sama-sama'," kata Nikita Mirzani.
Menurut ibu tiga anak ini, hal itu bertujuan agar baik ia maupun pasangannya sama-sama tahu status kesehatan kelamin masing-masing, dan pastinya terhindar dari penyakit menular seksual.
Soal kebiasaannya ini, Nikita nggak pilih-pilih. Bahkan, kepada mantan pacar bulenya yang ganteng, John Hopkins, Nikita tetap menyuruhnya mengecek kesehatan kelamin.
"Yang bule ini juga aku suruh cek dan dia mau," ucapnya.
Bahkan, karena ritualnya ini, menurut Nikita Mirzani, para dokter kerap memujinya lantaran memiliki organ intim yang sehat dan terawat.
Apa yang dilakukan Nikita Mirzani sebenarnya dapat menjadi contoh bagi banyak orang yang aktif secara seksual di era modern seperti saat ini. Lantas, apa saja skrining yang harus dilakukan untuk pemeriksaan penyakit infeksi menular seksual (PMS)? Berikut daftarnya seperti dilansir Hello Sehat.
1. Skrining PMS untuk Klamidia dan Gonore
Baca Juga: Nikita Mirzani Tertawakan Dakwaan JPU, Pengacara: Luar Biasa!
Skrining penyakit menular seksual untuk klamidia dan gonore direkomendasikan satu tahun sekali.
- Anda dianjurkan untuk menjalani skrining, apabila:
- Anda adalah wanita yang aktif secara seksual dan berusia di bawah 25 tahun.
- Anda wanita berusia lebih dari 25 tahun dan berisiko mengidap penyakit kelamin (misal, Anda berganti pasangan seksual atau memiliki pasangan seksual lebih dari satu).
- Anda seorang pria yang pernah berhubungan seks dengan pria lain.
- Anda mengidap HIV.
- Anda pernah terlibat dalam aktivitas seksual atas dasar paksaan.
Skrining PMS khusus klamidia dan gonore dilakukan melalui tes urine atau tes usab (swab test) pada penis atau pada rahim. Sampel dari tes ini kemudian akan dianalisis lebih lanjut di laboratorium.
2. Skrining HIV, Sipilis, dan Hepatitis
Skrining IMS khusus HIV direkomendasikan untuk dilakukan setidaknya satu kali seumur hidup, termasuk dalam check-up rumah sakit rutin mulai dari usia 15-65 tahun.
Orang-orang yang berusia sekitar 15 tahun atau kurang dari itu diharuskan menjalankan skrining jika mereka berada pada risiko yang sangat tinggi terhadap infeksi menular seksual (IMS).
Berikut kelompok orang yang perlu menjalankan skrining penyakit menular seksual seperti HIV, sifilis, dan hepatitis:
- Terdiagnosis positif mengidap penyakit kelamin lain yang berarti Anda berisiko lebih besar terhadap penyakit lainnya.
- Memiliki pasangan seksual lebih dari satu orang sejak skrining terakhir.
- Menggunakan narkotika suntik.
- Anda seorang pria dan pernah berhubungan seks dengan pria lain.
- Anda sedang hamil atau merencanakan kehamilan.
- Anda pernah terlibat dalam aktivitas seksual atas dasar paksaan.
Skrining sifilis dilakukan dengan uji darah atau tes usap dari sampel jaringan genital Anda. Skrining HIV dan hepatitits hanya membutuhkan uji darah.
3. Skrining Infeksi Menular Seksual untuk Herpes Genital
Herpes genital atau herpes oral adalah infeksi virus yang mudah ditularkan bahkan jika orang tersebut tidak menunjukkan gejala apapun.
Hingga saat ini belum ada skrining penyakit menular seksual yang spesifik untuk mendeteksi herpes. Akan tetapi, dokter bisa melakukan biopsi (sampel jaringan) dari kutil atau luka lecet untuk memeriksa herpes.
Sampel ini kemudian dianalisis lebih lanjut di laboratorium. Ketika hasil tes skrining IMS negatif bukan berarti Anda tidak memiliki herpes. Biasanya, dokter menyarankan Anda untuk melakukan uij darah.
4. Skrining Penyakit Menular Seksual HPV
Beberapa tipe human papillomavirus (HPV) bisa mengakibatkan kanker rahim, sedangkan jenis lainnya bisa menyebabkan kutil kelamin.
Virus ini umumnya hilang dalam 2 tahun sejak kontak pertama. Skrining infeksi menular seksual untuk HPV untuk pria belum tersedia.
Berita Terkait
Terpopuler
- Pemerintah Tutup Ruang Pembentukan Provinsi Luwu Raya, Kemendagri: Ikuti Moratorium!
- Warga Sambeng Borobudur Pasang 200 Spanduk, Menolak Penambangan Tanah Urug
- Arya Iwantoro Anak Siapa? Ternyata Ayahnya Eks Sekjen Kementan yang Pernah Diperiksa KPK!
- Usut Kematian Nizam Syafei yang Disiksa Ibu Tiri, Video di Ponsel Korban akan Diperiksa
- 7 Skema Suami Dwi Sasetyaningtyas Kembalikan Dana Beasiswa LPDP
Pilihan
-
Minta Restu Jokowi, Mantan Bupati Indramayu Nina Agustina Bachtiar Gabung PSI
-
Sumsel Berduka, Mantan Gubernur Alex Noerdin Meninggal Dunia
-
Debut Berujung Duka, Pemain Senegal Meninggal Dunia Usai Kolaps di Lapangan
-
Di Tengah Jalan Raya, Massa Polda DIY Gelar Salat Gaib Massal untuk Korban Represi Aparat
-
Massa Aksi di Depan Polda DIY Dibubarkan Paksa oleh Sekelompok Orang Berpakaian Sipil
Terkini
-
Daftar Menu Buka Puasa Masjid Al-Muqtashidin FBE UII Yogyakarta 25 Februari - 10 Maret 2026
-
5 Contoh Undangan Buka Bersama Kantor via WhatsApp: Sopan, Jelas, dan Profesional
-
THR Pensiunan PNS 2026 Kapan Cair? Cek Jadwal dan Rincian Besaran yang Didapatkan
-
Tukar Uang Baru yang Sudah Dipesan via PINTAR BI Bisa Diwakilkan? Cek Ketentuan Resminya
-
Lebih dari Sekadar Putih, Ini Standar Baru Kulit Cerah yang Sehat
-
Apa Warna Lipstik yang Bikin Wajah Cerah? Ini 5 Rekomendasi yang Layak Dicoba
-
Kapan Jadwal WFA, Libur, dan Cuti Bersama Lebaran 2026? Cek Tanggal Resminya dari Pemerintah
-
Hukum Menghirup Freshcare atau Minyak Angin saat Puasa, Apakah Membatalkan?
-
Cara Download Bukti Pemesanan Penukaran Uang Baru di Pintar BI, Jangan Lupa Siapkan KTP
-
Butuh Uang Cepat? Ini Syarat dan Cara Gadai HP di Pegadaian Agar Dapat Harga Terbaik!