Suara.com - Pelaku pembunuhan Jessica Kumala Wongso kerap digadang-gadang berasal dari keluarga tajir melintir. Sebelumnya, nama Jessica Wongso kembali mencuat ke permukaan publik melalui film dokumenter Netflix bertajuk Ice Cold: Murder, Coffee, and Jessica Wongso.
Adapun orang tua sosok pembunuh Wayan Mirna Salihin itu di mata publik sebagai sosok yang hedon dan hidup dalam kemewahan.
Publik menduga bahwa orang tua Jessica Wongso adalah konglomerat yang punya segudang usaha hingga dapat julukan crazy rich.
Namun, kemewahan tersebut sontak dibantah oleh kedua orang tua Jessica. Orang tua Jessica ternyata tak hidup mewah sebagaimana yang digambarkan oleh publik.
Lantas, apa profesi orang tua Jessica Wongso sebenarnya?
Profesi ayah Jessica Wongso: Bukan konglomerat
Sempat beredar desas desus bahwa Winardo Wongso, ayah Jessica Wongso adalah seorang konglomerat yang memiliki pabrik plastik. Winardo ternyata hanya seorang agen plastik yang sederhana.
Ibu Jessica, Imelda Wongso juga merupakan seorang ibu yang sederhana. Imelda bercerita bahwa sang suami juga sempat sakit-sakitan dan sempat menjalani operasi kepala sebelum kasus kopi sianida terjadi.
Lebih lanjut, Imelda menceritakan bahwa suaminya itu tak boleh mengalami stres lantaran sakit yang ia derita.
Baca Juga: Ice Cold: Murder, Coffee and Jessica Wongso, Menguak Misteri Kelam Kasus Pembunuhan di Kafe Olivier
Kendati demikian, orang tua Jessica pernah hidup di Australia sejak 2005. Hal itu yang menjadi dasar asumsi publik bahwa Jessica berada dari keluarga konglomerat.
Keluarga Jessica lalu pindah ke Indonesia pada 2015 setelah Jessica menyelesaikan studinya di Negeri Kanguru.
Keterlibatan Jessica di kasus Mirna Salihin
Adapun orang tua Jessica kini harus merelakan putrinya dipenjara selama 20 tahun.
Jessica merupakan pelaku utama pembunuhan Wayan Mirna Salihin dengan kasus yang terkenal di telinga publik sebagai kasus kopi sianida.
Melalui persidangan, Jessica terbukti meracun Mirna kala mengadakan reuni dengan teman-temannya di Olivier Cafe, Grand Indonesia, Jakarta Pusat pada 6 Januari 2016 silam.
Berita Terkait
-
Ice Cold: Murder, Coffee and Jessica Wongso, Menguak Misteri Kelam Kasus Pembunuhan di Kafe Olivier
-
Jessica Wongso Garuk-Garuk Tangan Saat Mirna Salihin Kejang, Efek Gatal Kena Sianida?
-
Hotman Paris Ungkap Jessica Wongso Bisa Bebas Lewat Satu Cara, Tapi Ini Syaratnya
-
Bongkar Kesalahan Fatal Suami Mirna, Ibu Jessica Wongso Sebut Putrinya Cuma Kambing Hitam
-
Muncul Tagar Bebaskan Jessica Wongso, Hotman Paris Sebut Vonis Hakim Tak Bisa Diubah Lagi
Terpopuler
- 4 Rekomendasi Merk Rice Cooker yang Awet dan Bagus untuk Pemakaian Jangka Panjang
- Feng Shui Rumah Menghadap Utara, Lakukan 4 Tips Ini agar Energi Seimbang dan Bawa Hoki
- TNI Mau Ambil Alih Kamtibmas? TB Hasanuddin: Itu Tugas Polri
- Warga Teror Pekerja Stadion Sudiang, Pembangunan Tribun Selatan Terpaksa Ditinggalkan
- 5 Pilihan HP Samsung RAM 12 GB Agustus 2026, Performa Ngebut Anti Lag
Pilihan
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
Terkini
-
Kasus Hafalan Ad-Dhuha Berhadiah Miras di Sound Project Dilimpahkan ke Polda Metro Jaya
-
Pelaku Pemerkosaan dan Pembunuhan di Tangerang Beraksi Saat Mabuk, Pintu Rumah Korban Tak Terkunci
-
Donald Trump Ingin 3 Periode, Bakal Tabrak Konstitusi AS?
-
Tak Ditemukan Tanda Kekerasan, Penyebab Kematian Sutrimo Masih Misteri
-
Bencana Karhutla Bukan Soal Tak Mampu, Masalahnya Ada di Komitmen
-
Amplop Raja Juli Menyusut SGD2.000, KPK Buka Peluang Periksa Ajudan hingga Kapolres Kuansing
-
Korban Tolak RJ, Sidang Kasus Pengeroyokan Anggota DPRD Kabupaten Bekasi Berlanjut
-
Telok Abang Palembang Bukan Sekadar Tradisi Agustus, Kini Jadi Ikon Budaya Kota
-
Terungkap, Trik Warga Israel Bisa Lolos Masuk Bali Meski Tak Ada Hubungan Diplomatik
-
Insanul Fahmi Terpuruk dan Jualan Sayur, Wardatina Mawa: Tapi Semua Sudah Terlambat