Kader Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Ade Armando menjadi sorotan belakangan ini setelah ia beropini soal politik dinasti yang ada di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Pernyataan politikus PSI tersebut kini menimbulkan polemik.
Ade Armando menyebut bahwa Undang-Undang Keistimewaan Yogyakarta inkonstitusional karena pemilihan Gubernur DIY berdasarkan pada garis keturunan Sri Sultan Hamengku Buwono.
Pernyataan tersebut terkait dengan aksi BEM UI, UGM, dan beberapa perwakilan BEM dari universitas lainnya yang dilaksanakan di Yogyakarta beberapa waktu lalu.
Dalam kesempatan tersebut, Ade khususnya memberikan kritik kaos yang digunakan oleh mahasiswa tersebut yang bertuliskan ‘republik rasa dinasti’. Kini, Ade Armando pun mendapatkan teguran dari berbagai pihak atas pernyataannya tersebut.
Lantas, seperti apakah riwayat pendidikan Ade Armando yang blunder singgung politik dinasti di DIY? Simak informasi lengkapnya berikut ini.
Riwayat Pendidikan Ade Armando
Ade Armando merupakan pria kelahiran Jakarta, 24 September 1961. Pada tahun 1988, Ade Armando berhasil menyelesaikan pendidikan sarjana di Universitas Indonesia.
Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan magisternya di Florida State University, Amerika Serikat dan berhasil lulus pada tahun 1991.
Tak cukup sampai di situ, Ade Armando kemudian melanjutkan pendidikan S3-nya di Universitas Indonesia dan berhasil lulus pada 2006.
Baca Juga: Jangan Salah Pengertian! Ini Bedanya Politik Dinasti dengan Kesultanan Yogyakarta
Pada bulan April 2023, Ade Armando memutuskan untuk bergabung dengan PSI. Selain itu, ia juga maju sebagai caleg DPR RI dari daerah pemilihan DKI Jakarta II dalam Pileg 2024 mendatang.
Sebelum menjadi kader PSI, Ade Armando adalah sosok yang aktif bersuara di sosial media. Tak hanya itu, ia juga sempat berstatus sebagai seorang dosen di Universitas Indonesia.
Diketahui, Ade telah mengurus permohonan pensiun dari profesinya sebagai dosen sejak satu bulan sebelum memilih bergabung dengan PSI.
Melansir dari laman resmi PD Dikti, Ade Armando sempat menjadi dosen tetap di Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia (UI).
Sebelum menjadi dosen di FISIP UI, ia juga sempat menjalani karier sebagai seorang jurnalis. Bahkan, ia juga pernah menjadi anggota Komisi Penyiaran Indonesia (KPI).
Jejak Karir Ade Armando
Mengutip dari laman resmi Departemen Komunikasi FISIP UI, Ade Armando pernah menduduki berbagai jabatan yang strategis selama menjalani kariernya.
- Anggota Redaksi Jurnal Prisma (1988-1991).
- Redaktur Penerbitan Buku LP3ES (1991-1993).
- Redaktur Harian Republika (1993-1998).
- Manajer Riset Media di perusahaan riset pemasaran transnasional, Taylor Nelson Sofres (1998-1999).
- Direktur Media Watch & Consumer Center (2000-2001).
- Anggota Kelompok Kerja Tim Antar-Departemen RUU Penyiaran, Kementerian Komunikasi dan Informasi (2001).
- Ketua Program Studi S1 Ilmu Komunikasi FISIP UI (2001-2003).
- Direktur Pengembangan Program Pelatihan Jurnalistik Televisi-Internews (2001-2002).
- Anggota Komisi Penyiaran Indonesia (2004-2007).
- Anggota tim asistensi bagi Kementerian Pemberdayaan Perempuan dalam penyiapan naskah Rancangan Undang-undang Pornografi (2007-2008).
- Pemimpin Redaksi Madina-online.net, versi daring dari majalah Madina yang dipimpinnya (2008-2009)
- Direktur Komunikasi, Saiful Mujani Research and Consulting (2014-sekarang).
Kontributor : Syifa Khoerunnisa
Berita Terkait
-
Jangan Salah Pengertian! Ini Bedanya Politik Dinasti dengan Kesultanan Yogyakarta
-
Warga Jogjakarta Larung Poster Wajah Ade Armando ke Kali Gajah Wong Buntut Blunder soal Politik Dinasti DIY
-
Disindir Ade Armando, Ini Isi UU Keistimewaan DIY yang Dianggap Politik Dinasti
-
Ade Armando Yang Tak Pernah Berhenti Bikin Kontroversi
-
Pernyataan Kebablasan Ade Armando Soal Politik Dinasti DIY Bikin Kaesang Berang
Terpopuler
- Gaji di Bawah Rp 8 Juta Kini Masuk Kategori Berpenghasilan Rendah
- 4 Genset Mini Portable Praktis dan Senyap, Solusi Saat Mati Listrik
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- Ikuti Jejak Hotel Sultan, Otto Hasibuan Diminta Ikhlas Lepas Lapangan Golf Ottolima ke Negara
- 4 Bohlam Lampu Emergency LED Terbaik Otomatis Nyala saat Mati Listrik, Lebih Aman Tanpa Lilin
Pilihan
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
-
Pelarian Berakhir! Taufik Hidayat Penyekap dan Penyiksa Pacar 3 Tahun Ditangkap di Bandung Raya
-
UBK Nonaktifkan Ketua BEM FH dari Jabatan Usai Mengaku Terima Suap Rp20 Juta dari Oknum Polisi
Terkini
-
5 Parfum Aroma Teh yang Awet Menurut Review, Ada yang Tahan sampai 12 Jam
-
Intip Jajaran Direksi RANS Entertainment yang Segera IPO, Ini Jabatan Nagita Slavina
-
Ciri-Ciri Rumah Pembawa Rezeki Menurut Feng Shui, Konon Bikin Hoki Mengalir
-
5 Kulkas Tanpa Bunga Es Harga Rp3 Jutaan, Hemat Listrik dan Anti Bau
-
6 Kulkas Hemat Listrik 1 Jutaan, Cocok untuk Anak Kos hingga Keluarga Kecil
-
Memahami Perbedaan Sepatu Lari Carbon Plate dan Biasa, Ketahui sebelum Upgrade
-
3 Power Bank Jumbo dengan Panel Surya, Bisa Nyalakan Laptop dan Kipas Angin saat Mati Listrik
-
3 Pilihan Sepatu Lari Karbon Ardiles, Lengkap dengan Ulasan Jujur Pengguna
-
Glad2Glow Moisturizer untuk Apa? Ini 8 Varian, Manfaat, dan Harganya
-
5 Jersey Piala Dunia 2026 Adidas Terlaris, Nyaris Ludes Diburu Kolektor