Suara.com - Perilaku anak-anak muda generasi Z atau Gen Z agak mengkhawatirkan orang-orang yang lebih tua dari mereka, terutama mengenai caranya berbicara dan pemilihan kata-kata yang digunakan. Sebab, Gen Z dinilai lebih sering berbicara dengan kata kasar dan tak pantas bila dibandingkan dengan generasi di atas mereka.
Psikolog Ajeng Raviando mengungkapkan kalau kekinian juga makin banyak orang tua yang konsultasi mengenai sikap anak-anak mereka yang seperti mudah berkata kasar.
"Sebagai psikolog saya sering sekali dapat konseling orang tua yang bilang, 'mba mau liat gak chat-an anak saya, masa gini'. Mereka jadi punya kekhawatiran apakah anaknya benar melakukan hal seperti yang diucapkan itu," cerita Ajeng ditemui di Jakarta beberapa waktu lalu.
Menurutnya, penyebab kebanyakan Gen Z mudah berkata kasar karena terkena pengaruh dari budaya luar negeri. Mudahnya akses internet membuat anak-anak itu bisa leluasa menjangkau konten dari belahan negara mana pun. Sayangnya, ketika biasa terkena konten dengan kata-kata kasar dari luar negeri, anak tersebut belum mampu memfilter ucapan yang pantas dan sesuai dengan norma masyarakat Indonesia.
"Di belahan dunia lain itu mungkin hal yang wajar saja, tapi bagi norma Asia itu kasar, sedangkan kalau di sana bahasa pergaulan di sana saja. Karena influence-nya besar, makanya kalau gak punya believe syrem yang kuat rentan kena mempengaruh eksternal. Makanya di generasi yang sekarang itu dianggap wajar," tuturnya.
Meski begitu, Ajeng menambahkan, anak biasanya hanya berani bertutur kata kasar kepada temannya yang sebaya juga di media sosial. Bila sudah begitu, Ajeng menyarankan kepada orang tua harus bisa menjadi contoh bagi anak dengan selalu bertutur kata yang baik dan lembut.
"Sebenarnya yang paling utama adalah bagaimana sebagai orang tua bisa menjadi role model bagi anak. Orang tua harus bisa menjadi contoh untuk tidak pernah mengeluarkan kata-kata kasar karena menjadi bukti buat anak kalau orang tua berkomitmen gitu," saran Ajeng.
Menurut Ajeng, langsung memberikan contoh kepada anak jauh lebih efektif untuk mendidiknya daripada sekadar menasihati atau bahkan memberi hukuman.
Apabila orang tua kelepasan berkata kasar di depan anak, hindari menyangkalnya atau membuat alasan. Sebaliknya, minta maaf pada anak dan berjanji untuk tidak melakukannya lagi.
Berita Terkait
Terpopuler
- Ratusan Warga Cianjur Gagal Rayakan Lebaran Gara-gara Kena Tipu Paket Sembako Bodong
- 61 Kode Redeem FF Max Terbaru 20 Maret 2026: Raih THR Idul Fitri, AK47 Lava, dan Joker
- Lebaran 2026 Tanggal Berapa? Cek Jadwal Idulfitri Pemerintah, NU, Muhammadiyah, dan Negara Lain
- 7 HP Samsung Terbaik untuk Orang Tua: Layar Besar, Baterai Awet
- 30 Link Twibbon Idul Fitri 2026 Simpel Elegan, Cocok Dibagikan ke Grup Kantor dan Rekan Kerja
Pilihan
-
Rudal Iran Hantam Dekat Fasilitas Nuklir Israel, 100 Orang Jadi Korban
-
Skandal Dean James Melebar! Pakar Hukum Belanda Sebut Status WNI Jadi Masalah Utama
-
Serangan AS-Israel di Malam Takbiran Tewaskan Jubir Garda Revolusi Iran
-
Mencekam! Jirayut Terjebak Baku Tembak di Thailand
-
Pak Menteri Siap Potong Gaji? Siasat Prabowo Hadapi Krisis Global Contek Pakistan
Terkini
-
Puasa Syawal 2026 Sampai Tanggal Berapa? Simak Jadwal Versi Pemerintah dan Muhammadiyah
-
Puasa Syawal 2026 Mulai Kapan? Ini Beda Jadwal Muhammadiyah dan Pemerintah
-
Teh Novi Curhat Alami Rambut Rontok Parah Pasca Operasi Bariatrik, Ini Sebabnya!
-
4 Cara Menyimpan Sisa Opor dan Rendang agar Tidak Basi Sampai Besok
-
Dari Merak hingga Ketapang, Mudik Kini Didukung Fasilitas Perjalanan yang Lebih Praktis
-
Minum Nutrive Benecol saat Kolesterol Naik Usai Lebaran, Pahami Dosis yang Tepat dan Efek Sampingnya
-
10 Jawaban Cerdas Pertanyaan Kerja di Mana Saat Lebaran, Anti Tertekan!
-
10 Jawaban Cerdas Pertanyaan Kapan Lulus Saat Lebaran, Santai Tanpa Canggung
-
7 Film Terbaru Cocok Ditonton Saat Libur Lebaran 2026, dari Horor hingga Drama Keluarga
-
7 Trik Kelola THR Anak agar Tidak Habis Setelah Lebaran 2026