Suara.com - Sejumlah artis tanah air masih melakukan tradisi tedhak siten untuk anaknya yang sudah memasuki usia 7 bulan. Sebut saja seperti Nagita Slavina, Aurel Hermansyah dan Ria Ricis.
Pasangan Raffi Ahmad-Nagita Slavina misalnya pernah menggelar proses adat tedhak siten di saat anak sulungnya Rafathar berusia 7 bulan.
Begitu juga dengan pasangan Atta Halilintar-Aurel Hermansyah yang menggelar tradisi tedhak siten untuk anaknya, Ameena Hanna Nur Atta dan anak keduany Azura.
Ria Ricis juga pernah melakukan tradisi tedhak siten untuk anaknya, Moana. Lalu apa sebenarnya tedhak siten itu sendiri? Bagaimana sejarah tedhak siten? Berikut penjelasannya.
1. Pengertian Tedhak Siten
Tedhak Siten berasal dari kata Tedhak berarti turun (menapakkan kaki) dan Siten atau Siti yang artinya tanah.
Karena itu Tedhak Siten bisa artikan sebagai tradisi menginjakkan atau menapakkan kaki ke tanah bagi seorang anak.
Dikutip dari website jogjakota.go.id, menurut Murniatmo, Tedhak Siten merupakan upacara pada saat anak turun tanah untuk pertama kali, atau disebut juga mudhun lemah atau unduhan.
Ini dilakukan karena masyarakat beranggapan bahwa tanah mempunyai kekuatan gaib. Upacara Tedhak Siten berlangsung saat anak berusia 7 lapan kalendar jawa atau 8 bulan kalender masehi.
Baca Juga: Ayu Ting Ting Ngaku Besarkan Anak Adiknya, Instagram Syifa Langsung Diserbu Warganet
Dalam usia tersebut biasanya anak mulai memasuki masa belajar berjalan sehingga inilah momen awal anak mulai menapakkan kakinya ke tanah.
2. Sejarah Tedhak Siten
Di dalam jurnal penelitian IAIN Kudus berjudul "Tradisi Tedhak Siten dalam Perspektif Sosial dan Pendidikan Islam" disebutkan tradisi tedhak siten merupakan sebuah tradisi yang berasal dari masyarakat Jawa.
Tradisi Tedhak siten menurut budaya Jawa termasuk dalam adat kebiasaan yang telah ada sejak zaman Hindu dan Budha, Animisme dan dinamisme.
Di saat para wali songo melakukan dakwah di Jawa, para ulama ini tidak menghilangkan tradisi atau budaya tertentu yang sudah ada walaupun tradisi itu telah jauh dari syari’at Islam.
Para Wali Songo justru mentransfer nilai-nilai keIslaman ke dalam tradisi tersebut termasuk tradisi Tedhak Siten. Anak bayi yang sudah berumur tujuh bulan, dalam tradisi tedhak siten ada berbagai cara yang tidak diikuti, tapi yang paling penting yakni metode pelaksanaan yang mendasar dan sangat memberikan nilai
seperti shadaqah itulah yang harus dipersiapkan.
Hal tersebut dengan tujuan semoga melalui tradisi tedhak siten itu dapat membawa berkah, kesehatan, rezeki yang melimpah pada anak khususnya keluarga.
3. Rangkaian Tedhak Siten
Dikutip dari website jogjakota.go.id, ada beberapa rangkaian kegiatan yang perlu dilakukan saat prosesi tedhak siten, yakni:
- Membersihkan kaki
Dalam proses ini orang tua menggendong anaknya untuk dicuci bersih kakinya sebelum menginjakkan kaki anak ke tanah, kegiatan ini mempunyai makna bahwa si anak mulai menapaki tanah, yang berarti mulai menapaki kehidupan yang perlu dilakukan dengan suci hati. - Berjalan melewati tujuh jadah
Dalam kegiatan ini anak dituntun untuk berjalan di atas jadah (sejenis kue dari beras ketan) sebanyak tujuh buah, dengan warna yang berbeda-beda. Ke Tujuh warna tersebut adalah merah, putih, hijau, kuning, biru, merah jambu, dan ungu. Tujuh dalam bahasa jawa disebut pitu, dengan harapan si anak kelak dalam mengatasi kesulitan hidup selalu mendapat pitulungan atau pertolongan dari Yang Maha Kuasa. Jadah dibuat beraneka warna, menggambarkan bahwa kesulitan dan rintangan hidup itu tak terhitung jenis dan ragamnya. Masing-masing warna memiliki makna tersendiri, yaitu:
Merah artinya keberanian, dengan harapan sianak berani dalam melangkah dalam kehidupan.
Warna kuning artinya kekuatan lahir dan batin yang wajib dimiliki oleh seseorang.
Putih artinya kesucian.
Merah jambu alias pink artinya cinta dan kasih saying baik kepada orangtua, kakak, eyang dll.
Biru artinya ketenagan jiwa dalam melangkah dalam kehidupan.
Hijau artinya lingkungan sekitar dan kesuburan.
Ungu artinya kesempurnaan atau puncak.
Dengan menapaki jadah 7 warna ini, diharapkan kelak si bayi mampu melewati tiap rintangan dalam hidupnya. - Tangga dari Tebu Wulung
Dalam Prosesi ini anak diajak orang tua untuk menaiki 7 (Tujuh) tangga yang terbuat dari batang tebu. Tebu berasal dari kata antebing kalbu yang berarti penuh tekad dan rasa percaya diri. Ritual ini menggambarkan bahwa bayi akan menghadapi perjalanan hidupnya hari demi hari sampai pada puncaknya. Dalam kegiatan ini didampingi oleh orang tua si anak, hal ini menggambarkan dukungan keluarga untuk anak dalam menjalani hari-harinya ke depan. Ritual ini mempunyai harapan agar kelak si bayi tidak mudah menyerah dalam meraih cita-citanya. - Kurungan
Dalam prosesi ini anak dimasukkan sangkar atau kurungan ayam. Di dalam kurungan, terdapat berbagai benda seperti perhiasan, buku tulis, beras, mainan, dan lain sebagainya. Kurungan ayam ini menggambarkan kehidupan nyata yang akan dimasuki oleh anak kelak jika dewasa. Benda yang ada di dalam kurungan nantinya akan diambil oleh anak menggambarkan profesi yang ingin dijalani kelak jika sudah dewasa. - Memandikan Anak
Air yang digunakan merupakan air yang diambil oleh kedua orang tua dari si anak yang diambil pada waktu tertentu yakni pada malam hari sekitar pukul 10-12 malam yang kemudian didiamkan atau diembunkan sampai keesokan harinya terkena sinar matahari. Dalam proses ini, anak dimandikan oleh orang tuanya dengan air yang diberi bunga. Maknanya adalah agar kelak si bayi dapat mengharumkan keluarga dan dirinya. Maksudnya, supaya ia bisa jadi anak yang membanggakan. Setelah dimandikan, kemudian anak diberi pakaian. - Memberikan udhik-udhik
Udhik-udhik, yaitu uang logam yang dicampur dengan bermacam-macam bunga. Dalam prosesi ini udhik-udhik disebar dan dibagikan kepada anak-anak dan orang dewasa yang hadir dalam acara tersebut. Harapannya kelak agar si anak jika dikarunia rezeki cukup dapat mendermakan rezekinya kepada fakir miskin.
Berita Terkait
-
Ayu Ting Ting Ngaku Besarkan Anak Adiknya, Instagram Syifa Langsung Diserbu Warganet
-
Usia Kepala Lima, Aura Yuni Shara saat Manggung Jadi Omongan: Nenek Lincah Menolak Tua
-
MUA Cina Sulap Wajah Kakeknya Mirip Artis Tampan, Usia 66 Tahun Bak Pemuda Belia
-
Sejarah Tradisi Seserahan yang Sempat Jadi Polemik Antara Ayu Ting Ting dan Fardhana, Ternyata Sudah Ada Sejak Masa VOC
-
Menjaga Semangat Juang Si Kecil: Cara Sederhana Dukung Anak Pejuang Kanker untuk Tetap Ceria
Terpopuler
- Bedak Apa yang Tahan Lama? Ini 5 Produk yang Bisa Awet hingga 12 Jam
- 5 Pemain Top Dunia yang Berpotensi Ikuti Jejak Layvin Kurzawa Main di Super League
- Pasca Penonaktifan, 3.000 Warga Kota Yogyakarta Geruduk MPP untuk Reaktivasi PBI JK
- 10 HP OPPO RAM 8 GB dari yang Termurah hingga Flagship 2026
- 4 Pilihan Smart TV 32 Inci Rp1 Jutaan, Kualitas HD dan Hemat Daya
Pilihan
-
Komisi III DPR Tolak Hukuman Mati Ayah di Pariaman yang Bunuh Pelaku Kekerasan Seksual Anaknya
-
Bocah-bocah di Sarang Polisi: Asal Tangkap Perkara Aksi Agustus
-
Selamat Jalan 'Babeh' Romi Jahat: Ikon Rock N Roll Kotor Indonesia Tutup Usia
-
Sidang Adat Pandji Pragiwaksono di Toraja Dijaga Ketat
-
Ziarah Telepon Selular: HP Sultan Motorola Aura Sampai Nokia Bunglon
Terkini
-
5 Rekomendasi Cushion yang Tahan 12 Jam: High Coverage, Make Up Awet Seharian
-
Cara Lapor setelah Mengalami Pelecehan Seksual ke SAPA 129, Jangan Diam dan Menyalahkan Diri
-
Mengenal Tradisi Nyekar dalam Pandangan Islam dan Makna Filosofis di Balik Tabur Bunga
-
KUIS: Cek Tipe Traveler Macam Apa Kamu?
-
Apa Manfaat Air Mawar untuk Kecantikan? Ini 5 Pilihan Murah di Bawah Rp20 Ribu
-
3 Pilihan Toner Wardah untuk Usia 40 Tahun ke Atas, Bantu Atasi Tanda Penuaan
-
Nivea Hijab Run 2026: Ajang Lari Unik yang Mendorong Perempuan Berani Melangkah Penuh Percaya Diri
-
5 Perbedaan Cushion dan Foundation, Mana yang Paling Cocok untuk Kulitmu?
-
Bukan Hanya Akademik! Inilah Cara Sekolah Siapkan Pemimpin Masa Depan Lewat Simulasi Sidang PBB
-
Apakah Cushion Bisa Menggantikan Foundation? Cek 5 Pilihan yang Minim Oksidasi