Suara.com - Kematian tragis gadis penjual gorengan, Nia Kurniasari memang sempat menjadi perhatian. Usai kasus pembunuhan terungkap, kuburan gadis tersebut sempat menjadi daya tarik masyarakat.
Media sosial belakangan dihebohkan dengan makam Nia yang ramai dikunjungi warga. Tak hanya itu, bahkan bunga dari para pengunjung menggunung di atas makam Nia. Makam Nia belakangan disebut jadi tempat berziarah olah warga sekitar.
“Kuburan Nia Kurnia Sari, korban perkosaan dan pembunuhan, sekarang dijadiin tempat ziarah karena katanya kuburannya "wangi." Tapi kalo lihat kuburannya yang penuh kembang dan pandan begini yaaa wajar wangi, yang ga wajar ini kuburan dijadiin tempat ziarah,” tulis akun X @kemenperinRI yang mengunggah video di makam Nia.
Lebih lanjut, seorang warganet menambahkan, bukan hanya makam bahkan TKP hingga rumah Nia dijadikan napak tilas.
Pada foto-foto yang diunggah akun X @fuwtari, terlihat warga mengunjungi rumah Nia. Sejumlah orang bahkan berdoa di lubang TKP penemuan mayat Nia meski masih ada garis polisi.
“Napak tilas ke rumah almarhumah, trs jg ada yg berdoa di lubang bekas jasad almarhumah ditemukan padahal itu jelas-jelas ada police line, ada grup facebooknya, dan yg paling out of the box sih sampe dibuatin prasasti,” imbuh akun X @/fuwtari.
Terbaru, publik makin heboh usai kisah Nia disebut bakal dijadikan film. Hal ini tampak dalam unggahan akun X @/pumoon_ yang menampilkan poster casting film Nia.
“Dari awal viral sampai orang-orang berkunjung itu aku udah ngerasa keluarga manfaatin kejadian duka ini jadi duit, diizinin bikin film sama spanduk yang isinya donasi itu no rek nya no rek ibunya atas nama Ibu Ely,” tulis akun @/pumoon_.
Unggahan tersebut sontak mengundang berbagai respons dari warganet. Tak sedikit warganet yang malah menyoroti sikap ibu dari mendiang Nia.
Baca Juga: Nantikan! Film Mendiang Song Jae-rim Dijadwalkan Rilis pada Januari 2025
“Kok bisa ya ada ibu manfaatin kematian anaknya yg tragis buat keuntungan diri sendiri gini? Aku kenal ibu yg anaknya meninggal ga wajar, diwawancara wartawan pun ga mau dia. Kerjaannya ngurung diri di kamar aja. Ini kok bisa malah open donasi segala,” komentar warganet.
“Nia gak bakalan jualan keliling kampung kalau emak bapaknya bisa menafkahi, lah ini sudah meninggal pun tetap dijadiin ladang uang sama keluarganya,” tulis warganet di kolom komentar.
“Ini jatuhnya malah zalim banget sama mendiang Nia, kok ibunya bisa begitu," timpal lainnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 10 Pantangan Feng Shui Rumah yang Sebaiknya Dihindari, dari Pintu hingga Kamar Mandi
- 3 HP Xiaomi RAM 8 GB Murah di Bawah Rp1 Juta, Ini Pilihannya
- 4 Rekomendasi Merk Rice Cooker yang Awet dan Bagus untuk Pemakaian Jangka Panjang
- Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
- Feng Shui Rumah Menghadap Utara, Lakukan 4 Tips Ini agar Energi Seimbang dan Bawa Hoki
Pilihan
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
Terkini
-
Karhutla Sumsel Mencapai 1.926 Hektare, Ancaman Besarnya Justru Setelah Api Padam
-
Karhutla Sumsel Tembus 664,97 Hektare, 1.077 Kejadian Tercatat hingga Agustus
-
Bank Sumsel Babel dan Kodam II/Sriwijaya Perkuat Akses Layanan Keuangan Prajurit
-
Menteri Kebudayaan Fadli Zon Beberkan Alasan Geser Konser GBN dari Kota Tua ke Kabupaten Bogor
-
Polrestabes Bandung: Sopir Truk Jadi Tersangka Tabrak Lari yang Tewaskan Polisi
-
Cara Dapat Diskon Tiket Gaia Music Festival 2026 Pakai BRImo
-
Beli Produk Nespresso Pakai BRI Bisa Hemat Rp750 Ribu
-
InJourney & Garuda Indonesia Kolaborasi: Gratiskan 170.845 Tiket Domestik Bagi Wisatawan Mancanegara
-
InJourney & Garuda Indonesia Perkuat Konektivitas dan Kunjungan Wisatawan Mancanegara ke Indonesia
-
Kasus PETI Kuansing, Polisi Sita Ratusan Gram Perhiasan di Toko Emas Kampar