Suara.com - Salah satu pameran internasional bergengsi di Kawasan Arab, yaitu Sharjah Biennale, Kembali akan digelar untuk ke-16 kalinya pada 2025 ini, dengan tajuk “to carry” yang akan dibuka pada Februari 2025 mendatang. Salah satu kurator Indonesia, Alia Swastika, menjadi bagian dari tim kurator bersama empat kurator lain yaitu Amal Khalad (Bahrain/Singapura), Natasha Ginwala (India), Zeynep Oz (Turki/Amerika) dan Megan Tamati-Quennell (Selandia Baru). Dalam “to carry” para kurator menyoroti bagaimana kerja lintas ruang dan lintas waktu membuka ruang pertemuan di mana setiap yang terlibat membawa beragam narasi dan latar belakang, terutama dalam periode dunia yang penuh ketegangan dan konflik. “Apakah yang kita bawa dalam diri kita ketika kita bertahan? Ketika kita terus berjuang?” menjadi dua pertanyaan besar yang menjadi titik pijak kerja kuratorial kolektif ini.
Kurator Alia Swastika tertarik untuk melihat bagaimana Biennale menjadi ruang untuk saling terhubung, bekerja bersama, berkolaborasi, dan menjahit cerita antar generasi dan membawa Kembali pengetahuan-pengetahuan leluhur yang dikombinasikan dengan spekulasi atas masa depan. Alia Swastika tertarik untuk melihat kerja penciptaan bersama, terutama dari para seniman perempuan, yang mencatat beragam pengetahuan dan narasi yang tersembunyi dari sejarah arus utama.
Dalam bagian yang ia kuratori, berjudul “Rosestrata: Trajectory/Translation”, Alia Swastika mencoba membangun jembatan dari pengetahuan masa lalu, melalui jejak arkeologis dan manuskrip yang selama ini tak sepenuhnya dimaknai dan dihayati, hingga spekulasi pengetahuan masa depan melalui berbagai piranti teknologi. Projek ini juga menekankan pentingnya memberi pengakuan terhadap pengetahuan perempuan, atau pengetahuan dari kelompok-kelompok ulayat, yang selama ini acapkali tak punya tempat dalam narasi arus utama. Kata Rosestrata sendiri berangkat dari fenomena batu rosetta yang merupakan artefak penting dalam upaya memahami pengetahuan Mesir, yang dalam perspektif tertentu juga dilihat sebagai ruang bagi perjuangan pengetahuan perempuan.
Alia Swastika mengundang Sembilan partisipan Indonesia yang terdiri dari 12 seniman/peneliti untuk terlibat dalam Sharjah Biennale 16 ini. Mereka adalah Betty Adii dan Septina Layan (Papua), inisiatif kolektif Concrete Thread Reportoir (Ugoran Prasad, Wimo Ambala Bayang, Linda Agnesia bersama Ibu Harwati, Komunitas Kendeng dan Komunitas di Mollo), Citra Sasmita, Dian Suci Rahmawati, Ipeh Nur, Mangku Muriati, Nadiah Bamadhaj, Restu Ratnaningtyas, Rully Shabara dan Salima Hakim. Para seniman mengolah berbagai isu mulai dari konteks perubahan lanskap laut di Pantura, respon warga dan komunitas terhadap narasi hilangnya hutan dalam projek Lumbung Pangan Papua, tradisi tenun dan pengetahuan perempuan di Flores dan Timor, narasi tentang arsip dan tradisi penulisan Bali, penciptaan spekulasi pengetahuan melalui kecerdasan buatan, pencatatan aktivisme dan perjuangan warga, dan isu-isu lainnya. Keragaman isu ini penting untuk memperkenalkan narasi dan tradisi yang beragam dari Indonesia dalam dinamika global yang relevan dengan perkembangan hari ini.
Para seniman dari Indonesia ini menampilkan karyanya bersama dengan 190 seniman lain dari berbagai belahan dunia, termasuk figur-figur penting dalam seni rupa kontemporer dunia seperti Ellen Pau, Akram Zatari, Daniel Boyd, Shubigi Rao, dan lain sebagainya.
Pameran Sharjah Biennale 16 to carry akan berlangsung hingga 15 Juni 2025, mengambil tempat di kota Sharjah dan beberapa kota lain di sekitarnya seperti Al Dhaid, Kalba, Hamriyah dan sebagainya. Sharjah Biennale sendiri dikenal sebagai salah satu gelaran penting dalam kurun waktu 20 tahun terakhir, yang membawa pemikiran dan sejarah Global Selatan sebagai salah satu fokus pendekatan kuratorial. Direktur Sharjah Art Foundation, penyelenggara gelaran ini, yaitu Hoor Al Qassimi, pada 2024 lalu dinobatkan sebagai tokoh paling berpengaruh di dunia seni atas kontribusinya menjadikan Sharjah sebagai ruang dialog antar pelaku seni dan pemikir di Kawasan Arab dan negara-negara Selatan.
Selengkapnya mengenai Sharjah Biennial 16 to carry dapat diakses melalui www.sharjahart.org
Tag
Berita Terkait
-
Pesona Desa Wisata Krebet Bantul: Surga Tersembunyi yang Cocok Jadi Destinasi Touring Akhir Pekan
-
Kemendag Klaim Ekspor Produk Kreatif RI Tumbuh Positif
-
Batik Gunung Kendil Rembang Sukses Tembus Pasar Eropa
-
Penguatan Ekonomi UMKM Batik di Giriloyo Melalui 'Diplomasi' Pasar Global
-
Perjalanan Batik Tulis Ethnic Gendhis, dari Ruang Tamu hingga Ekspor ke Inggris
Terpopuler
- Link Download Logo dan Tema HUT Bhayangkara ke-80 2026 untuk Ulang Tahun Polri
- 5 Sepeda Gunung MTB Polygon Termurah, Tangguh dan Awet Untuk Harian
- 5 HP Samsung 5G Termurah 2026, Fitur Lengkap dan Performa Stabil untuk Jangka Panjang
- Ogah Pasang AC? Ini 4 Rekomendasi Air Cooler yang Murah, Hemat Listrik, dan Cepat Dingin
- Golkar Sulsel Memanas, Ini Alasan Pendukung Appi Alihkan Dukungan ke IAS
Pilihan
-
Tangis Bayi Pecah Pagi Hari, Warga Temukan Bayi Perempuan Baru Lahir di Teras Rumah
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
-
Ole Romeny Bakal Satu Tim dengan Justin Hubner di Liga Belanda, Fortuna Sittard Siapkan Tawaran
-
Antar Timnas Perancis ke 16 Besar, Mbappe Pecahkan Sejumlah Rekor Piala Dunia 2026
-
Prabowo ke Polisi: Gaji dan Senjata Kalian dari Rakyat, Jadi Jangan Menyusahkan Rakyat
Terkini
-
Bukan Cuma Belanja, Jakarta Fair 2026 Juga Hadirkan Meet & Greet Bareng Pesepak Bola
-
Shio Terkuat Shio Apa? Ternyata Ini Jawabannya
-
Muncul Kerutan di Usia 20-an, dr Zie Rekomendasikan Natur-E Hyaluglow Serum untuk Jaga Elastisitas
-
Tak Punya Banyak Waktu di Dapur? Peralatan Pintar Kini Bisa Bantu Masak Lebih Praktis
-
Cari Moisturizer yang Bagus untuk Mencerahkan? Ini 4 Pilihan dengan Review Pembeli
-
Promo Alfamart Terbaru 2 Juli 2026: Minyak 2 Liter Rp43.900 hingga Indomie 5 Bungkus Rp14.600
-
8 Sunscreen Terlaris di Shopee Sepanjang 2026, Wardah Masih Mendominasi
-
Dokter Tifa Lulusan Mana? Jalani 2 Sidang Sekaligus
-
Mengapa Junk Journal Bisa Menjadi Cara Sederhana Mengurangi Sampah Kertas?
-
Lari Jadi Gaya Hidup, Busana Syar'i Tak Halangi Perempuan Aktif Berolahraga