Suara.com - Lebaran Ketupat adalah tradisi yang dilakukan oleh sebagian umat Islam di Indonesia, terutama yang berasal dari Jawa. Tradisi ini biasanya dilaksanakan setelah Hari Raya Idulfitri, tepatnya pada tanggal 7 Syawal, dengan menyajikan ketupat sebagai makanan utama dan makanan pendamping lainnya serta kegiatan bersilaturahmi di antara keluarga dan tetangga. Namun, seiring dengan perkembangannya, muncul pertanyaan tentang hukum Lebaran Ketupat menurut agama Islam.
Tradisi Lebaran Ketupat bermula dari masyarakat Jawa sebagai bentuk syukur dan perayaan setelah selesai menjalankan ibadah puasa selama bulan Ramadan. Ketupat yang merupakan simbol keberkahan dibuat dari beras yang dimasukkan ke dalam daun kelapa muda dan dimasak hingga matang. Masyarakat Jawa percaya bahwa ketupat melambangkan penyucian diri setelah berpuasa sebulan penuh, sebagaimana ketupat yang dibungkus dan disajikan dalam bentuk yang sempurna.
Namun penting untuk dipahami bahwa Lebaran Ketupat bukanlah ajaran dari Nabi Muhammad SAW atau perintah yang tercantum dalam Al-Qur'an dan Hadis. Tradisi ini lebih merupakan budaya lokal yang berkembang seiring dengan perjalanan sejarah dan adat istiadat di masyarakat tertentu.
Ustadz Syafiq Basalamah pun pernah membahas soal hukum dari merayakan Lebaran Ketupat ini.
Secara umum, hukum mengenai pelaksanaan Lebaran Ketupat dapat dipahami dari sudut pandang dua hal, yaitu hukum adat dan hukum syariat. Dalam Islam, tidak ada larangan tegas mengenai perayaan ini selama tradisi tersebut tidak bertentangan dengan ajaran agama.
Namun perlu ditekankan bahwa Lebaran Ketupat bukanlah kewajiban yang diatur dalam syariat Islam. Oleh karena itu, tidak ada perintah dari Allah SWT atau Rasulullah SAW yang secara khusus menyebutkan bahwa umat Islam harus merayakan Lebaran Ketupat. Begitu pula, tidak ada larangan untuk merayakannya, asalkan perayaan tersebut tidak mengarah pada hal-hal yang bertentangan dengan ajaran Islam, seperti kesyirikan atau perbuatan yang merugikan orang lain.
Jika dilihat dari sudut pandang sosial, Lebaran Ketupat bisa dianggap sebagai bentuk syukur dan sarana untuk mempererat hubungan silaturahmi antar sesama umat Islam. Dalam Islam, silaturahmi sangat dianjurkan dan memiliki banyak pahala. Sesuai dengan sabda Rasulullah:
Rasulullah SAW bersabda, "Barang siapa yang ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah dia menyambung tali silaturahmi." (HR. Bukhari).
Oleh karena itu, selama pelaksanaan tradisi Lebaran Ketupat tidak mengandung hal-hal yang bertentangan dengan syariat, seperti perbuatan maksiat atau bid'ah (perbuatan yang tidak ada tuntunannya dalam Islam), maka tradisi ini dapat dianggap sebagai kebiasaan yang diperbolehkan.
Baca Juga: Apakah Puasa Syawal Harus Bayar Hutang Puasa Ramadhan Dulu? Ini Penjelasannya
Ustadz Syafiq Riza Basalamah juga menegaskan bahwa penting untuk memperhatikan niat dan tujuan dalam pelaksanaan Lebaran Ketupat. Jika tujuan dari tradisi ini adalah untuk merayakan kemenangan setelah berpuasa, menyambung silaturahmi, dan menjaga kebersamaan, maka hal ini bisa dianggap sah dan sesuai dengan prinsip-prinsip Islam.
Namun jika ada unsur-unsur yang mengarah pada kesyirikan atau perbuatan yang tidak sesuai dengan ajaran Islam, seperti menganggap tradisi ini sebagai kewajiban yang harus dilakukan, maka hal tersebut bisa menjadi masalah dalam pandangan agama.
Secara adatnya, Lebaran Ketupat ini biasanya dirayakan di hari ke-7 setelah Hari Raya Idul Fitri yang bersamaan dengan jumlah puasa Syawal yang disunahkan oleh Nabi Muhammad SAW. Namun sejatinya, puasa Syawal baru bisa dimulai dilakukan di tanggal 2 Syawal dan menandakan bahwa Lebaran Ketupat ini hanya perayaan syukuran, bukan lebaran "kedua" setelah Idul Fitri.
Banyak ulama yang berpendapat bahwa puasa Syawal makruh dilaksanakan jika dilakukan secara berturut-turut. Hal ini juga dikaitkan dengan perayaan Lebaran Ketupat yang dilaksanakan di hari ke-7 Lebaran dan dikhawatirkan akan membuat pandangan baru bahwa puasa Syawal adalah puasa wajib dan harus dirayakan.
Hukum Lebaran Ketupat dalam agama Islam pada dasarnya tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip ajaran agama asalkan tradisi ini dilaksanakan dengan niat yang baik dan tidak mengandung unsur-unsur yang melanggar syariat Islam.
Sebagai bagian dari budaya lokal yang berkembang di masyarakat, Lebaran Ketupat dapat dianggap sebagai cara umat Islam untuk merayakan Idul Fitri dengan berbagi kebahagiaan dan mempererat tali persaudaraan. Namun, umat Islam tetap diingatkan untuk selalu menjaga prinsip syariat dan menghindari segala bentuk perbuatan yang dapat merusak nilai-nilai agama dalam pelaksanaannya.
Kontributor : Dea Nabila
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Shio yang Menarik Keberuntungan 28 Juni 2026, Hari Penuh Hoki dan Kesempatan
- 4 Sepatu Kanky Terlaris di Shopee, Nyaman Dipakai Seharian Sesuai Review Pembeli
- HBL Mantiri Dikukuhkan jadi Ketua BPP PPAD Gantikan Try Sutrisno
- 5 Motor Teririt untuk Buruh dan Pelajar, Dompet Tetap Aman Meski Pakai Pertamax
- 10 Promo Sepatu Lari di Sports Station: Adidas, Reebok, dan New Balance Mulai Rp299 Ribuan
Pilihan
-
Kabar Duka! Legenda Persija Si Macan Betawi Tan Liong Houw Tutup Usia
-
Takut PHK, Prabowo Putuskan Harga LNG untuk Industri USD 13/MMBTU
-
Sejarah! Timnas Voli Indonesia Kalahkan Korsel dan Juara AVC Mens Volleyball Cup 2026
-
Bumi Berguncang! Gempa 6,2 M Hantam Afghanistan, Getaran Terasa Hingga India
-
Perang Meletus Lagi! Iran Hantam Basis AS di Teluk, Gencatan Senjata Runtuh
Terkini
-
Daftar Tanggal Merah Juli 2026, Catat Jadwal Libur dan Hari Penting Sepanjang Bulan
-
Beda Skin Tint dan Tinted Moisturizer, Mana yang Lebih Cocok untuk Kamu?
-
4 Shio yang Bernasib Baik 30 Juni 2026, Bawa Perubahan Positif dan Impian Terwujud
-
Tips Liburan Hemat dan Seru Bersama Keluarga di Resor Mewah Macau
-
Liburan Sekolah Makin Seru! Intip Keseruan Dunia 'Minions & Monsters' yang Hadir di Jakarta
-
Sumur Bor Kedalaman 20 Meter Pakai Pompa Air Apa? Segini Biaya yang Perlu Kamu Siapkan
-
Sunscreen Apa yang Bikin Glowing? Ini 7 Pilihan Terbaik sesuai Review dan Harga
-
Kenapa Cushion Cepat Oksidasi? Ini Penyebab dan 3 Rekomendasi untuk Makeup Anti Kusam
-
6 Shio yang Gampang Dapat Keberuntungan, Anak Emas Alam Semesta
-
4 Lipstik Wardah di Alfamart dengan Formula Transferproof hingga Foodproof