Suara.com - Di tengah gempuran teknologi dan tren hiburan digital, siapa sangka permainan domino masih bertahan dan bahkan terus dimainkan lintas generasi.
Lebih dari sekadar tradisi turun-temurun, domino kini menjadi simbol kebersamaan yang merekatkan hubungan antarindividu, baik di kota maupun desa.
Permainan ini tidak hanya mengasah strategi dan kecermatan, tetapi juga menyimpan nilai-nilai sosial yang kental—dari gotong royong hingga solidaritas komunitas.
Domino membuktikan bahwa budaya lokal tak harus ditinggalkan, justru bisa hidup berdampingan dengan modernitas.
Domino Diangkat ke Level Profesional
Bukan cuma seru dimainkan saat santai, domino juga mulai diangkat ke level profesional, dibalut turnamen berskala besar dan dukungan dari berbagai pihak.
Gelaran akbar bertajuk “Open Tournament Domino Menpora Cup 2025” siap digelar dan menarik perhatian ribuan peserta dari seluruh Indonesia.
Turnamen bergengsi ini akan dilangsungkan pada 4–6 Juli 2025 di Tribun Lapangan Andi Jemma, Belopa, Kabupaten Luwu, dan diselenggarakan oleh Higgs Games Island (HGI) bersama Persatuan Olahraga Domino Indonesia (PORDI) Luwu.
Acara yang diharapkan akan melibatkan lebih dari 3.000 peserta dari berbagai daerah ini merupakan salah satu kompetisi domino terbesar tahun ini di Sulawesi Selatan.
Baca Juga: Tradisi Bali Larang Wisatawan Menstruasi Masuk Pura, Ini Alasannya Menurut Adat
“Sebagai bentuk dukungan terhadap olahraga intelektual tradisional, ini akan menjadi salah satu kompetisi domino terbesar di wilayah Sulawesi Selatan tahun ini,” ungkap Finn, Project Manager dari HGI.
Antara Warisan dan Prestasi
Tak sekadar kompetisi, turnamen ini membawa misi penting: mengangkat domino sebagai bagian dari warisan budaya Indonesia yang tetap relevan dan hidup di tengah arus modernisasi.
Domino bukan hanya permainan yang mengisi waktu senggang. Ia telah menjadi simbol kebersamaan, strategi kolektif, dan kecerdasan lokal, yang diwariskan turun-temurun dari desa-desa terpencil hingga pusat kota.
Melalui Menpora Cup 2025, PORDI dan HGI berusaha menghadirkan wajah baru domino—lebih profesional, lebih bergengsi, dan tetap menjaga akar budayanya.
Turnamen ini juga mencerminkan kolaborasi kuat antara pemerintah daerah, komunitas, dan pelaku industri game untuk menjaga nyala semangat permainan tradisional di era digital.
Berita Terkait
Terpopuler
Pilihan
-
Balas Rhoma Irama, LMKN Jelaskan Akar Masalah Royalti Musik Dangdut Jadi Rp25 Juta
-
Buat Kaum dengan Upah Pas-pasan, Nabung dan Investasi Adalah Kemewahan
-
Resmi! Liliek Prisbawono Jadi Hakim MK Gantikan Anwar Usman
-
Apartemen Bassura Jadi Markas Vape Narkoba, Wanita Berinisial E Diciduk Bersama Ribuan Barang Bukti!
-
Mendadak Jakarta Blackout Massal: Sempat Dikira Peringatan Hari Bumi, MRT Terganggu
Terkini
-
5 Mesin Cuci Front Loading Langsung Kering Tanpa Jemur, Baju Bisa Langsung Dipakai
-
5 Zodiak Paling Hoki Soal Keuangan dan Karier pada 13 April 2026
-
5 AC Portable Mini Watt Kecil untuk di Kamar: Angin Semriwing, Anti Ribet Pemasangan
-
7 Mesin Cuci 2 Tabung yang Awet dan Hemat Listrik, Cucian Cepat Kering dan Bersih Maksimal
-
Pilah Sampah dari Sumber, Jalan Nyata Jakarta Tekan Timbulan hingga Tuntas
-
Transformasi Pengelolaan Sampah Daerah Harus Dimulai dari Hulu, Bukan Solusi Instan Hilir
-
Kemenekraf Dukung IDD Pavilion Tembus Dunia, Target Ubah Citra Indonesia Jadi Pusat Desain Global
-
Bagaimana Cara agar Cushion Tidak Luntur Saat Berkeringat? 7 Tips Makeup Tahan Lama di Cuaca Panas
-
5 Serum Anti Aging Ampuh untuk Hilangkan Kerutan Wajah
-
5 Bedak Glad2Glow untuk Kulit Sawo Matang yang Tahan Lama