- Festival Teras Main Indonesia mengajak anak kembali mengenal permainan tradisional sebagai sarana pembentukan karakter.
- KPOTI menegaskan permainan tradisional menyimpan nilai Pancasila, gotong royong, dan kebersamaan yang perlu dihidupkan kembali.
- Lewat permainan dari 33 provinsi, festival ini mendorong sekolah dan keluarga mengadopsi tradisi bermain sebagai bagian pendidikan karakter.
Suara.com - Di tengah derasnya arus digital yang mengubah cara anak-anak Indonesia bermain, permainan tradisional perlahan memudar dari ingatan.
Padahal, di balik kesederhanaannya, permainan rakyat menyimpan nilai kebersamaan, sportivitas, dan karakter gotong royong yang selama ini menjadi jati diri bangsa.
Menghidupkan kembali permainan tradisional bukan hanya soal nostalgia, tetapi juga upaya menjaga akar budaya sekaligus membentuk karakter generasi masa depan.
Kesadaran inilah yang melandasi Komite Permainan Rakyat dan Olahraga Tradisional Indonesia (KPOTI) menghadirkan Teras Main Indonesia, sebuah festival permainan rakyat yang digelar di Selasar Gedung Sasono Utomo, Taman Mini Indonesia Indah.
Acara ini menjadi ruang perjumpaan penting untuk menengok kembali kekayaan tradisi bermain yang kian jarang terlihat, namun memiliki peran besar dalam pertumbuhan karakter anak.
Ketua Dewan Pengarah KPOTI, Dr. Rima Agristina, menegaskan bahwa Indonesia memiliki anugerah budaya yang tak ternilai, termasuk dalam tradisi bermain.
“Bukan saja keberagaman suku bangsa, tetapi juga kita diwariskan permainan dan olahraga tradisional, yang berdasarkan penelitian KPOTI, ada dari 2.600 permainan dan olahraga tradisional di Indonesia, terbanyak di dunia,” ujarnya.
Rima juga menekankan bahwa permainan tradisional mengandung nilai-nilai Pancasila yang penting diwariskan kepada generasi muda.
“Perlu kita lestarikan, perlu kita hidupkan kembali agar anak-anak kita, pewaris bangsa dan calon pemimpin masa depan, tumbuh dengan karakter Indonesia yang sesungguhnya, karakter Pancasila,” tegasnya.
Baca Juga: Tiap Meter Persegi di Jabodetabek Tercemar 4 Puntung Rokok, Perusahaan Ini Juaranya
Ketua Pelaksana Teras Main Indonesia, Dr. M. Zaini Alif, menggambarkan kondisi permainan tradisional yang kini makin terpinggirkan akibat digitalisasi.
“Anak-anak masa kini lebih akrab dengan gim digital daripada permainan seperti bentengan, kelereng, gobak sodor, atau congklak. Hilangnya tradisi bermain ini tidak hanya mengancam keberlanjutan budaya, tetapi juga mengikis nilai-nilai luhur yang selama ini menjadi jati diri Bangsa,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa karakter bangsa tumbuh sejak masa kanak-kanak, dan permainan tradisional adalah ruang pertama bagi anak untuk belajar bekerja sama, berinteraksi, dan memahami nilai kebersamaan.
“Cara kita bermain, berinteraksi, dan mewariskan nilai menjadi fondasi penting bagi masa depan Indonesia,” katanya.
Festival ini menampilkan permainan dari 33 provinsi, mulai dari Bodu Bue Duk Doeng dari Aceh, Pacu Upiah dari Sumatera Barat, Balogo dari Kalimantan Selatan, hingga panahan khas Merauke dari Papua Selatan.
Pengunjung, baik anak-anak maupun orang dewasa diajak mencoba langsung permainan-permainan tersebut. Ritme interaksi yang lahir dari kerja sama, ketangkasan, dan tantangan fisik sederhana menghadirkan kembali suasana bermain yang hangat dan hidup.
Berita Terkait
Terpopuler
- Feng Shui Warna Cat Rumah Pembawa Keberuntungan Berdasarkan Shio
- Debitur Dikejar Utang, Yasonna Laoly Minta PPATK Telusuri Sumber Dana Pinjol
- Apa Itu IKD dan Kenapa Wajib Memilikinya?
- 5 Rice Cooker Murah untuk Keluarga Kecil, Hemat Listrik dan Awet
- HP RAM 16 GB Berapa Harganya? Ini 5 Pilihan Termurah dengan Performa Ngebut
Pilihan
-
Pernyataan Prabowo Soal Gaji Pengupas Bawang Dipertanyakan, Keluarga Susanah: Itu Salah
-
Prabowo Sebut Upah Kupas Bawang Rp700 Ribu per Kg, Emak-emak Bogor Tertawa: Sini Cuma Rp1.200
-
Prabowo Salah! Upah Susanah Bukan Rp 700 Ribu Tapi Rp 700 Perak per Kilogram
-
Gempa 6,4M Guncang Sumatera Utara sampai Sumbar
-
Masih Banyak Warga NTT Terjebak di Bawah Reruntuhan Bangunan, 2000 Orang Mengungsi
Terkini
-
Semarak 'Ngahias Lembur' di Cibadak: Ketika Seni Sunda, Kekompakan Warga dan Rasa Haru Menyatu
-
Upacara 17 Agustus di Belitung Digelar Tanpa Tenda, Pejabat dan Warga Kepanasan Bersama
-
Semarak Kemerdekaan, Warna Merah Putih Hadir di Ruang Publik dan Kampung Nelayan
-
Viral Siswa SMKN 2 Palembang Dikeroyok, Benarkah Dipicu Tawuran Antarpelajar?
-
10.910 Warga Binaan di Sumsel Terima Remisi HUT RI, Ratusan Langsung Bebas
-
Turnamen Dikemas Lebih Berbeda, Ratusan Pemain Bakal Adu Kekuatan Tenis Meja
-
Gempa Flores Disusul Dua Gempa Besar di Sumatra dan Sulawesi, Benarkah Gempa Menjalar?
-
175 Perahu Bakal Ramaikan Festival Pacu Jalur 2026 Kuansing, Berikut Daftarnya
-
Merdeka dari Penjajah, Tapi Belum Merdeka dari Amarah: Mengapa Masyarakat Masih Suka Menghakimi?
-
Sebanyak 86 Persen BTS yang Rusak Akibat Gempa Flores Sudah Beroperasi Lagi