- Kurangnya dukungan keluarga merupakan pemicu utama perceraian (43%) melampaui perselingkuhan (34%) berdasarkan data Forbes Advisor.
- Krisis pernikahan sering terjadi pada rentang empat hingga delapan tahun karena akumulasi tanggung jawab dan benturan ekspektasi.
- Konflik sepele yang diabaikan, diperparah intervensi keluarga dan media digital, dapat memicu perceraian pasangan figur publik.
Suara.com - Gelombang perceraian figur publik kembali mencuat sepanjang 2025. Setelah publik dikejutkan oleh berakhirnya pernikahan Raisa dan Hamish Daud, perhatian bergeser pada kabar keretakan rumah tangga politikus Ridwan Kamil dan Atalia Praratya. Deretan peristiwa ini bukan sekadar gosip selebritas, melainkan potret rapuhnya institusi pernikahan di tengah tekanan sosial modern.
43 Persen Perceraian karena Kurang Dukungan Keluarga
Di balik sorotan kamera dan citra harmonis yang ditampilkan ke publik, perceraian menyimpan persoalan yang jauh lebih kompleks. Data Forbes Advisor menunjukkan, pemicu terbesar perceraian justru bukan perselingkuhan atau masalah finansial, melainkan kurangnya dukungan keluarga. Faktor ini menempati posisi teratas dengan persentase 43 persen, melampaui perselingkuhan yang berada di angka 34 persen.
Pandangan tersebut sejalan dengan pengalaman Detektif Jubun, praktisi jasa detektif yang kerap menangani konflik rumah tangga lintas latar belakang, termasuk figur publik. Menurutnya, keluarga besar sering menjadi titik awal konflik berkepanjangan.
“Dalam pengalaman saya, kurangnya dukungan keluarga besar sangat dominan. Ketika pasangan merasa tidak didukung atau terus diintervensi, tekanan psikologis meningkat dan konflik sulit diredam,” ujar Jubun, Rabu (17/12/2025).
Ia menegaskan, konflik keluarga hampir selalu muncul lebih dulu dibandingkan perselingkuhan atau persoalan ekonomi. “Perselingkuhan sering kali merupakan reaksi atas rasa tidak aman, kesepian, dan minimnya dukungan emosional—bukan sebab utama,” katanya.
Fase Rawan Pernikahan
Secara akademik, temuan ini selaras dengan pendapat Dr. Helen Fisher, PhD, antropolog Universitas Rutgers, yang menyebut usia pernikahan empat tahun sebagai fase krisis. Pengacara perceraian Bettina Hindin bahkan mencatat puncak perceraian terjadi pada usia lima hingga delapan tahun pernikahan. Jubun menyebut rentang waktu ini sebagai masa ujian paling rawan.
“Di fase 4–8 tahun, tanggung jawab bertambah, ekspektasi berbenturan dengan realitas, dan komunikasi mulai berubah. Masalah laten yang dulu terpendam mulai muncul ke permukaan,” jelasnya.
Baca Juga: Na Daehoon Resmi Cerai dengan Jule, Menangkan Hak Asuh 3 Anak
Tekanan tersebut, menurut Jubun, berlipat ganda pada figur publik. Tuntutan citra, ekspektasi sosial, serta kaburnya batas privasi membuat konflik berkembang lebih cepat. “Apalagi jika keluarga besar ikut terlibat. Persoalan kecil bisa membesar dalam waktu singkat,” ujarnya.
Ia menambahkan, hampir semua konflik besar berawal dari masalah sepele yang diabaikan. “Masalah kecil yang tidak diselesaikan berubah menjadi jarak emosional, lalu berkembang menjadi konflik kompleks, termasuk dugaan perselingkuhan,” katanya.
Tanda-tanda keretakan umumnya terlihat dari menyusutnya komunikasi, percakapan yang hanya bersifat teknis, dan hilangnya keterbukaan emosional. Jika dibiarkan, hubungan masuk fase rapuh. Dampaknya tidak berhenti pada pasangan, tetapi juga anak-anak.
“Penyesalan pasca perceraian, terutama soal waktu bersama anak, sangat sering muncul. Banyak klien baru menyadari besarnya kehilangan setelah semuanya berakhir,” ujar Jubun.
Di era digital, teknologi kerap mempercepat eskalasi konflik. Pesan singkat tanpa konteks, jejak digital, dan media sosial menjadi sumber salah tafsir dan kecurigaan. “Dalam banyak kasus yang saya tangani, dugaan perselingkuhan ternyata berakar pada krisis kepercayaan dan komunikasi,” katanya.
Jubun juga melihat pergeseran nilai dalam pernikahan modern: toleransi terhadap konflik menurun, sementara ekspektasi kebahagiaan meningkat. Kesalahan paling fatal, menurutnya, adalah berharap waktu akan menyelesaikan masalah. “Dalam rumah tangga, masalah yang diabaikan justru membesar.”
Sebagai penutup, ia menekankan pentingnya komunikasi terbuka sejak awal, kesepakatan batas peran keluarga besar, serta kesadaran bahwa pernikahan adalah proses jangka panjang yang menuntut ketahanan emosional. Ia juga mengingatkan dampak sosial dari perceraian figur publik.
“Fenomena ini bisa membentuk persepsi bahwa perceraian adalah solusi mudah, padahal konsekuensinya panjang dan kompleks,” ujarnya.
Pesannya tegas sekaligus reflektif: “Jangan mengambil keputusan permanen saat emosi masih mendominasi. Banyak rumah tangga runtuh bukan karena tak bisa diselamatkan, tetapi karena terlambat berbicara dengan jujur. Masalah terbesar bukan kurangnya bukti, melainkan kurangnya keberanian untuk saling mendengar,” pungkasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Bawa Kasus Penebangan Pohon ke Jalur Hukum, Farhan Siap Lapor Gubernur Jabar dan KLH
- Putusan MK soal Kuota Internet Hangus Ubah Peta Bisnis Operator, Pakar: Paket Data Bakal Berubah
- 5 Kulkas Mini yang Murah dan Hemat Listrik, Bisa Dipakai di Kamar Kos dan Mobil
- Harta Kekayaan Iptu Setya Budi Dias, Oknum KPK Pemeras Bupati Pemalang
- 5 Sepatu Kasual Nyaman untuk Jalan Kaki di Kota, Ringan dan Empuk Dipakai Seharian
Pilihan
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
Terkini
-
Kecelakaan Beruntun di Pasaman, Dua Penumpang Luka-luka dan Sejumlah Kendaraan Rusak
-
Tragedi Proyek Sekolah Rakyat, 3 Pekerja Hanyut di Sungai Ogan Saat Menyeberang
-
Anak Kembali Aktif Bersekolah, Jangan Lupakan Perlindungan dari Demam Berdarah Dengue
-
Bypass Jantung Kini Tak Perlu Belah Tulang Dada, Teknik Minimal Invasif Percepat Pemulihan
-
Polisi Ungkap Plot Twist Kasus Jesslyn Wijaya, Dugaan Penculikan Terpatahkan
-
IHSG Diproyeksi Menguat Besok, Ini Saham yang Bisa Dipantau
-
Produk RI Makin Dilirik Asing, UMKM Perak Lokal Tembus Tiga Negara
-
Lowongan 94 Nakes di RSUD Arifin Achmad Pekanbaru, Rekrutmen Dibuka Agustus
-
BNI Wujudkan Mimpi Pasangan Miliki Rumah Pertama Setelah 14 Tahun Menikah
-
Kevin Hardino dan Rachel Kesyah Aurellia Terpilih Jadi Bujang Gadis Palembang 2026