Suara.com - Beberapa hari terakhir, jagat media sosial di Indonesia kembali diramaikan oleh tren kuliner yang cukup mencuri perhatian, yaitu minuman matcha disajikan dalam wadah mirip kantong infus dengan label “D5 Dextrose monohydrate”.
Tren ini lantas menjadi viral di platform seperti X dan TikTok karena tampilannya yang unik sekaligus memicu kekhawatiran banyak netizen. Video dan foto yang beredar menampilkan matcha kemasan infus medis lengkap dengan selang dan skala takaran.
Hal yang membuat warganet terkejut adalah adanya label “D5 Dextrose monohydrate” dan nama perusahaan alat kesehatan pada kemasan tersebut. Hal tersebut mirip persis dengan kantong infus yang biasa dipakai di rumah sakit.
Bahkan beberapa netizen mempertanyakan dari mana asal kemasan infus itu didapatkan, apakah itu benar-benar produk medis asli atau hanya gimik marketing semata.
Respons Pihak Produsen Alat Kesehatan
Menanggapi viralnya gambar tersebut, PT Otsuka Indonesia secara resmi menyampaikan bahwa produk minuman matcha tersebut bukan berasal dari mereka, meskipun label pada kemasan menggunakan nama PT Otsuka.
Perusahaan menegaskan bahwa kemasan yang dipakai itu bukan produk resmi mereka, dan segala risiko yang muncul akibat konsumsi atau penggunaan kemasan tersebut bukan tanggung jawab mereka.
Mereka juga menduga adanya penyalahgunaan merek dan kemasan medis pada produk minuman tersebut.
Apa Arti “D5 Dextrose Monohydrate”?
Istilah D5 sering kali digunakan dalam dunia medis sebagai singkatan dari larutan glukosa 5% dalam air untuk infus intravena.
Larutan ini berisi gula sederhana (dextrose) yang dilarutkan ke dalam air steril, dan lazim dipakai untuk membantu pasien yang membutuhkan asupan cairan atau untuk membantu menangani kondisi tertentu seperti hipoglikemia (kadar gula darah rendah).
Baca Juga: Dari Ejekan Jadi Rezeki, Patung Macan Putih Kediri Jadi Wisata Dadakan
Namun penting dicatat bahwa larutan infus ini hanya untuk penggunaan medis di bawah pengawasan tenaga kesehatan, dan bukan produk konsumsi umum seperti minuman ringan.
Lantas, Kenapa Banyak Netizen Khawatir?
Kontroversi ini tidak sekadar soal estetika kemasan. Beberapa tenaga kesehatan dan warganet mengangkat sejumlah kekhawatiran penting, di antaranya:
1. Asal-usul Kemasan Infus
Publik mempertanyakan apakah kemasan tersebut benar-benar produk medis bekas pakai yang di-reuse (keselamatan dan kebersihan meragukan), atau hanya custom packaging yang meniru bentuk infus. Kedua kemungkinan itu sama-sama menimbulkan pertanyaan mengenai keamanan dan higiene.
2. Label “D5” dan Nama Perusahaan
Munculnya label medis asli di wadah minuman tanpa klarifikasi menimbulkan kebingungan dan potensi salah kaprah di kalangan konsumen.
3. Tidak Dirancang untuk Makanan & Minuman
Kantong infus medis dibuat untuk tujuan klinis dan bukan sebagai wadah makanan atau minuman konsumsi. Materialnya belum tentu food-grade serta tidak diuji aman untuk kontak langsung dengan minuman.
Risiko Potensial: Bukan Sekadar Gimik Estetika
Banyak komentar dari tenaga kesehatan yang menekankan bahwa tren ini bukan tanpa risiko. Mereka mengingatkan masyarakat bahwa penggunaan kemasan atau material yang tidak dirancang untuk makanan bisa menimbulkan:
- Kontaminasi mikroba jika wadah itu bekas dari penggunaan medis sebelumnya.
- Bahaya bahan kimia jika plastik medis yang tidak food-grade bersentuhan langsung dengan minuman.
- Salah paham tentang “isi” kemasan yang menggunakan istilah medis, sehingga konsumen bisa salah kaprah tentang kandungan yang sebenarnya.
Praktik “medical aesthetic” di industri makanan dan minuman memang semakin populer, tetapi batas antara inovasi dan tanggung jawab keselamatan konsumen perlu selalu dijaga.
Fenomena matcha yang dikemas mirip infus dengan label “D5” menjadi viral bukan hanya karena tampilannya yang unik, tetapi juga karena memicu kekhawatiran soal keamanan dan etika penggunaan kemasan medis untuk produk konsumsi. Bagaimana menurut pendapat Anda?
Kontributor : Rishna Maulina Pratama
Berita Terkait
Terpopuler
- Kinerja Tim Komunikasi Buruk, Prabowo Diingatkan Segera Reshuffle Seskab Teddy hingga Kapolri
- Desil Mendadak Melonjak, Warga Jogja Terancam Kehilangan Bansos
- Lawan Pernyataan Eki Pitung, Pemuda Kaum Betawi Percaya dengan Warga Pati yang Demo 27 Agustus
- 3 Rice Cooker untuk Nasi Tahan 2 Hari dan Tidak Lengket Sesuai Klaim
- Anggaran Bencana Tak Ditemukan, Istana Malah Beli Merpati Rp305 Juta untuk Perayaan HUT ke-81 RI
Pilihan
-
KPK Tangkap Rektor Unsoed Akhmad Sodiq Terkait Dugaan Suap Penerimaan Mahasiswa Baru
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
Terkini
-
Wajah Baru Bogor Barat, 6 Stasiun Kereta Siap Garap Jalur Parung Panjang - Jasinga
-
Dear Mom, Kabut Asap Makin Pekat, Ini Tanda Anak Mulai Terdampak
-
Kabut Asap Palembang Makin Pekat, Kapan Sekolah Mulai Belajar dari Rumah?
-
Ekonom Ungkap Efek Domino Karhutla: Dari Biaya Berobat hingga Pendapatan Warga Tertekan
-
Sumsel Dikepung 1.742 Hotspot, Seberapa Aman Warga dari Kabut Asap?
-
Viral Debt Collector Cek Nomor Mesin Kendaraan, Anggota DPR: Ya Sudah Lha
-
Lahan Perkebunan Indofood di Muba Terbakar, Mengapa Sumber Api Diminta Diusut?
-
Tak Perlu Transit, Citilink Kini Terbang Langsung Palembang-Yogyakarta Setiap Hari
-
Megawati Sentil Pragmatisme Politik: Jangan Jadikan Uang dan Kekuasaan sebagai Tujuan
-
Rekening Aktivis Pati Dibekukan, Koalisi Sipil: Jangan Jadikan Bank Alat Membungkam Kritik