- Buku memoar Aurelie Moeremans berjudul Broken Strings membahas pengalaman traumatis grooming sejak usia lima belas tahun.
- Judul tersebut metaforis melambangkan hilangnya masa muda, kebebasan, dan rasa aman akibat manipulasi dewasa.
- Respons publik sangat besar; buku ini memicu diskusi luas mengenai isu grooming dan kekerasan pada remaja.
Suara.com - Buku berjudul Broken Strings: Kepingan Masa Muda yang Patah karya Aurelie Moeremans tengah menjadi perbincangan panas di media sosial.
Judul buku Broken Strings bukan hanya sekadar rangkaian indah, melainkan simbol pengalaman traumatis yang dialami Aurelie.
Apa arti Broken Strings?
Secara harfiah, "Broken Strings" dapat diterjemahkan sebagai "senar yang putus".
Dalam konteks musik, senar yang putus pada alat musik seperti gitar melambangkan ketidakharmonisan, kegagalan untuk menghasilkan nada indah, dan akhir dari sesuatu yang pernah utuh.
Namun, bagi Aurelie Moeremans, judul ini jauh lebih metaforis. Ia merepresentasikan kehilangan masa muda yang dicuri oleh pengalaman traumatis, di mana "senar" itu adalah ikatan emosional, kebebasan, dan rasa aman yang hancur akibat manipulasi dan kontrol dari orang lain.
Aurelie menggunakan metafora ini untuk menggambarkan bagaimana masa remajanya dirampas, meninggalkan fragmen-fragmen kenangan yang menyakitkan, seperti potongan senar yang tak lagi bisa dimainkan.
Di balik karier gemilangnya, Aurelie menyimpan cerita kelam yang jarang diketahui publik. Buku Broken Strings adalah memoar pribadi yang ditulisnya untuk berbagi pengalaman sebagai penyintas grooming sejak usia 15 tahun.
Grooming, yang merupakan proses manipulasi emosional oleh orang dewasa terhadap anak atau remaja untuk tujuan eksploitasi, menjadi tema sentral dalam buku ini.
Aurelie mengisahkan bagaimana ia terjebak dalam hubungan tidak sehat dengan seorang pria yang jauh lebih tua, yang memanfaatkan kerentanan usianya untuk mengendalikan dan menyakitinya secara emosional maupun fisik.
Baca Juga: Biodata dan Agama Aurelie Moeremans yang Rilis Buku Broken Strings
Mengapa judul Broken Strings memilukan?
Broken Strings tidak hanya melambangkan kehancuran pribadi Aurelie Moeremans, tapi juga mencerminkan pengalaman ribuan korban serupa di masyarakat.
Di Indonesia, isu grooming dan kekerasan terhadap perempuan sering kali tersembunyi di balik tabu sosial.
Buku ini menjadi suara bagi yang bisu, mengingatkan bahwa trauma masa kecil bisa meninggalkan luka abadi, seperti senar yang putus dan tak mudah diperbaiki.
Judul ini memilukan karena ia menyiratkan hilangnya kepolosan dan kebahagiaan yang seharusnya dimiliki seorang remaja, digantikan oleh rasa takut dan ketidakpastian.
Aurelie sendiri mengungkapkan bahwa menulis buku ini adalah bentuk katarsis, sekaligus upaya untuk mencegah orang lain mengalami hal serupa.
Respons publik terhadap Broken Strings sangat luar biasa. Sejak dirilis, buku ini menjadi viral di media sosial, dengan ribuan review dan cerita pribadi dari pembaca yang ikut berbagi pengalaman mereka.
Banyak yang memuji keberanian Aurelie karena berani membuka luka lama demi kepentingan publik.
Di platform seperti Instagram dan X, diskusi tentang grooming meningkat, mendorong kesadaran tentang perlindungan anak dan remaja.
Bahkan, ada link gratis untuk membaca buku Broken Strings, membuatnya lebih mudah diakses oleh masyarakat luas.
Namun, tidak sedikit juga yang merasa sedih dan terguncang setelah membacanya, karena cerita ini terlalu relatable bagi sebagian orang.
Jika kamu tertarik membaca buku Broken Strings karya Aurelie Moeremans, sebaiknya perhatikan trigger warnings terlebih dahulu.
Berita Terkait
Terpopuler
- 7 Skema Suami Dwi Sasetyaningtyas Kembalikan Dana Beasiswa LPDP
- Gerbang Polda DIY Dirobohkan Massa Protes Kekerasan Aparat, Demonstran Corat-coret Tembok Markas
- Setahun Andi Sudirman-Fatmawati Pimpin Sulsel, Pengamat: Kinerja Positif dan Tata Kelola Membaik
- Viral Bocah Beragama Kristen Ikut Salat Tarawih 3 Hari Berurut-turut, Celetukannya Bikin Ngakak
- 4 HP Motorola Harga Rp1 Jutaan, Baterai Jumbo hingga 7.000 mAh
Pilihan
-
John Tobing Sang Maestro 'Darah Juang' Berpulang, Ini Kisah di Balik Himne Reformasi
-
Pencipta Lagu 'Darah Juang' John Tobing Meninggal Dunia di RSA UGM
-
Hidup Tak Segampang Itu Ferguso! Ilusi Slow Living di Magelang yang Bikin Perantau Gulung Tikar
-
Hujan Gol, Timnas Indonesia Futsal Putri Ditahan Malaysia 4-4 di Piala AFF Futsal 2026
-
Mandiri Tunas Finance Terancam Sanksi OJK Buntut Debt Collector Tusuk Advokat
Terkini
-
Gamis Mertua Series Seperti Apa Modelnya? Jadi Tren Baju Lebaran 2026
-
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
-
Apa Menu Buka Puasa di Masjid UGM Hari Ini 26 Februari 2026? Begini Cara Ngambilnya
-
Makeup Natural Butuh Apa Saja? Ini 4 Cushion Tahan Lama untuk Bukber
-
Cinta Laura Kuliah di Mana? Lulus Cum Laude dan Tolak Daftar LPDP
-
5 Resep Kue Kering Lebaran Tanpa Oven yang Praktis Dibikin di Rumah
-
Masjid Apa Saja yang Sediakan Sahur Gratis di Jogja? Ini Daftar 7 Lokasinya
-
Cara Tukar Uang Baru di Bank Mandiri untuk Lebaran 2026, Simak Syarat dan Jadwalnya
-
Tanpa Rasa Sakit, Pasien Mydervia Ungkap Keajaiban Teknologi Exion untuk Atasi Scar dan Double Chin
-
Mudik Gratis Kemenhub 2026 Segera Dibuka, Catat Tanggal dan Link-nya!