Lifestyle / Food & Travel
Senin, 16 Februari 2026 | 17:44 WIB
Ilustrasi kue keranjang (Pixabay.com)

Masyarakat Tionghoa percaya bahwa saat membuat kue keranjang, seseorang dilarang berbicara kasar atau sedang dalam suasana hati yang buruk agar kuenya "jadi" dengan sempurna dan membawa keberuntungan.

Makanan para dewa

Menurut legenda, kue ini disajikan untuk Dewa Dapur (Zao Jun) agar mulutnya menjadi lengket dan hanya bisa melaporkan hal-hal manis atau baik kepada Kaisar Langit tentang perilaku keluarga yang memasak kue.

Keluarga yang memasak kue keranjang akan mendapatkan penilaian baik oleh Kaisar Langit berkat memanjakan lidah sosok Zao Jun tersebut.

Masuk ke Indonesia

Kue keranjang masuk ke Nusantara seiring dengan gelombang migrasi masyarakat Tionghoa dari wilayah Tiongkok Selatan (seperti Hokkien, Teochew, dan Kantonis) berabad-abad silam.

Para imigran membawa tradisi kuliner ini sebagai bagian penting dari ritual peribadatan dan perayaan Imlek di tanah perantauan.

Penamaan "kue keranjang" sendiri muncul karena wadah cetakannya yang terbuat dari keranjang bambu kecil berlubang.

Pemilihan nama tersebut adalah contoh menarik bagaimana istilah lokal menggantikan nama aslinya, tetapi tetap menjaga esensi tradisinya.

Baca Juga: Makna Tahun Kuda Api di Perayaan Imlek 2026, Pakar Feng Shui: FOMO, Ambisi, dan Risiko Burnout

Adapun untuk menyesuaikan diri di selera orang Indonesia, ada beberapa modifikasi dari kue keranjang yang berbeda dari versi aslinya.

Selain rasa original (gula merah), di Indonesia banyak ditemukan variasi rasa seperti pandan atau santan yang menyesuaikan dengan lidah lokal.

Bukan hanya dikonsumsi sendiri, kue keranjang wajib dibagikan kepada tetangga dan kerabat, termasuk yang non-Tionghoa sebagai simbol berbagi keberuntungan.

Kontributor : Armand Ilham

Load More