Lifestyle / Komunitas
Rabu, 18 Maret 2026 | 12:09 WIB
Ilustrasi kumpul keluarga saat Lebaran (Shutterstock)
Baca 10 detik
  • Lebaran sering jadi momen rawan dibanding-bandingkan oleh saudara.
  • Siapkan mental, jawaban santai, dan strategi mengalihkan topik.
  • Dengan cara ini, kamu tetap bisa menikmati kumpul keluarga tanpa stres.

Suara.com - Momen Lebaran selalu menjadi waktu spesial untuk silaturahmi dan kumpul keluarga besar. Rumah terbuka lebar, ketupat dan opor tersedia di meja, sanak saudara saling bermaafan.

Namun, di balik tawa dan pelukan, sering muncul satu saudara yang langsung bikin suasana berubah. Dia suka membandingkan nasib "Kamu sudah punya rumah sendiri belum? Gaji segitu kok masih numpang?" atau "Anakku sudah sekolah internasional, kamu gimana?".

Perbandingan itu terdengar seperti obrolan biasa, tapi kadang bisa langsung menusuk hati. Padahal, Lebaran seharusnya penuh maaf dan kehangatan, bukan ajang pamer atau menjatuhkan.

Oleh karenanya, banyak orang yang justru pulang dari silaturahmi dengan perasaan lelah dan kecil, padahal baru saja bertemu keluarga.

Tidak perlu menghindari Lebaran hanya karena satu orang. Ada cara sederhana untuk menghadapi saudara toxic ini supaya momen Idulfitri tetap bisa dinikmati tanpa beban berat.

Ilustrasi Silaturahmi Lebaran (Freepik)

Mengapa Saudara Suka Membandingkan Nasib Saat Lebaran?

Lebaran memang jadi "panggung" favorit buat perilaku ini. Semua orang berkumpul, saling tanya kabar, dan saudara tersebut melihat kesempatan untuk merasa lebih unggul.

Mungkin dia sendiri sedang banyak masalah, tapi memilih mengalihkan perhatian dengan membandingkan hidup orang lain. Atau kebiasaan ini sudah tertanam sejak kecil karena orang tua sering banding-bandingkan anak.

Memahami ini membantu kita tidak langsung marah. Ini bukan soal kita yang kurang berhasil, tapi kebiasaan buruk yang muncul lebih kencang di momen ramai seperti Lebaran.

Baca Juga: Siapa Saja yang Berhak Menerima Fidyah Puasa Ramadhan? Ini Penjelasannya

Tanda-tanda yang Biasa Muncul Saat Silaturahmi Lebaran

Perhatikan pola ini supaya bisa antisipasi sejak awal.

  • Langsung tanya "Tahun ini sudah naik jabatan belum?" sambil tersenyum tapi nada sinis.
  • Membandingkan mobil, rumah, atau liburan keluarga di depan saudara lain.
  • Mengomentari pilihan hidup, misalnya "Kok masih single sih? Umur segini".
  • Tidak puas dengan jawaban singkat dan terus mengejar detail di depan ibu atau bapak.

Kalau pola ini rutin muncul setiap Lebaran, itu sinyal kuat untuk mempersiapkan diri.

Persiapan Sebelum Hari Lebaran

Beberapa hari sebelum takbiran, mulai bangun mental. Ingatkan diri bahwa Lebaran adalah tentang maaf-memaafkan, bukan kompetisi hidup.

Tulis tiga hal yang sudah dicapai tahun ini, meski sederhana seperti "bisa menjaga kesehatan" atau "rumah tetap rapi". Ini jadi pengingat saat kata-kata toxic datang.

Load More