- Prenagen meluncurkan kampanye "Siapa Takut Jadi Ibu" pada Hari Kartini untuk mendukung kesehatan mental ibu muda Indonesia.
- Program ini menekankan pentingnya ekosistem pendukung serta tanggung jawab bersama dalam membantu perjalanan para ibu di era modern.
- Aksi nyata seperti layanan "Joki Bumil" di Jakarta diberikan untuk memastikan kenyamanan dan prioritas bagi ibu hamil.
Suara.com - Di tengah perayaan Hari Kartini yang selalu identik dengan semangat keberanian dan emansipasi perempuan, muncul satu pertanyaan yang kini banyak dirasakan generasi muda, khususnya Gen Z: siapa takut jadi ibu?
Di era modern yang serba cepat, keputusan untuk menjadi ibu bukan lagi sekadar fase hidup yang “pasti terjadi”, melainkan pilihan besar yang kerap disertai berbagai pertimbangan. Mulai dari kesiapan mental, stabilitas finansial, hingga kekhawatiran kehilangan jati diri. Tak sedikit perempuan muda yang mengalami overthinking saat membayangkan perjalanan motherhood.
Namun, semangat Kartini hari ini seolah memberi perspektif baru. Bahwa menjadi ibu bukanlah akhir dari kebebasan perempuan, melainkan bentuk lain dari kekuatan yang justru bisa dijalani dengan lebih sadar, terencana, dan didukung oleh lingkungan yang tepat.
Melihat fenomena ini, Prenagen mencoba hadir lebih dekat dengan kegelisahan Gen Z melalui kampanye “Siapa Takut Jadi Ibu?”. Kampanye ini tidak hanya mengajak perempuan untuk berani melangkah, tetapi juga menegaskan bahwa perjalanan menjadi ibu tidak harus dijalani sendirian.
“Menjadi ibu adalah perjalanan hebat, tapi bukan berarti harus dijalani sendirian. Di momen Hari Kartini ini, kami ingin memberikan apresiasi setinggi-tingginya bagi para ibu yang tetap hebat menjalankan berbagai peran, baik di rumah maupun saat bermobilisasi di ruang publik. Kami ingin mengajak masyarakat untuk tidak sekadar menjadi penonton, tapi menjadi kekuatan tambahan bagi mereka,” ujar Junita, Business Group Manager Prenagen.
Pesan ini terasa semakin relevan bagi Gen Z yang tumbuh di lingkungan dengan kesadaran tinggi terhadap kesehatan mental dan pentingnya support system. Ketakutan menjadi ibu sering kali bukan karena tidak siap secara fisik, melainkan karena merasa harus memikul semuanya sendiri.
Padahal, realitanya tidak harus demikian. Justru di sinilah makna baru dari semangat Kartini hadir, bahwa perempuan kuat tidak berdiri sendiri, melainkan tumbuh dalam ekosistem yang saling mendukung.
Melalui gerakan “Strong Women with Strong Support System”, Prenagen mengajak masyarakat untuk melihat perjalanan seorang ibu sebagai tanggung jawab bersama.
Dari suami yang siaga, keluarga yang suportif, hingga lingkungan sosial yang lebih peka terhadap kebutuhan ibu, semuanya memiliki peran penting dalam menciptakan pengalaman motherhood yang lebih sehat dan positif.
Baca Juga: Memahami Kembali Perjuangan Kartini: Saat Emansipasi Mulai Disalahpahami
Bentuk dukungan ini bahkan diterjemahkan dalam aksi nyata di ruang publik. Salah satunya melalui inisiatif “Joki Bumil” di transportasi umum Jakarta, yang hadir untuk memastikan ibu hamil mendapatkan kenyamanan dan prioritas di tengah padatnya mobilitas kota.
Bukan sekadar bantuan fisik, langkah ini menjadi simbol bahwa kepedulian kecil bisa berdampak besar bagi keseharian seorang ibu.
Selain itu, Prenagen juga membagikan produk nutrisi praktis serta pesan penyemangat kepada para ibu di berbagai titik keramaian, sebagai pengingat bahwa perjuangan mereka tidak luput dari perhatian.
“Kami percaya bahwa ibu yang kuat lahir dari lingkungan yang saling merangkul. Melalui Prenagen, kami menyediakan nutrisi lengkap, praktis dan terukur agar ibu tetap sehat. Selain itu, kami juga ingin mengajak semua orang untuk memberikan sandaran emosional bagi mereka,” tambah Junita.
Bagi Gen Z, pesan ini membawa angin segar. Bahwa menjadi ibu bukan berarti harus mengorbankan segalanya, melainkan belajar beradaptasi dengan peran baru, dengan dukungan yang tepat.
Berita Terkait
Terpopuler
- Tak Lagi Disamping Prabowo, Kursi Wapres Gibran Geser Sejajar Menteri di Sidang Kabinet
- Media Italia Bongkar Ada Kontrak Lebih dari Rp25 T di Balik Hibah Kapal Induk Giuseppe Garibaldi
- John Herdman Coret 27 Pemain Jelang Timnas Indonesia vs Kamboja di Piala AFF 2026
- Apa Sunscreen Terbaik untuk Flek Hitam pada Usia 50 Tahun? Ini 5 Rekomendasi sesuai Review
- Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
Pilihan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
-
Saraf Terjepit, Hotman Paris Putuskan Mundur Jadi Kuasa Hukum Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
-
Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
-
Menang Lima Gol, Timnas Putri Indonesia Back to Back Juara AFF Women's Cup 2026
-
Sudaryono Jabat Kepala BGN, Sudah Diworo-woro Istana Sejak Selasa Malam
Terkini
-
Desain KDMP Dinilai Melenceng, Berisiko Jadi Proyek Politik Pemerintah
-
Prancis Bak Neraka Bocor, 20 Ribu Warlok dan Turis Dievakuasi Akibat Kebakaran Hutan Ekstrem
-
Here We Go! Daftar Resmi Pemain Timnas Indonesia untuk Piala AFF 2026: Bertabur Bintang
-
Pembangunan Daerah Terus Berjalan, Dasco - Cucun Terima Dialog APKASI
-
KPK Buka Peluang Periksa Nusron Wahid Terkait Kasus Bupati Kuansing
-
Bukan Cedera, Ini Alasan Debut Mariano Peralta Bersama Persib Tertunda
-
Teknologi Logistik AI Ubah Masa Depan E-Commerce Indonesia
-
Rakyat Tidak Keberatan Membayar Pajak, Asal Negara Tahu Cara Mengelolanya
-
Jordi Amat Ungkap Modal Penting Timnas Indonesia Jelang Piala AFF 2026
-
Saksi Dibeli Produk Bukan di Toko Resmi, dr Richard Lee Bingung Jadi Tersangka