Lifestyle / Komunitas
Selasa, 28 April 2026 | 20:06 WIB
Digiserve by Telkom Indonesia menjalin kolaborasi strategis dengan DBM Works Solusi Indonesia. (Dok. Ist)
Baca 10 detik
  • BSSN mencatat lebih dari 3,5 miliar anomali trafik siber yang menargetkan infrastruktur digital Indonesia sepanjang tahun 2025.
  • Digiserve menjalin kerja sama teknologi keamanan siber asal Korea Selatan guna memperkuat sistem deteksi ancaman modern.
  • Kolaborasi tersebut bertujuan menekan kerugian finansial akibat serangan siber melalui layanan terkelola SoCaaS yang adaptif dan skalabel.

Suara.com - Ancaman siber yang semakin kompleks di era digital mendorong Indonesia untuk memperkuat sistem keamanan datanya melalui kolaborasi teknologi global. Salah satu langkah terbaru datang lewat kerja sama dengan teknologi keamanan siber asal Korea Selatan yang dinilai lebih adaptif menghadapi pola serangan modern.

Berdasarkan laporan Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), sepanjang 2025 tercatat lebih dari 3,5 miliar anomali trafik yang menargetkan infrastruktur digital Indonesia. Serangan ini menyasar berbagai sektor penting, mulai dari IoT, sistem pembayaran digital, hingga infrastruktur industri.

Melihat kondisi tersebut, penguatan sistem keamanan siber tidak lagi sekadar kebutuhan teknis, tetapi sudah menjadi bagian dari gaya hidup digital yang aman bagi masyarakat maupun pelaku bisnis.

Finance & Risk Management Director Digiserve, Buddy Restiady, menekankan bahwa keamanan digital kini menjadi fondasi utama dalam menjalankan transformasi teknologi.

“Kami menyadari bahwa transformasi digital yang berkelanjutan harus dibangun di atas fondasi keamanan siber yang kuat. Melalui kolaborasi dengan mitra teknologi cybersecurity asal Korea, kami menghadirkan pendekatan advanced security analytics dan threat detection yang telah teruji secara global, namun tetap relevan dengan kebutuhan bisnis di Indonesia,” ujar Buddy, Selasa (28/4/2026).

Ia juga menyoroti bahwa meningkatnya adopsi digital membawa tantangan baru, terutama pada risiko kebocoran data dan serangan siber yang lebih canggih.

Di sisi lain, Indonesia masih menghadapi kesenjangan besar dalam talenta keamanan siber, yang diperkirakan mencapai 0,6 hingga 1,5 juta tenaga profesional di masa depan. Kompleksitas penggunaan berbagai tools keamanan di perusahaan juga menambah tantangan tersendiri.

Tak hanya itu, dampak finansial dari serangan siber pun tidak kecil. Rata-rata kerugian akibat ransomware di Indonesia mencapai sekitar Rp4,7 miliar per insiden, dengan total potensi kerugian tahunan diperkirakan lebih dari Rp8 triliun.

Sebagai respons, penguatan sistem keamanan berbasis layanan terkelola menjadi salah satu solusi yang mulai banyak diadopsi, termasuk melalui pendekatan Security Operation Center as a Service (SoCaaS).

Baca Juga: Indosat Gandeng Cisco Resmikan Security Command Center, Perkuat Keamanan Siber Indonesia di Era AI

“Sebagai bagian inisiatif ini, solusi ini dirancang scalable dan adaptif, sehingga perusahaan dapat meningkatkan postur keamanan tanpa perlu mengelola SOC secara mandiri,” ungkap Buddy.

Solusi ini menawarkan deteksi ancaman berbasis teknologi Korea, dukungan tim ahli lokal, serta fleksibilitas untuk berbagai skala bisnis.

Langkah kolaboratif ini menjadi bagian dari upaya jangka panjang dalam memperkuat ekosistem digital Indonesia agar lebih aman, tangguh, dan siap menghadapi tantangan siber yang terus berkembang.

Load More