Suara.com - Bayang-bayang El Nino yang akan tiba dalam kurun waktu dekat tentu membuat para pelaku ekonomi was-was.
Para petani seantero negeri khawatir bahwa El Nino memberi dampak yang lebih signifikan ketimbang musim kemarau biasa.
Adapun ahli iklim melalui Union of Concerned Scientist, Marc Alessi, dikutip dari The Guardian, Kamis (30/4/2026) memaparkan bahwa negara-negara di Samudera Pasifik akan terdampak El Nino.
Bahkan ada julukan khusus bagi fenomena iklim yang akan datang yakni El Nino Super karena dampaknya akan melebihi El Nino pada umumnya.
Lantas, apa yang membedakan El Nino dengan musim kemarau biasa? Mari kulik bersama El Nino yang jadi ancaman bagi Tanah Air.
Penyebab dan mekanisme terjadinya kemarau biasa vs El Nino
Musim kemarau biasa di Indonesia merupakan siklus tahunan yang bersifat reguler, dipicu oleh pergerakan angin Monsun Australia yang bersifat kering.
Sebaliknya, El Nino adalah anomali iklim skala global yang dipicu oleh menghangatnya Suhu Permukaan Laut (SPL) di Samudra Pasifik bagian tengah hingga timur.
Saat El Nino terjadi, angin pasat yang biasanya membawa massa udara lembap ke wilayah Indonesia melemah atau bahkan berbalik arah.
Baca Juga: 5 Mobil Listrik Termurah di Bawah Harga Brio RS: AC Sejukkan si Kecil, Peneduh dari Bara El Nino
Hal ini menyebabkan awan-awan hujan bergeser menjauhi wilayah kita menuju Samudra Pasifik, sehingga atmosfer di atas Indonesia menjadi sangat kering dibandingkan kemarau pada tahun-tahun normal.
Durasi dan intensitas kekeringan
Kemarau biasa umumnya berlangsung selama kurang lebih enam bulan mengikuti pergerakan semu matahari.
Namun, saat El Nino bergabung dengan musim kemarau, durasinya bisa menjadi jauh lebih panjang dan intensitasnya jauh lebih ekstrem.
El Nino dapat menyebabkan musim hujan datang terlambat atau bahkan membuat intensitas hujan tetap sangat rendah meskipun sudah masuk bulan-bulan basah.
Suhu udara selama El Nino cenderung terasa lebih menyengat karena minimnya tutupan awan yang menghalangi radiasi matahari secara langsung ke permukaan bumi.
Fenomena ini sering kali membuat cadangan air tanah menyusut lebih cepat daripada kemarau tahunan.
Cakupan wilayah dan skala dampak
Kemarau biasa mungkin hanya memberikan dampak lokal atau regional yang dapat diprediksi oleh petani setempat.
Namun, El Nino memiliki dampak sistemik yang mencakup wilayah yang sangat luas, bahkan lintas benua.
Adapun di Indonesia, dampak El Nino sering kali merata dari ujung barat hingga timur,.
Dampak tersebut menyebabkan penurunan debit air di bendungan-bendungan besar secara drastis.
Skala dampaknya tidak hanya terbatas pada sulitnya mendapatkan air bersih, tetapi juga mengganggu stabilitas ekosistem laut.
Fenomena ini menyebabkan pemutihan terumbu karang (coral bleaching) karena suhu laut yang terlalu hangat.
Coral bleaching tersebut adalah sesuatu yang jarang terjadi pada musim kemarau biasa yang normal.
Risiko kebakaran dan ketahanan pangan
Perbedaan yang paling krusial terletak pada risiko bencana turunannya.
Pada musim kemarau biasa, risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tetap ada namun lebih terkendali.
Saat El Nino, vegetasi menjadi sangat kering dan mudah terbakar (bagaikan bahan bakar siap sulut), yang memicu kebakaran hebat dengan kabut asap lintas batas negara.
Lalu ari sisi pangan, El Nino sering kali menyebabkan gagal panen masal (puso) karena pola tanam yang terganggu secara total.
Hal ini berdampak pada melonjaknya harga pangan nasional.
Oleh karena itu, penanganan El Nino memerlukan intervensi pemerintah yang lebih kompleks dibandingkan sekadar menghadapi kemarau rutin tahunan.
Itu sebabnya El Nino kerap membuat petani dan penggerak pangan was-was.
Kontributor : Armand Ilham
Berita Terkait
Terpopuler
- Daftar Prodi Berpotensi Ditutup Imbas Fokus Industri Strategis Nasional
- 5 Parfum Scarlett yang Wanginya Paling Tahan Lama, Harga Terjangkau
- Perjalanan Terakhir Nuryati, Korban Tragedi KRL Bekasi Timur yang Ingin Menengok Cucu
- Membedah 'Urat Nadi' Baru Lampung: Shortcut 37 KM dan Jalur Ganda Siap Usir Macet Akibat Babaranjang
- 5 Rekomendasi Sepeda Roadbike Rp1 Jutaan, Cocok untuk Pemula hingga Harian
Pilihan
-
7 Sabun Mandi Cair Wangi Mewah yang Bikin Rileks Setelah Pulang Kerja, Ada yang Mirip Aroma Spa
-
Mantan Istri Andre Taulany Dilaporkan ke Polisi, Diduga Aniaya Karyawan
-
Stasiun Bekasi Timur akan Kembali Beroperasi Lagi Siang Ini
-
Truk Tangki BBM Meledak Hebat di Banyuasin, 4 Pekerja Terbakar saat Api Membumbung Tinggi
-
RS Polri Berhasil Identifikasi 10 Jenazah Korban Tabrakan Kereta di Bekasi Timur, Ini Nama-namanya
Terkini
-
15 Link Twibbon Hari Pendidikan Nasional 2026 Gratis, Bisa Langsung Diunggah ke Medsos
-
5 Zodiak yang Sering Disebut 'Red Flag Berjalan', dari yang Manipulatif hingga Egois
-
BB Cream untuk Apa? Ini 5 Pilihan SPF Tinggi Biar Makeup Rapi dan Kulit Terlindungi
-
Pameran Vivienne Westwood & Jewellery 2026 Debut di Makau, Hadirkan Arsip Ikonis dan Sentuhan Punk
-
Serum Penumbuh Rambut yang Bagus Merek Apa? Ini 5 Pilihan Produk yang Bisa Dipakai
-
Cleansing Oil Cocok untuk Kulit Apa? Ini 5 Rekomendasinya yang Terjangkau
-
Zahwa Massaid Kerja Apa? Kakak Aaliyah Massaid Punya Karier Mentereng di AS
-
Chef Expo 2026 Digelar di NICE PIK 2, Sajikan Kompetisi hingga Demo Masak Chef Ternama
-
7 Lipstik Matte Transferproof Anti Bibir Kering, Warna Tahan Lama Seharian
-
5 Rekomendasi Bedak yang Tidak Waterproof, Mudah Dibersihkan dan Tak Menyumbat Pori