News / Nasional
Selasa, 28 April 2026 | 12:48 WIB
Petugas SAR gabungan mengevakuasi korban kecelakaan KRL Commuterline dan KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir-Surabaya Pasar Turi di Stasiun Bekasi Timur, Bekasi, Jawa Barat, Senin (27/4/2026). [ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto]
Baca 10 detik
  • Nuryati meninggal dunia akibat kecelakaan tabrakan antara KRL dan Kereta Argo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur, Senin malam.
  • Insiden tragis terjadi saat Nuryati sedang melakukan perjalanan rutin menuju Cikarang untuk mengunjungi anak dan cucu tercintanya.
  • Anak serta cucu korban dinyatakan selamat dari kecelakaan maut tersebut, meskipun mereka harus mengalami trauma yang cukup mendalam.

Suara.com - Niat tulus Nuryati (63) untuk melepas rindu dengan anak dan cucunya di Cikarang berakhir duka. Senin (27/4/2026) malam, perjalanan rutin yang penuh kehangatan itu berubah menjadi petaka di Stasiun Bekasi Timur.

Nuryati menjadi salah satu korban tewas setelah KRL yang ditumpanginya dihantam dari belakang oleh Kereta Argo Anggrek.

Menantu korban, Andi Ayubi (39), menceritakan bahwa mertuanya memang sosok yang sangat penyayang. Sebagai ibu dari delapan anak, Nuryati kerap bepergian antar kota demi mengunjungi buah hatinya.

"Beliau emang sering nengok anaknya. Kan kebetulan almarhumah ini kan punya anaknya delapan dan sebagian sudah berkeluarga. Ada yang di Cikarang, ada yang di Bekasi. Nah, salah satunya itu yang ke Cikarang itu beliau mau menginap di sana," kenang Andi saat ditemui di rumah duka, Selasa (28/4/2026).

Malam itu, suasana di dalam gerbong mendadak berubah menjadi horor. Guncangan hebat merobek keheningan, disusul padamnya aliran listrik yang membuat seluruh penumpang terperangkap dalam kegelapan.

Warga melihat kondisi gerbong KRL Commuterline dan KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir-Surabaya Pasar Turi pascakecelakaan di Stasiun Bekasi Timur, Bekasi, Jawa Barat, Senin (27/4/2026). [ANTARA FOTO//Darryl Ramadhan/app/agr]

“Lampu, pendingin gerbong semuanya mati. Penumpang jadi panik,” tutur Andi menggambarkan situasi mencekam saat itu.

Nuryati menjadi salah satu penumpang terakhir yang berhasil dievakuasi dari rongsokan gerbong. Di sisa-sisa kesadarannya, ia sempat melontarkan pertanyaan terakhir sebelum akhirnya mengembuskan napas terakhir.

“Dia sempat bilang, ‘Ini ada apa?’ seperti kaget. Setelah itu pingsan, dan kemudian meninggal dunia,” ucap Andi dengan nada lirih.

Beruntung, anak dan cucu Nuryati yang berusia lima tahun selamat dari kecelakaan maut tersebut, meski harus menanggung trauma mendalam. Kabar duka baru diterima keluarga satu jam setelah kepanikan melanda melalui sambungan telepon.

Baca Juga: 9 Fakta Kecelakaan Kereta di Stasiun Bekasi Timur, Gerbong Wanita Jadi Titik Terparah

"Untuk anaknya dan cucunya yang berusia lima tahun selamat," tutup Andi.

Load More