- Paramount Land mengembangkan Gading Serpong menjadi kota mandiri sejak 2006 dengan mengintegrasikan hunian dan area komersial secara berkelanjutan.
- Tingkat okupansi ruang usaha di Tangerang mencapai 93 persen karena tingginya kebutuhan gaya hidup masyarakat di kawasan tersebut.
- Konsep kota mandiri yang menyediakan fasilitas lengkap berhasil menciptakan ekosistem bisnis dinamis bagi 120.000 penghuni di Gading Serpong.
Suara.com - Kawasan lifestyle hub semakin bermunculan di sekitar kota besar, yang bukan cuma sebagai kawasan hunian, tapi juga jadi magnet baru buat gaya hidup dan bisnis. Di balik deretan ruko dan kafe yang terus bermunculan, ada satu pola yang kelihatan jelas: kawasan komersial yang terintegrasi dengan hunian jadi kunci utama pertumbuhan.
Di Paramount Gading Serpong, geliat ini terasa nyata. Aktivitas usaha tumbuh seiring meningkatnya jumlah penghuni dan mobilitas harian. Orang nggak lagi cari tempat usaha yang sekadar strategis di peta, tapi yang benar-benar dekat dengan kehidupan sehari-hari—tempat orang tinggal, nongkrong, dan beraktivitas.
Menurut Colliers Indonesia, tren ini memang lagi menguat. Sektor F&B dan lifestyle jadi primadona, terutama di kawasan yang sudah punya traffic tinggi dan komunitas yang terbentuk. Tangerang, termasuk Gading Serpong, jadi salah satu contoh paling relevan.
Hal serupa juga disorot Martin Samuel Hutapea dari LEADS Property. Ia melihat bahwa pertumbuhan hunian otomatis mendorong kebutuhan ruang usaha di sekitarnya. Nggak heran kalau area komersial masih jadi salah satu produk properti yang paling cepat terserap pasar.
Angkanya juga nggak main-main. Tingkat okupansi ruang usaha di Tangerang mencapai sekitar 93% dalam setahun terakhir, dengan harga favorit di kisaran Rp2 miliar hingga Rp5 miliar. Artinya, demand-nya memang kuat—dan terus tumbuh.
Di lapangan, suasananya terasa dinamis. Kawasan seperti Maggiore, Pisa Grande, sampai Manhattan District perlahan berubah jadi pusat aktivitas baru. Tenant kuliner, coffee shop, hingga bisnis lifestyle bukan cuma “ikut tren”, tapi ikut membentuk ritme kawasan—ramai dari pagi sampai malam.
Willy, pemilik Kopi Es Tak Kie di Maggiore, merasakan langsung dampaknya. Menurutnya, Gading Serpong sudah jadi kawasan yang “hidup”, dengan jangkauan konsumen yang luas—mulai dari BSD, Alam Sutera, hingga pengunjung dari berbagai area Jabodetabek.
Menariknya, perkembangan ini bukan sesuatu yang instan. Paramount Gading Serpong sendiri sudah dikembangkan sejak 2006, melalui proses panjang dan bertahap. Mulai dari penataan lahan, legalitas, sampai pembentukan ekosistem kawasan.
“Setiap tahap pembangunan dilakukan dengan perencanaan yang matang agar kawasan bisa tumbuh berkelanjutan,” jelas Chrissandy Dave, Direktur Paramount Land.
Baca Juga: GIICOMVEC 2026 Jadi Kiblat Solusi Transportasi dan Logistik Indonesia
Pendekatannya juga nggak cuma fokus pada bangunan, tapi juga lingkungan. Penataan ruang terbuka, kualitas kawasan, hingga kenyamanan penghuni jadi bagian dari proses yang terus disempurnakan.
Hasilnya sekarang mulai terasa. Gading Serpong berkembang jadi kota mandiri dengan lebih dari 120.000 penghuni non-komuter yang tinggal di puluhan klaster aktif. Sebut saja Pasadena Grand Residences, Matera Residences, hingga Alicante Village.
Semua kebutuhan ada di satu area—mulai dari sekolah, rumah sakit, sampai pusat lifestyle. Konsep ini bikin aktivitas sehari-hari jadi lebih praktis, sekaligus mendorong pertumbuhan kawasan komersial di sekitarnya.
Salah satu pengembangan terbarunya adalah Pasadena Central District, kawasan terpadu seluas 40 hektare yang menggabungkan hunian dan area komersial. Di dalamnya ada Grand Pasadena Village, Altadena Residences, hingga area komersial Pasadena Square.
Terbaru, Paramount Land juga menghadirkan Pasadena Square South, yang masih mengusung konsep “10-minute city living”—di mana semua kebutuhan bisa dijangkau dalam waktu singkat.
Dengan lokasi yang dikelilingi klaster aktif dan traffic tinggi, kawasan ini punya potensi pasar yang stabil. Ditambah lagi, lalu lintas yang padat justru jadi nilai plus karena meningkatkan eksposur bisnis.
Pada akhirnya, Gading Serpong menunjukkan satu hal: kota mandiri bukan cuma soal pembangunan fisik, tapi tentang bagaimana menciptakan ekosistem yang benar-benar hidup. Dan ketika hunian, bisnis, dan gaya hidup bisa menyatu, kawasan seperti ini bukan cuma berkembang—tapi jadi destinasi.
Berita Terkait
Terpopuler
- Aliansi BEM Bersatu: Mobil Fortuner Tiyo Ardianto Tercatat Milik Adik Letjen Purn Setyo Sularso
- Milk Cleanser Viva untuk Umur Berapa? Ini Penjelasan dan 5 Pilihan Variannya
- 6 Sepatu Adidas Samba Lagi Diskon 50 Persen di Website Resmi, Kesempatan Langka Separuh Harga
- 4 Cushion Terbaik untuk Usia 40 Tahun ke Atas, Anti Crack Samarkan Garis Halus Seharian
- Struktur Kuno Muncul Kembali di Sendang Kamulyan Trenggalek
Pilihan
-
Ketegangan Memuncak di Hotel Sultan: Eksekusi Lahan Jadi Arena Perlawanan
-
'Sempurna Hanya Milik Allah!' Massa Gelar Aksi Damai Minta MBG Lanjut dan Sikat Koruptornya!
-
Link Live Streaming Portugal vs Kongo: Panggung Sesungguhnya CR7?
-
Demo Pakai Daster ke Istana, Aliansi Perempuan Tuntut Prabowo Turunkan Harga BBM dan Setop MBG
-
BREAKING NEWS: Kantor Dinas Pendidikan Sulsel Digeledah Kejati
Terkini
-
Urutan Pakai Viva Face Tonic yang Benar agar Wajah Segar dan Lembap, Jangan Sampai Keliru!
-
3 Pilihan Sepatu Asics Tanpa Tali, Slip-On Nyaman untuk Jalan Santai hingga Traveling
-
Menurut Islam, Posisi Tempat Tidur yang Baik Menghadap ke Mana?
-
Apa Beda UV Filter dan SPF? Simak Penjelasannya, Jangan Sampai Salah Paham
-
Basic Skincare Apa Saja? Ini Urutannya untuk Menjaga Skin Barrier Tetap Sehat
-
7 Sepatu Jalan Wanita Termurah di Planet Sports, Astec hingga Skechers Diskon Sampai 50 Persen
-
Dibuang Sayang, Cairkan Maskara Kering dengan 5 Trik Mudah Ini
-
6 Cara Membedakan Celana Jeans Levi's Asli atau Palsu, Hanya Butuh 30 Detik
-
Keberuntungan Datang, 3 Zodiak Ini Akhirnya Bebas dari Masa Sulit Usai 18 Juni 2026
-
5 Shio Ini Bakal Ketiban Hoki Besar di Tanggal 18 Juni 2026, Bukan Kebetulan Semata