- Tren gaya hidup masyarakat 2026 bergeser ke kota mandiri yang lebih terintegrasi untuk mencari ruang komunal baru.
- Bank Indonesia mencatat pertumbuhan ritel domestik sebesar 5,7% yang didominasi oleh pengeluaran sektor gaya hidup dan pengalaman.
- Batas antara tempat makan, ruang terbuka hijau, hingga area komunitas 'kalcer' menjadi kabur, menciptakan ekosistem yang seru untuk nongkrong tapi tetap ramah bagi keluarga.
Suara.com - Jika ditarik mundur beberapa tahun ke belakang, pusat kota Jakarta selalu menjadi primadona mutlak bagi kaum urban untuk menghabiskan akhir pekan. Transformasi wajah kota yang kini lebih ramah pejalan kaki telah melahirkan kantong-kantong budaya baru yang sering disebut sebagai spot "kalcer". Sebut saja kawasan Blok M, yang kini bertransformasi menjadi titik temu anak muda lintas skena; mulai dari barisan kedai kopi spesialis, toko piringan hitam, hingga pasar kreatif yang menghidupkan kembali nuansa retro Jakarta Selatan di tengah modernitas.
Melipir sedikit ke pusat, kawasan Pos Bloc di Pasar Baru juga menjadi bukti bagaimana cagar budaya tetap bisa relevan dengan kebutuhan hiburan masa kini. Dengan arsitektur kolonial yang megah, tempat ini menjadi magnet bagi mereka yang ingin menikmati seni visual sambil menyesap kopi di sore hari.
Namun, memasuki tahun 2026, tren gaya hidup dan preferensi destinasi hangout rupanya telah mengalami pergeseran signifikan. Masyarakat kini semakin melirik kawasan penyangga atau kota mandiri sebagai destinasi hiburan yang dinilai lebih segar, minim kemacetan, dan memiliki tata ruang yang lebih terintegrasi.
Pergeseran tren ini bukan sekadar klaim sepihak. Berdasarkan Survei Penjualan Eceran dari Bank Indonesia (BI) pada Kuartal I 2026, pertumbuhan sektor ritel domestik terbukti terus ditopang secara konsisten oleh kelompok Makanan, Minuman, serta Barang Budaya dan Rekreasi. Data Indeks Penjualan Riil (IPR) mencatat pertumbuhan tahunan sebesar 5,7%, sebuah sinyal bahwa daya beli kita masih cukup bertenaga.
Kenaikan ini didominasi oleh pengeluaran di sektor gaya hidup, mulai dari kebutuhan sandang, hobi dalam kelompok barang budaya dan rekreasi, hingga sektor makanan dan minuman. Hal ini mengindikasikan bahwa alokasi pengeluaran masyarakat masa kini sangat bertumpu pada pengalaman gaya hidup (leisure & experience).
Menariknya, tren desain tempat nongkrong masa kini sebenarnya mengacu poada konsep 'Third Place' (Tempat Ketiga) yang digagas oleh sosiolog kenamaan, Ray Oldenburg, dalam bukunya The Great Good Place. Oldenburg menyoroti bahwa manusia modern butuh 'pelarian' yang sehat. Jika rumah adalah tempat pertama dan kantor adalah tempat kedua, maka kita butuh tempat ketiga, sebuah ruang komunal netral untuk bersosialisasi dan melepas penat di luar rutinitas privat maupun profesional.
Riset terbaru dari firma arsitektur global Gensler mempertegas bahwa mal bukan lagi sekadar tempat 'titip kantong belanja'. Masa depan ritel kini bergeser menjadi area semi-outdoor yang cair dan multifungsi. Di sini, batas antara tempat makan, ruang terbuka hijau, hingga area komunitas 'kalcer' menjadi kabur, menciptakan ekosistem yang seru untuk nongkrong tapi tetap ramah bagi keluarga.
Berbicara soal episentrum gaya hidup masa kini yang sukses merangkum semua elemen tersebut, diantaranya Kota Gading Serpong di Tangerang yang salah satunya dikembangkan oleh Paramount Gading Serpong merupakan contoh terbaiknya. Berstatus sebagai kota mandiri berskala regional dengan populasi mencapai 120 ribu jiwa (di luar komuter) dan jalan boulevard yang dilewati 15.000 kendaraan per jam, denyut nadi komersial di kawasan ini seolah tak pernah mati.
Peleburan Sempurna Tren 'Kalcer' dan Keluarga Urban
Baca Juga: Yamaha Grand Filano Hybrid Tampil Semakin Kalcer dengan Pilihan Warna Baru
Menjawab tingginya permintaan akan ruang rekreasi dan kuliner yang adaptif, Paramount Gading Serpong menghadirkan Hampton Square @ Manhattan District, sebuah modern lifestyle hub seluas 2 hektare yang berlokasi strategis di pusat keramaian Jalan Boulevard Gading Serpong sisi selatan.
Mengusung konsep integrated commercial, Hampton Square menawarkan ekosistem komersial yang saling terhubung lewat area pedestrian yang teduh dan nyaman. Estetika bangunannya yang ikonik sukses menjadikannya wadah lebur (melting pot) bagi dua pangsa pasar raksasa: keluarga urban mapan dan anak muda pegiat budaya kalcer.
"Hampton Square didesain bukan sebagai mal tertutup konvensional, melainkan area komersial yang dinamis. Pengunjung bisa berinteraksi di ruang luar dengan nyaman. Kawasan ini juga terkoneksi dengan Manhattan District, kawasan bisnis komersial seluas 22 hektare di Paramount Gading Serpong. Mulai dari Madison Grande, Hampton Avenue, The Hudson, hingga Hampton Square, semuanya terhubung dengan pedestrian walk serta area parkir terbuka (gateless)," jelas Chrissandy Dave, Direktur Paramount Land, kepada Suara.com, baru-baru ini.
Eksplorasi Rasa dan Pusat Kegiatan Komunitas
Bagi kalangan profesional atau eksekutif yang mencari tempat meeting, maupun keluarga yang mencari quality time, Hampton Square adalah surga kuliner (gourmet market). Di sini, Anda bisa berwisata kuliner melintasi batas negara. Tersedia WUJI - Cantonese Chinese Restaurant, Rose Garden - Authentic Chinese Hunan, Ikinari - premium Japanese steak, Noble Thai - Authentic Thai Cuisine, HAVA - Mediterranean Food, Bakery and Coffee, Ootoya - Home Cooked Japanese Food, dan Yarra - International Restaurant, Speciality Coffee and Dessert. Sementara bagi perindu kuliner otentik Nusantara, hidangan legendaris seperti Gudeg Mercon Bu Prih khas Jawa Tengah hingga Bipang Ambawang siap memanjakan lidah para pengunjung.
Keistimewaan Hampton Square juga terletak pada fungsinya sebagai pusat community engagement. Selain itu untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Hampton Square dilengkapi Papaya Fresh Gallery Japanese Supermarket yang paling lengkap dan terbesar di Indonesia. Beroperasi setiap hari mulai pukul 07.00 hingga 22.00 WIB, fasilitas hiburan di sini sangat mengakomodasi gaya hidup aktif. Area terbukanya dirancang pet-friendly (ramah hewan peliharaan), sehingga sangat ideal untuk berjalan santai di pagi atau sore hari.
Berita Terkait
-
Petaka Parkir di Bahu Jalan! Sigra 'Nangkring' di Pembatas Jalan Usai Dihantam Fortuner di Tangerang
-
Biar Outfit Lebaran Nggak Biasa, Ini 3 Gamis Kalcer yang Lagi Naik
-
Pilihan Warna Baru Royal Iron dan Prime Gray Yamaha Grand Filano Hybrid yang Makin Kalcer
-
7 Rekomendasi Sepeda Lipat MTB Kalcer 20 Inch yang Bisa Masuk KRL, Stylish dan Murah
-
Warna Baru Classy Yamaha Perkuat Gaya Skena dan Kalcer Anak Muda Masa Kini
Terpopuler
- Janji Ringankan Kasus, Oknum Jaksa di Banten Ancam Korban Bayar Rp2 Miliar atau Dihukum Berat
- 5 HP Murah Terbaru Lolos Sertifikasi di Indonesia, Usung Baterai Jumbo hingga 7.800 mAh
- 6 Bedak Tabur Tahan Air, Makeup Tetap Mulus Meski Keringatan Seharian
- 69 Kode Redeem FF Max Terbaru 14 April 2026: Ada Skin Chromasonic dan Paket Bawah Laut
- Misteri Lenyapnya Bocah 4 Tahun di Tulung Madiun: Hanya Sekedip Mata Saat Ibu Mencuci
Pilihan
-
Jateng Belum Ikut-ikut Kebijakan KDM, Bayar Pajak Kendaraan Masih Pakai KTP Pemilik Lama
-
Ketua Ombudsman RI Hery Susanto Jadi Tersangka Kejagung, Tangan Diborgol
-
Bukan Hanya soal BBM, Kebijakan WFH Mengancam Napas Bisnis Kecil di Magelang
-
Solidaritas Tanpa Batas: Donasi WNI untuk Rakyat Iran Tembus Rp9 Miliar
-
CFD Ampera Bikin Macet, Akademisi: Ada yang Salah dari Cara Kota Diatur
Terkini
-
Berapa Harta Kekayaan Hery Susanto yang Diciduk Kejagung Usai 6 Hari Dilantik Presiden Prabowo?
-
Seni Wastra di Atas Meja: Resto Takeover yang Hadirkan Menu Favorit Kartini
-
Peluang 16 Mahasiswa FH UI Kuliah Lagi Setelah Status Nonaktif Selesai
-
7 Sabun Cuci Muka Pria yang Ampuh Mencerahkan, Atasi Beruntusan dan Kulit Belang
-
Harga Plastik Makin Tinggi, Coba 7 Alternatif Wadah Makanan Pengganti yang Aman
-
7 Rekomendasi Kipas Angin Portable yang Awet, Praktis Dibawa ke Mana Saja
-
Beda Status DO dan Nonaktif Sementara, Sanksi yang Diterima 16 Mahasiswa FH UI
-
6 Bedak Padat Anti Air dengan Oil Control, Tahan Lama di Wajah Bebas Kilap Seharian
-
4 Rekomendasi Sabun untuk Mesin Cuci Front Loading, Minim Busa dan Aman Digunakan
-
Setelah Erika, Muncul Lagu 25 Karat dari ITB yang Bermuatan Pelecehan Seksual