- Susana Somali mendirikan Pejaten Shelter pada 2009 di Jakarta untuk menyelamatkan anjing dan kucing yang terlantar.
- Shelter ini merawat lebih dari 2.500 hewan melalui penyediaan layanan medis, rehabilitasi, hingga proses adopsi yang ketat.
- Lembaga ini juga aktif mengedukasi masyarakat mengenai tanggung jawab pemilik hewan untuk memutus rantai penelantaran satwa.
Suara.com - Suara gonggongan anjing bersahutan. Kepakan kandang kucing pun terdengar silih berganti. Riuh suara tersebut menjadi pemandangan awam di sebuah sudut Pejaten Barat, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Di tempat itu, ratusan hewan telantar hidup berdampingan.
Di tempat bernama Pejaten Shelter tersebut, hewan-hewan mendapatkan kasih sayang. Sebagian hewan datang dengan luka terbuka, tubuh kurus, atau trauma akibat kekerasan. Namun di tangan Susana Somali, mereka mendapatkan kesempatan kedua untuk hidup.
Perempuan yang akrab disapa dokter Susana itu mendirikan Pejaten Shelter pada 2009. Awalnya sederhana. Dia hanya menyelamatkan anjing dan kucing telantar secara pribadi menggunakan biaya sendiri.
Namun seiring berkembangnya waktu, jumlah hewan yang membutuhkan pertolongan terus bertambah. Dari aksi kecil itu, lahirlah sebuah shelter. Hingga kiwari, shelter tersebut merawat lebih dari 2.500 anjing dan kucing di Jakarta dan Bandung, Jawa Barat.
“Banyak hewan datang dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Ada yang dibuang setelah sakit, ada yang menjadi korban kekerasan, bahkan ada yang sengaja ditelantarkan,” kata Susana, belum lama ini.
Bagi Susana, masalah hewan jalanan bukan sekadar soal populasi. Ada persoalan empati dan tanggung jawab manusia yang belum kelar. Dia melihat masih banyak orang menganggap hewan sebagai objek, bukan makhluk hidup yang juga bisa merasakan sakit dan ketakutan.
Karena itu, Pejaten Shelter tidak hanya fokus menyelamatkan hewan dari jalanan. Shelter ini juga memberikan perawatan medis, rehabilitasi, vaksinasi, sterilisasi, hingga perawatan jangka panjang bagi hewan berkebutuhan khusus. Hewan-hewan yang pulih kemudian akan masuk ke program adopsi dengan proses seleksi ketat agar tidak kembali mengalami penelantaran.
Di shelter tersebut, Susana dan timnya nyaris bekerja nonstop. Aktivitas rescue bisa datang kapan saja. Mulai dari laporan warga, penyerahan hewan oleh pemilik, hingga kondisi darurat di jalanan. Nah, operasional shelter selama ini banyak berjalan dari dana pribadi dan bantuan donatur.
“Kami tidak mungkin bekerja sendiri. Kesadaran masyarakat sangat penting. Kadang membantu itu tidak harus besar, bisa dimulai dari tidak menyakiti dan tidak membuang hewan,” ujarnya.
Baca Juga: Sadis! Pemuda Mabuk Lempar Kucing dari Balkon Setinggi 6 Meter Cuma Disanksi Ringan
Selain rescue, Pejaten Shelter juga aktif mengedukasi masyarakat tentang pentingnya sterilisasi, larangan kekerasan terhadap hewan, dan tanggung jawab sebagai pemilik satwa. Menurut Susana, edukasi menjadi langkah penting untuk memutus rantai penelantaran yang terus berulang.
Komitmen itu juga diwujudkan melalui kerja sama dengan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Barat dan Taman Margasatwa Ragunan dalam kegiatan pelepasliaran satwa. Sebut saja, pelepasliaran 30 ekor satwa monyet ekor panjang beberapa waktu silam.
Selain itu, Pejaten Shelter juga telah menggandeng Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis Institut Pertanian Bogor (IPB) dalam mendukung peningkatan kualitas kesehatan, penanganan, dan edukasi kesejahteraan satwa.
Di tengah keterbatasan, Pejaten Shelter perlahan tumbuh menjadi ruang aman bagi hewan-hewan yang selama ini terabaikan. Bagi Susana, perjuangan itu bukan soal popularitas atau penghargaan, melainkan tentang welas asih.
“Kalau manusia bisa memilih untuk hidup layak, hewan juga seharusnya punya kesempatan yang sama untuk hidup tanpa rasa sakit dan ketakutan,” katanya.
Di balik riuh suara kandang dan aktivitas rescue yang tak pernah berhenti, Susana terus menjaga satu keyakinan sederhana: kepedulian kecil dari banyak orang bisa menyelamatkan lebih banyak kehidupan.
Berita Terkait
Terpopuler
- 10 Pantangan Feng Shui Rumah yang Sebaiknya Dihindari, dari Pintu hingga Kamar Mandi
- 3 HP Xiaomi RAM 8 GB Murah di Bawah Rp1 Juta, Ini Pilihannya
- 4 Rekomendasi Merk Rice Cooker yang Awet dan Bagus untuk Pemakaian Jangka Panjang
- Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
- Feng Shui Rumah Menghadap Utara, Lakukan 4 Tips Ini agar Energi Seimbang dan Bawa Hoki
Pilihan
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
Terkini
-
Karhutla Sumsel Mencapai 1.926 Hektare, Ancaman Besarnya Justru Setelah Api Padam
-
Karhutla Sumsel Tembus 664,97 Hektare, 1.077 Kejadian Tercatat hingga Agustus
-
Bank Sumsel Babel dan Kodam II/Sriwijaya Perkuat Akses Layanan Keuangan Prajurit
-
Menteri Kebudayaan Fadli Zon Beberkan Alasan Geser Konser GBN dari Kota Tua ke Kabupaten Bogor
-
Polrestabes Bandung: Sopir Truk Jadi Tersangka Tabrak Lari yang Tewaskan Polisi
-
Cara Dapat Diskon Tiket Gaia Music Festival 2026 Pakai BRImo
-
Beli Produk Nespresso Pakai BRI Bisa Hemat Rp750 Ribu
-
InJourney & Garuda Indonesia Kolaborasi: Gratiskan 170.845 Tiket Domestik Bagi Wisatawan Mancanegara
-
InJourney & Garuda Indonesia Perkuat Konektivitas dan Kunjungan Wisatawan Mancanegara ke Indonesia
-
Kasus PETI Kuansing, Polisi Sita Ratusan Gram Perhiasan di Toko Emas Kampar