- Studi HCC dengan research associate Yoli Farradika ini menemukan, Google dan mesin pencari berbasis AI menjadi sumber utama swadiagnosis
- Anak muda lebih banyak melakukan diagnosis sendiri lewat AI soal kesehatan ketimbang ke dokter
- Hanya sekitar 40 persen dari swadiagnosis tersebut yang pergi ke dokter.
Suara.com - Berkembangnya teknologi artificial intelligence (AI) kerap membuat banyak orang, khususnya generasi muda melakukan swadiagnosis saat mengalami keluhan kesehatan. Hal ini juga terlihat dari hasil studi penelitian yang dilakukan Health Collaborative Center (HCC) terhadap anak muda urban.
Penelitian dilakukan pada Maret–Mei 2026 melalui pendekatan mixed-method yang melibatkan survei terhadap 448 responden urban dari berbagai kota besar di Indonesia, termasuk Jabodetabek, Bandung, Surabaya, Semarang, dan Yogyakarta.
Studi HCC dengan research associate Yoli Farradika ini menemukan, Google dan mesin pencari berbasis AI menjadi sumber utama swadiagnosis, diikuti website kesehatan dan konten digital lainnya. Keluhan yang paling sering dicari berkaitan dengan gangguan pernafasan dan kardiovaskular, pencernaan, hingga masalah psikologis.
Ketua Peneliti dan Pendiri HCC, Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH mengungkap,hampir 60 persen anak muda usia di bawah 40 tahun memilih melakukan swadiagnosis terlebih dahulu ketika mengalami keluhan kesehatan.
Artinya, sebanyak 6 dari 10 anak muda urban lebih memilih swadiagnosis dibanding langsung pergi ke dokter. Sementara berdasarkan penelitian, hanya sekitar 40 persen dari swadiagnosis tersebut yang pergi ke dokter. Sementara 36 persen memillih mengobati sendiri.
“Dari anak muda yang melakukan swadiagnosis, hanya 40 persen yang memutuskan pergi ke dokter. Sementara 36 persen memilih mengobati sendiri,” jelas Dr. Ray dalam media briefing di Jakarta, Rabu (13/5/2026).
Menariknya, studi ini juga menemukan bahwa 57 persen hasil swadiagnosis ternyata dikonfirmasi benar oleh dokter. Sementara 27 persen mengabaikan resep dokter karena bertentangan dengan informasi internet.
“Ketika seseorang merasa hasil pencarian internetnya beberapa kali terbukti benar, maka kepercayaan terhadap proses swadiagnosis akan meningkat. Ini bisa membentuk ilusi kompetensi medis semu di masyarakat, karena sebenarnya yang dianggap cocok dengan dokter itu bisa jadi hanya hasil skrining risiko penyakit dan bukan diagnosis,” ujarnya.
Alasan Swadiagnosis
Baca Juga: Eco-Friendly Mahal: Tantangan Anak Muda yang Ingin Peduli Lingkungan
Terkait orang-orang yang memilih swadiagnosis ini rupanya juga memiliki berbagai alasan, di antaranya:
- Pertama, mereka yang memilih swadiagnosis sebab lebih praktis dan hemat waktu. Hal ini membuat mereka tidak perlu keluar rumah untuk mengetahui kondisinya.
- Kedua, hemat biaya juga menjadi alasan seseorang melakukan swadiagnosis. Pasalnya, swadiagnosis menggunakan AI tidak perlu mengeluarkan biaya untuk membayar dokter.
- Ketiga, swadiagnosis dilakukan tanpa antre. Beberapa orang malas ke dokter karena antre. Oleh sebab itu, mereka melakukan swadiagnosis.
“Sebagian masyarakat merasa datang ke fasilitas kesehatan membutuhkan waktu panjang, antre, biaya tambahan, dan energi emosional. Akhirnya internet dianggap lebih praktis, lebih cepat, lebih murah, dan terasa lebih personal,” kata Dr. Ray.
Risiko Swadiagnosis
Sebab swadiagnosis tidak menjamin keakuratan, hal ini dapat memberika beberapa risiko, antara lain:
- Risiko overdiagnosis sangat tinggi, karena bergantung dengan prompt yang dituliskan. Hal itu bisa membuat kesalahan diagnosis serta salah metode pengobatan;
- Delay treatment bisa sangat dominan, sebab tidak langsung memilih untuk mengecek ke dokter;
- Generalisir hasil ke peer atau populasi yang lebih luas;
- Health anxiety;
- Manajemen medis tidak akurat;
- Distrust terhadap sistem kesehatan.
Melihat permasalahan ini, HCC menilai, fenomena swadiagnosis menjadi sinyal penting bahwa sistem kesehatan modern tidak lagi hanya bersaing dengan penyakit, tetapi juga dengan banjir informasi digital.
“Ke depan, tantangannya bukan melarang masyarakat mencari informasi kesehatan di internet. Itu hampir mustahil. Tantangannya adalah bagaimana negara, tenaga kesehatan, platform digital, dan institusi pendidikan membangun literasi kesehatan digital yang sehat dan bertanggung jawab,” ucap Dr. Ray.
Penelitian ini juga memperlihatkan bahwa meskipun kepercayaan terhadap dokter masih relatif tinggi, masyarakat kini semakin menjadikan internet sebagai alat rekonfirmasi terhadap diagnosis dan terapi medis.
Berita Terkait
-
Eco-Friendly Mahal: Tantangan Anak Muda yang Ingin Peduli Lingkungan
-
Nadiem Makarim Operasi Apa? Ini Fakta Terkait Kondisi Kesehatannya
-
Dharma Pongrekun Gugat UU Kesehatan ke MK: Soroti Ancaman Denda Rp500 Juta dan Kontrol Global
-
Hantavirus Strain Andes Bisa Menular Antar Manusia, Tapi Harus Kontak Erat dan Lama
-
Telkomsel Bongkar Strategi Digital Retail 2026, Solusi AI dan IoT Jadi Kunci Pertumbuhan Bisnis
Terpopuler
- 5 Shio yang Menarik Keberuntungan 28 Juni 2026, Hari Penuh Hoki dan Kesempatan
- 4 Sepatu Kanky Terlaris di Shopee, Nyaman Dipakai Seharian Sesuai Review Pembeli
- HBL Mantiri Dikukuhkan jadi Ketua BPP PPAD Gantikan Try Sutrisno
- 5 Motor Teririt untuk Buruh dan Pelajar, Dompet Tetap Aman Meski Pakai Pertamax
- 10 Promo Sepatu Lari di Sports Station: Adidas, Reebok, dan New Balance Mulai Rp299 Ribuan
Pilihan
-
Takut PHK, Prabowo Putuskan Harga LNG untuk Industri USD 13/MMBTU
-
Sejarah! Timnas Voli Indonesia Kalahkan Korsel dan Juara AVC Mens Volleyball Cup 2026
-
Bumi Berguncang! Gempa 6,2 M Hantam Afghanistan, Getaran Terasa Hingga India
-
Perang Meletus Lagi! Iran Hantam Basis AS di Teluk, Gencatan Senjata Runtuh
-
Pelatih Timnas Iran Desak Infantino Tegas Terhadap AS: Perlakuan Mereka Buruk!
Terkini
-
Tips Liburan Hemat dan Seru Bersama Keluarga di Resor Mewah Macau
-
Liburan Sekolah Makin Seru! Intip Keseruan Dunia 'Minions & Monsters' yang Hadir di Jakarta
-
Sumur Bor Kedalaman 20 Meter Pakai Pompa Air Apa? Segini Biaya yang Perlu Kamu Siapkan
-
Sunscreen Apa yang Bikin Glowing? Ini 7 Pilihan Terbaik sesuai Review dan Harga
-
Kenapa Cushion Cepat Oksidasi? Ini Penyebab dan 3 Rekomendasi untuk Makeup Anti Kusam
-
6 Shio yang Gampang Dapat Keberuntungan, Anak Emas Alam Semesta
-
4 Lipstik Wardah di Alfamart dengan Formula Transferproof hingga Foodproof
-
Apakah Sunscreen Wardah Boleh untuk Anak? Ini Batasan Usia dan 3 Rekomendasi Produknya
-
6 Sunscreen di Alfamart untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun ke Atas sesuai Review
-
Bedak Two Way Cake yang Bisa Menutupi Flek Hitam, Ini 5 Pilihan Terbaik dari Harga Termurah