Lifestyle / Komunitas
Rabu, 27 Mei 2026 | 10:55 WIB
Sapi kurban milik Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka tiba di Masjid Istiqlal, Jakarta, Selasa (26/5/2026) malam. [Suara.com/Cornelius Juan Prawira]
Baca 10 detik
  • Kurban 1.098 sapi presiden di Idul Adha 2026 disorot karena pakai APBN.
  • Secara syariat, sapi APBN bukan kurban personal, melainkan sekadar program bantuan sosial pemerintah.
  • Rata-rata harga Rp91 juta per ekor dinilai tak wajar dibandingkan harga sapi di pasaran.
  • Biaya Operasional dan Logistik Tinggi: Angka Rp100 miliar mungkin bukan murni harga beli sapi, melainkan sudah termasuk biaya survei, karantina, perawatan, hingga pengiriman logistik ke wilayah-wilayah terpelosok di 38 provinsi yang menelan biaya besar.
  • Pagu Anggaran Maksimal: Angka Rp100 miliar bisa jadi merupakan pagu anggaran batas atas, sedangkan realisasi penyerapan dana sebenarnya jauh di bawah angka tersebut. Jika ini yang terjadi, sisa anggaran wajib dikembalikan ke kas negara.
  • Tanda Tanya Transparansi Publik: Jika bukan karena logistik atau pagu batas atas, wajar bila publik menuntut rincian detail (RAB). Transparansi spesifikasi sapi dan harga per daerah sangat dibutuhkan untuk menepis dugaan adanya mark-up atau inefisiensi anggaran.

Bukan Kurban, Maka Wajib Transparan

Karena dana yang digunakan bersumber dari APBN, maka status 1.098 sapi ini bukanlah ibadah personal yang pertanggungjawabannya hanya kepada Tuhan, melainkan program bantuan sosial yang pertanggungjawabannya wajib dilaporkan kepada rakyat.

Dengan rata-rata alokasi dana menembus Rp91 juta per ekor, publik berhak mendapatkan transparansi kemana saja aliran dana ratusan miliar tersebut bermuara, agar niat baik pemerataan bantuan ini tidak menyisakan syak wasangka.

Load More