Lifestyle / Komunitas
Rabu, 24 Juni 2026 | 16:10 WIB
Potret Peserta Jelajah Buku dan Kota bersama LiteraTOUR dan Stories On Foot (Dok.pribadi/Natasha Suhendra)

Selain distribusi buku yang belum merata, harga buku juga dinilai menjadi faktor yang membuat literasi sulit berkembang, terutama bagi masyarakat di daerah. Menurutnya, kebutuhan dasar seperti pangan dan papan masih menjadi prioritas sehingga buku sering dianggap sebagai barang mewah.

"Harga tuh amat sangat mempengaruhi. Apalagi banyak orang yang memikirkan, utamanya kan sandang, papan, dan pangan. Jadi, buku tuh masih termasuk barang mewah hitungannya," kata Wahyu.

Ia menilai pemerintah perlu memberikan dukungan lebih serius terhadap industri literasi, termasuk melalui kebijakan yang membuat harga buku lebih terjangkau. Tidak hanya itu, budaya membaca di keluarga dan sekolah juga masih menjadi PR yang sangat penting dan besar. 

Optimisme Literasi dari Generasi Muda dan Media Sosial

Meski demikian, Wahyu tetap optimistis terhadap perkembangan budaya membaca di kalangan generasi muda. Ia melihat tren membaca justru mengalami peningkatan, baik melalui komunitas baca maupun media sosial.

"Kalau aku melihat Gen Z, generasi-generasi muda itu sangat terpapar sama sosial media dan jadi kayak ramai. Aku lihat Indonesia book party yang di setiap kota, di setiap daerah itu yang kecil-kecil, di ujung-ujung itu ada. Mereka mau membuat sendiri, itu kan buat satu optimisme tersendiri."

Fenomena BookTok di TikTok juga dinilai menjadi bukti bahwa buku masih memiliki tempat di kalangan anak muda. Melalui media sosial, sebuah buku dapat menjadi viral dan menarik perhatian ribuan pembaca baru.

Oleh karena itu, Literatour juga memanfaatkan media sosial untuk mengampanyekan budaya membaca. Menurut Wahyu, ruang digital perlu dipenuhi narasi positif tentang literasi agar mampu bersaing dengan berbagai bentuk hiburan lain.

"Ruang membaca itu tidak cuma di dunia nyata, di dunia digital juga harus digaungkan," ujarnya.

Baca Juga: Saat Semua Cara Tak Berhasil, "Tuhan, Akhirnya Aku Menyerah" Jawabannya

Ia berharap semakin banyak kolaborasi lintas komunitas untuk memperluas gerakan literasi sehingga membaca tidak lagi dipandang sebagai aktivitas yang membosankan. Pada akhirnya, Wahyu menilai masa depan literasi Indonesia bergantung pada keseriusan semua pihak dalam memperbaiki akses terhadap buku. 

"Semoga negara ini lebih peduli terhadap kepentingan literasi secara umum. Semoga buku lebih murah, akses lebih merata, dan semakin banyak orang menikmati bacaannya sendiri," tutupnya.

Penulis: Natasha Suhendra

Load More