Selain distribusi buku yang belum merata, harga buku juga dinilai menjadi faktor yang membuat literasi sulit berkembang, terutama bagi masyarakat di daerah. Menurutnya, kebutuhan dasar seperti pangan dan papan masih menjadi prioritas sehingga buku sering dianggap sebagai barang mewah.
"Harga tuh amat sangat mempengaruhi. Apalagi banyak orang yang memikirkan, utamanya kan sandang, papan, dan pangan. Jadi, buku tuh masih termasuk barang mewah hitungannya," kata Wahyu.
Ia menilai pemerintah perlu memberikan dukungan lebih serius terhadap industri literasi, termasuk melalui kebijakan yang membuat harga buku lebih terjangkau. Tidak hanya itu, budaya membaca di keluarga dan sekolah juga masih menjadi PR yang sangat penting dan besar.
Optimisme Literasi dari Generasi Muda dan Media Sosial
Meski demikian, Wahyu tetap optimistis terhadap perkembangan budaya membaca di kalangan generasi muda. Ia melihat tren membaca justru mengalami peningkatan, baik melalui komunitas baca maupun media sosial.
"Kalau aku melihat Gen Z, generasi-generasi muda itu sangat terpapar sama sosial media dan jadi kayak ramai. Aku lihat Indonesia book party yang di setiap kota, di setiap daerah itu yang kecil-kecil, di ujung-ujung itu ada. Mereka mau membuat sendiri, itu kan buat satu optimisme tersendiri."
Fenomena BookTok di TikTok juga dinilai menjadi bukti bahwa buku masih memiliki tempat di kalangan anak muda. Melalui media sosial, sebuah buku dapat menjadi viral dan menarik perhatian ribuan pembaca baru.
Oleh karena itu, Literatour juga memanfaatkan media sosial untuk mengampanyekan budaya membaca. Menurut Wahyu, ruang digital perlu dipenuhi narasi positif tentang literasi agar mampu bersaing dengan berbagai bentuk hiburan lain.
"Ruang membaca itu tidak cuma di dunia nyata, di dunia digital juga harus digaungkan," ujarnya.
Baca Juga: Saat Semua Cara Tak Berhasil, "Tuhan, Akhirnya Aku Menyerah" Jawabannya
Ia berharap semakin banyak kolaborasi lintas komunitas untuk memperluas gerakan literasi sehingga membaca tidak lagi dipandang sebagai aktivitas yang membosankan. Pada akhirnya, Wahyu menilai masa depan literasi Indonesia bergantung pada keseriusan semua pihak dalam memperbaiki akses terhadap buku.
"Semoga negara ini lebih peduli terhadap kepentingan literasi secara umum. Semoga buku lebih murah, akses lebih merata, dan semakin banyak orang menikmati bacaannya sendiri," tutupnya.
Penulis: Natasha Suhendra
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 HP Samsung Rp2 Jutaan Terbaik: Kamera Tajam, NFC hingga Koneksi 5G
- 7 Lukisan Pembawa Hoki Menurut Feng Shui untuk Dipajang di Ruang Tamu
- 3 HP Infinix Memori 256 GB dan NFC Harga Rp1 Jutaan, Solusi Multitasking hingga Gaming
- 12 Sepeda Gunung United Detroit Lengkap dengan Harga dan Spesifikasinya
- 5 Rekomendasi Rice Cooker Digital, Nasi Tetap Pulen hingga 48 Jam
Pilihan
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
Terkini
-
Jatuh dari Tongkang di Sungai Baung OKI, Dua Korban Ditemukan Meninggal
-
Karhutla Dekati Runway Bandara Atung Bungsu, Penerbangan Pagar Alam Masih Normal?
-
Baru 2 Hari Direhab, Anak Mantan DPRD Muratara Kabur Usai Dobrak Pintu Yayasan
-
Program Cetak Sawah Berhadapan dengan Karhutla, Api Membakar Lahan di Muara Enim
-
Kebakaran Bromo Meluas hingga 520 Hektare, Destinasi Wisata Probolinggo Disebut Masih Aman
-
Pernah Jadi Anak Buah Nadiem, Pakar Minta Kejagung Ganti Jaksa Chatarina di Kasus Eks Jampidsus
-
Puluhan Kios di Bawah Jembatan Babat Terbakar, Polisi Selidiki Dugaan Pembakaran Sampah
-
30 Ribu Kopdes Merah Putih Dikebut Sebelum 17 Agustus, Siapa yang Akan Mengelola?
-
Bangga! Prestasi Apik Ditorehkan Kevin Diks di Awal Musim Bundesliga 2026/2027
-
Prabowo Puji Sepatu Inovasi BRIN Berbahan Limbah Sawit, Harganya Cuma 60 Ribuan!