Lifestyle / Komunitas
Senin, 13 Juli 2026 | 11:51 WIB
Ilustrasi mencari kerja. (freepik)
Baca 10 detik
  • Arya Kubon dari Linkarir menyatakan perusahaan harus memperluas kanal rekrutmen ke media sosial dan komunitas digital.
  • Perusahaan dituntut mempercepat proses seleksi agar dapat memenangkan kandidat berkualitas di tengah ketatnya persaingan tenaga kerja.
  • Pemanfaatan kecerdasan buatan akan membantu penyaringan administrasi, namun keputusan akhir tetap memerlukan penilaian mendalam dari manusia.

Suara.com - Di tengah persaingan kerja yang semakin ketat, tantangan pencari kerja tidak lagi sebatas menemukan lowongan. Perkembangan teknologi digital juga mengubah cara masyarakat mencari informasi pekerjaan, sehingga perusahaan perlu menyesuaikan strategi rekrutmen agar dapat menjangkau kandidat yang tepat.

Jika sebelumnya portal lowongan menjadi tujuan utama, kini banyak pencari kerja memperoleh informasi melalui media sosial, komunitas digital, hingga rekomendasi dari jaringan profesional.

Operations Manager Linkarir, Arya Kubon, mengatakan perubahan perilaku tersebut membuat perusahaan tidak bisa lagi mengandalkan satu kanal rekrutmen.

Ilustrasi cari kerja. (Dok. Istimewa)

"Perilaku pencari kerja terus berubah. Banyak kandidat tidak lagi secara rutin membuka portal lowongan, melainkan menemukan informasi pekerjaan melalui media sosial, komunitas, atau rekomendasi dari orang terdekat. Karena itu, strategi penyebaran informasi lowongan juga perlu mengikuti perubahan tersebut," ujar Arya.

Menurutnya, digitalisasi memang membuat proses administrasi perekrutan menjadi lebih efisien. Namun, tantangan terbesar saat ini adalah memastikan informasi lowongan benar-benar menjangkau kandidat yang memiliki kompetensi sesuai kebutuhan perusahaan.

Selain memperluas distribusi informasi, perusahaan juga dituntut mempercepat proses seleksi. Arya menilai kandidat berkualitas sering kali menerima beberapa tawaran kerja dalam waktu yang hampir bersamaan sehingga kecepatan respons menjadi salah satu faktor penting dalam memenangkan persaingan mendapatkan talenta.

"Perusahaan yang mampu merespons kandidat dengan lebih cepat umumnya memiliki peluang lebih besar untuk menarik tenaga kerja yang sesuai," katanya.

Ke depan, Arya memperkirakan pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) akan semakin banyak digunakan untuk membantu penyaringan administrasi dan seleksi awal pelamar. Meski begitu, keputusan akhir perekrutan tetap membutuhkan penilaian manusia, terutama dalam menilai karakter, kemampuan berkomunikasi, dan kesesuaian dengan budaya kerja.

Menurut Arya, perubahan pola pencarian kerja menunjukkan bahwa keberhasilan rekrutmen tidak lagi hanya ditentukan oleh banyaknya lowongan yang dibuka, tetapi juga kemampuan perusahaan beradaptasi dengan cara baru masyarakat menemukan peluang kerja di era digital.

Baca Juga: 5 Cara Sederhana Redakan Stres Kerja agar Tidak Burnout, Mudah Dilakukan!

Load More