Lifestyle / Komunitas
Selasa, 28 Juli 2026 | 12:56 WIB
Tanaman mangrove di pesisir Dusun Kure Caddi, Desa Nisombalia, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. (Dok. ANTARA/Nur Suhra Wardyah (B)
Baca 10 detik
  • Indonesia kehilangan 200 ribu hektare hutan mangrove yang mengancam perlindungan pesisir serta sumber penghidupan masyarakat pesisir.
  • Yayasan Kolase dan mitra menyelenggarakan Hari Mangrove Sedunia 2026 di Kubu Raya untuk mendorong kolaborasi konservasi.
  • Pemerintah dan masyarakat Desa Medan Mas menyatakan mangrove melindungi wilayah dari abrasi serta menopang ekonomi lokal.

Suara.com - Indonesia masih kehilangan sekitar 200 ribu hektare hutan mangrove, meski di sejumlah negara tutupan ekosistem pesisir tersebut mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Kondisi ini dinilai mengancam perlindungan kawasan pesisir sekaligus sumber penghidupan masyarakat yang bergantung pada hasil laut.

Di tengah tantangan tersebut, berbagai pihak mulai mendorong pendekatan yang tidak hanya berfokus pada rehabilitasi kawasan, tetapi juga memperkuat kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, organisasi lingkungan, hingga media untuk menjaga mangrove sebagai fondasi ekonomi biru.

Upaya tersebut menjadi salah satu fokus dalam peringatan Hari Mangrove Sedunia 2026 di Desa Medan Mas, Kecamatan Batu Ampar, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat. Kegiatan yang menjadi bagian dari Kolase Journalist Camp 2026 itu diselenggarakan Yayasan Kolase dengan dukungan Yayasan Hutan Biru (Blue Forests), Blue Ventures, Trend Asia, dan Pemerintah Desa Medan Mas.

Potret Ekosisitem Mangrove (Pexels/Jazmin Morales)

Manajer Program Yayasan Hutan Biru, Noviansyah Putra, mengatakan mangrove bukan sekadar kumpulan pohon di pesisir, tetapi ekosistem yang menopang kehidupan masyarakat melalui perlindungan pantai, jasa lingkungan, hingga habitat berbagai jenis ikan dan biota laut.

Menurutnya, peringatan Hari Mangrove Sedunia menjadi kesempatan untuk memperkuat hubungan masyarakat dengan ekosistem yang selama ini menjadi penyangga kehidupan di wilayah pesisir.

"Ini bukan hanya sekadar peringatan tahunan, tetapi kesempatan untuk kembali bertemu masyarakat akar rumput dan memperkuat hubungan kita dengan ekosistem mangrove yang menjadi bagian penting kehidupan masyarakat pesisir," ujar Noviansyah seperti dikutip dari ANTARA. 

Ia menilai konservasi mangrove tidak cukup dilakukan melalui penanaman maupun perlindungan kawasan. Pengalaman masyarakat yang hidup berdampingan dengan mangrove juga perlu didokumentasikan dan disebarluaskan agar semakin banyak orang memahami manfaat ekosistem tersebut.

"Cerita, pengalaman, tantangan, dan keberhasilan masyarakat akar rumput perlu didokumentasikan dan disampaikan kepada publik agar semakin banyak orang memahami pentingnya menjaga mangrove," katanya.

Mangrove sebagai penopang ekonomi pesisir

Baca Juga: Bagaimana Mangrove Membantu Nelayan Kuri Caddi Bertahan di Tengah Cuaca Ekstrem?

Bagi masyarakat Desa Medan Mas, menjaga mangrove juga dipandang sebagai bagian dari upaya membangun ekonomi lokal.

Kepala Desa Medan Mas, Dharma Wira, mengatakan kawasan mangrove tidak hanya melindungi pesisir dari abrasi, intrusi air laut, dan dampak perubahan iklim, tetapi juga menjadi habitat ikan, udang, kepiting, burung, serta berbagai biota lainnya yang menopang mata pencaharian warga.

Potensi tersebut, menurutnya, membuka peluang pengembangan ekonomi biru melalui wisata mangrove, perikanan berkelanjutan, pengolahan hasil pesisir, edukasi lingkungan, hingga pemberdayaan UMKM.

"Mangrove bukan sekadar kumpulan pohon di pantai, melainkan benteng alami yang melindungi kawasan pesisir dari intrusi air laut dan dampak perubahan iklim," ujarnya.
Ia berharap generasi muda ikut memandang mangrove sebagai bagian dari identitas desa sekaligus aset yang perlu dijaga bersama.

Senada, Camat Batu Ampar, Agus, mengatakan menjaga mangrove merupakan investasi jangka panjang bagi masyarakat pesisir. Menurutnya, berkurangnya kawasan mangrove dapat meningkatkan abrasi sekaligus memaksa nelayan melaut lebih jauh sehingga biaya operasional dan risiko semakin besar.

Sementara itu, perwakilan Dinas Kelautan dan Perikanan Kalimantan Barat menjelaskan kawasan pesisir Batu Ampar, termasuk Desa Medan Mas, merupakan bagian dari kawasan konservasi perairan daerah dengan mangrove sebagai salah satu ekosistem yang menjadi prioritas perlindungan.

Load More