Israel Culik Jurnalis Perempuan Press TV di Dekat Betlehem

Rabu, 16 September 2026 | 11:37 WIB
Jurnalis Press TV Naqqa Hamed (Press TV)
  • Pasukan Israel menculik jurnalis Press TV Naqqa Hamed di pos pemeriksaan Bethlehem, Tepi Barat.
  • Penangkapan Hamed didahului kampanye persekusi digital terorganisir dari akun-akun pro-Israel di media sosial.
  • Hamed kerap menjadi sasaran serangan fisik militer Israel saat meliput di kamp pengungsian Qalandiya.

Suara.com - Pasukan militer Israel menculik jurnalis Press TV bernama Naqqa Hamed saat melintas di checkpoint daerah Bethlehem, Tepi Barat. Penangkapan mendadak ini langsung memutus akses pelaporan berita dari tempat kejadian perkara.

Penyergapan tersebut terjadi persis di pos pemeriksaan kawasan Tuqu ketika korban sedang melakukan perjalanan dinas bersama tim liputannya. Tentara pendudukan menyita peralatan, menahan Hamed, lalu membiarkan kru kameramen pergi begitu saja.

Tindakan represif ini memperkuat indikasi pembungkaman terhadap pekerja media yang aktif menyuarakan peristiwa di wilayah konflik. Dikutip dari Press TV, kasus ini menambah daftar panjang kekerasan fisik maupun intimidasi digital terhadap awak media di Palestina.

Sebelum aksi penculikan ini terjadi, sederet akun zionis di media sosial melancarkan persekusi masif dan kampanye hitam untuk menjatuhkan kredibilitas Hamed. Mereka secara terorganisir menyebarkan narasi provokatif menggunakan pola kalimat yang seragam selama sebulan terakhir.

Akun-akun tersebut mempersoalkan keberadaan Hamed yang masih bisa meliput di "Area B" meskipun wilayah itu berada di bawah kendali keamanan Israel. Narasi jahat tersebut secara spesifik menyoroti pekerjaannya sebagai reporter untuk media Iran, Press TV.

Manufaktur tekanan media dan serangan psikologis ini bertujuan mempersempit ruang gerak wartawan di lapangan. Skenario persekusi ini dirancang untuk menghadang laporan pelanggaran hukum internasional oleh Israel agar tidak diakses publik global.

Aksi kekerasan darat terhadap Hamed sejatinya bukan pertama kali terjadi di wilayah konflik Tepi Barat. Militer Israel tercatat berulang kali menyerang keselamatan fisiknya saat menjalankan tugas jurnalistik resmi.

Pada 6 Agustus lalu, serdadu Israel menyerbu kerumunan wartawan yang sedang meliput penggerebekan di kamp pengungsian Qalandiya. Hamed beserta rekan-rekannya tetap diserang menggunakan granat kejut dan gas air mata meski telah mengenakan rompi serta helm pers yang jelas.

Insiden fisik lain menimpa Hamed pada Desember tahun lalu ketika ia terkena tembakan peluru karet saat siaran langsung di lokasi yang sama. Serangan demi serangan tersebut mengonfirmasi tingginya risiko keselamatan bagi jurnalis di zona pendudukan.

Penculikan terbaru ini berlangsung di tengah gelombang penggerebekan militer Israel yang kian masif di berbagai kota dan kamp pengungsian Tepi Barat. Operasi militer tersebut rutin diwarnai penggeledahan rumah, penangkapan sewenang-wenang, hingga penembakan warga sipil sejak agresi di Gaza meletus pada Oktober 2023.

Terkait
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com