- Peneliti Sirkoola Yogyakarta Moh Jauhar al-Hakimi mengusulkan ekonomi sirkular untuk mengelola sampah di Keraton Yogyakarta.
- Limbah organik dan anorganik diubah menjadi kompos serta cinderamata bernilai ekonomi guna mengurangi volume sampah.
- Wisatawan yang membuang sampah sembarangan dikenai sanksi restoratif membersihkan Keraton bersama Abdi Dalem.
Suara.com - Sampah di kawasan wisata umumnya dipandang sebagai persoalan yang harus segera diangkut ke tempat pembuangan akhir. Namun, menurut peneliti Sirkoola Yogyakarta, Moh. Jauhar al-Hakimi, pendekatan tersebut sudah tidak lagi memadai, terutama di kawasan cagar budaya seperti Keraton Yogyakarta yang setiap hari menghasilkan limbah dari aktivitas wisata maupun lingkungan istana.
Ia menilai pengelolaan sampah di kawasan Keraton perlu bergeser dari paradigma "kumpul-angkut-buang" menuju ekonomi sirkular yang memandang sampah sebagai sumber daya bernilai ekonomi sekaligus media edukasi bagi wisatawan.
"Melalui filosofi Hamemayu Hayuning Bawono, sampah bukan dipandang sebagai akhir dari sebuah proses, tetapi bagian dari siklus kehidupan yang dapat kembali memberi manfaat," ujar Jauhar.
Menurutnya, Keraton Yogyakarta memiliki karakteristik yang berbeda dibanding destinasi wisata lainnya. Selain sampah dari aktivitas wisatawan, kawasan ini juga menghasilkan limbah organik berupa guguran daun pohon-pohon bersejarah seperti sawo kecik, beringin, dan kepel, bunga bekas upacara adat, hingga limbah dapur istana.
Mengubah Sampah Menjadi Cinderamata Bernilai
Alih-alih dibuang, limbah organik tersebut dinilai dapat diolah menggunakan mikroorganisme lokal menjadi kompos organik berkualitas tinggi. Bahkan, kompos itu dapat dikembangkan menjadi cinderamata edukatif dengan kemasan yang mengangkat filosofi Jawa.
Jauhar mencontohkan produk kompos dapat diberi nama seperti "Sari Bumi Mataram", dikemas menggunakan kantong kain alami, kemudian dilengkapi label berbahan seed paper yang dapat ditanam kembali setelah selesai dibaca.
"Bukan sekadar pupuk, tetapi wisatawan membawa pulang cerita tentang bagaimana alam, budaya, dan manusia saling terhubung," katanya.
Tak hanya limbah organik, sampah anorganik seperti botol plastik dan botol kaca bekas minuman juga dinilai memiliki potensi ekonomi. Melalui kolaborasi dengan bank sampah dan pelaku kriya lokal, material tersebut dapat diolah menjadi gantungan kunci, pembatas buku, tatakan gelas, hingga berbagai suvenir bermotif arsitektur Keraton maupun batik khas Yogyakarta.
Baca Juga: Bantargebang Berbenah, Sampah Warga Tetap Diangkut
Menurut Jauhar, pendekatan tersebut tidak hanya mengurangi volume sampah yang berakhir di tempat pemrosesan akhir (TPA), tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat sekitar sekaligus memperkuat identitas budaya kawasan wisata.
Mengganti Denda dengan Pengalaman Budaya
Selain pengelolaan sampah, Jauhar juga menawarkan pendekatan berbeda dalam membangun kedisiplinan wisatawan melalui konsep Pranatan Reresik.
Berbeda dengan sistem denda yang umum diterapkan di berbagai destinasi wisata, konsep tersebut mengedepankan pendekatan restoratif. Wisatawan yang kedapatan membuang sampah sembarangan diajak membersihkan sebagian kecil area Keraton bersama Abdi Dalem selama beberapa menit sambil mendapatkan penjelasan mengenai filosofi menjaga kebersihan dalam budaya Jawa.
Setelah kegiatan selesai, wisatawan diberikan cinderamata sederhana berupa sampel kompos atau produk daur ulang sebagai simbol partisipasi mereka dalam menjaga lingkungan.
"Tujuannya bukan mempermalukan wisatawan, tetapi mengubah pelanggaran menjadi pengalaman budaya yang berkesan," ujar Jauhar.
Ia menilai model tersebut berpotensi menjadikan Keraton Yogyakarta sebagai contoh pariwisata budaya yang tidak hanya melestarikan warisan sejarah, tetapi juga membangun ekonomi sirkular berbasis kearifan lokal. Dengan begitu, wisatawan tidak sekadar pulang membawa foto perjalanan, melainkan juga membawa pemahaman baru bahwa menjaga lingkungan merupakan bagian dari pengalaman berwisata.
"Bila diterapkan secara konsisten, konsep Dari Sampah Menjadi Berkah dapat menunjukkan bahwa pelestarian budaya, pengelolaan lingkungan, dan penguatan ekonomi masyarakat bukanlah tujuan yang saling bertentangan, melainkan dapat berjalan beriringan dalam satu ekosistem pariwisata yang berkelanjutan," tutup Jauhar.
Berita Terkait
Terpopuler
- 10 HP Murah Memori 128 GB dan Kamera Bening di Bawah Rp1,5 Juta untuk Multitasking
- Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
- 7 HP Murah Spesifikasi Terbaik di Bawah Rp2 Juta, Kamera 108 MP hingga NFC
- 9 Rekomendasi Lipstik Tahan Lama yang Cocok untuk Kulit Sawo Matang
- 5 Sepatu Lari di Bawah Rp500 Ribu di Sports Station, Performa Nyaman Sesuai Review
Pilihan
-
Hukum Tak Mampu Meyakinkan Publik, Main Hakim Sendiri Jadi Jalan Pintas
-
Rupiah Jebol ke Rp18.083 per Dolar AS, Terpuruk Paling Dalam di Asia usai Perry Warjiyo Mundur
-
Adik Kim Jong un ke Indonesia Cs: Hei Antek-antek Asing, Stop Jadi Corong Bayaran AS
-
Melania Trump Hendak Dibunuh saat Belanja Baju, Ada 'Orang Dalam' Berkhianat
-
Bayi 'Putri Duyung' Lahir di OKI, Apa Itu Sirenomelia yang Membuat Kakinya Menyatu?
Terkini
-
Menghidupkan Kembali Nilai Sampah Lewat Filosofi Hamemayu Hayuning Bawono, Bagaimana Praktiknya?
-
Goldfinches, Buku Cantik tentang Kebahagiaan dalam Hal-Hal Sederhana
-
Dialami Penjaga Rumah Febrie Adriansyah, Pakar Farmakologi Ungkap Sebab Mulut Bisa Berbusa
-
Macet Jakarta Tak Berujung, Dishub DKI Akui Kekurangan 'Senjata' Hadapi Truk Besar Mogok
-
Pemerintah Luruskan Isu Larangan Vape, Pelaku Industri Bernafas Lega
-
Kupas Tuntas Transportasi Jakarta: Beneran Bikin Hemat atau Malah Ribet?
-
Aturan AI Berlaku, Korporasi dan Sektor Keuangan RI Bisa Terancam Denda 2% dari Pendapatan
-
Bukan 'Ujug-ujug', Terungkap Alasan Kaesang Pilih Jateng Jadi Medan Tempur Menuju Senayan
-
Kepala Bakom Qodari Jawab Polemik Londo Ireng, Kabinet Bayangan hingga Gubernur BI
-
Wamendagri Ingatkan Sayembara Tangkap Begal Harus Tetap Sesuai Hukum