Lifestyle / Female
Selasa, 11 Agustus 2026 | 16:36 WIB
ilustrasi tren kecantikan. (magnific/drobotdean)
Baca 10 detik
  • Sejak 2024, kunjungan pasien asal Indonesia ke SL Aesthetic Clinic di Singapura meningkat sekitar 30 persen.
  • Dr. Kelvin Chua menyatakan penggunaan skincare berlebih tanpa pertimbangan medis dapat memicu iritasi dan masalah kulit.
  • Klinik kecantikan di Singapura memanfaatkan analisis kulit berbasis AI guna mendukung evaluasi medis secara objektif.

Suara.com - Kulit glowing mungkin masih menjadi dambaan banyak perempuan Indonesia. Namun, standar kecantikan perlahan bergeser. Jika dulu perawatan estetika identik dengan keinginan terlihat lebih muda, putih, atau mengubah bentuk wajah, kini semakin banyak perempuan yang justru ingin memiliki kulit yang sehat, kuat, dan terlihat natural.

Perubahan ini turut terlihat dari meningkatnya pasien Indonesia yang mencari perawatan kulit di Singapura. Dr. Kelvin Chua, Senior Medical Director sekaligus Founder SL Aesthetic Clinic di Singapura, mengatakan jumlah pasien Indonesia di kliniknya meningkat sekitar 30 persen sejak 2024.

“Sebagian besar pasien Indonesia kami datang dari kota-kota besar seperti Jakarta dan Bali. Banyak yang awalnya datang karena jerawat yang terus muncul dan tidak membaik meskipun sebelumnya sudah menjalani perawatan atau menggunakan skincare,” ujar Dr. Kelvin kepada Suara.com dalam wawancara tertulis.

Menariknya, setelah menjalani pemeriksaan lebih menyeluruh, tidak sedikit pasien yang ternyata bukan sekadar mengalami jerawat. Kondisi seperti skin barrier yang terganggu atau rosacea dapat menimbulkan tampilan kemerahan dan bruntusan yang sekilas menyerupai jerawat.

Ketika Terlalu Banyak Skincare Justru Jadi Masalah

Fenomena ini cukup relate dengan kebiasaan perempuan masa kini yang gemar mencoba berbagai produk skincare. Mulai dari retinol, vitamin C, AHA, BHA, hingga berbagai teknik layering dan skin cycling.

Menurut Dr. Kelvin, masalahnya bukan pada penggunaan banyak produk semata, melainkan ketika bahan aktif digunakan terlalu banyak atau diperkenalkan terlalu cepat tanpa mempertimbangkan kondisi kulit.

“Retinol adalah bahan yang sangat efektif untuk mengatasi jerawat dan tanda-tanda penuaan. Tapi jika diperkenalkan terlalu cepat atau digunakan terlalu sering, retinol dapat menyebabkan kulit kering dan iritasi, terutama bagi mereka yang memiliki kulit kering dan sensitif,” jelasnya.

Pada kulit Asia, termasuk perempuan Indonesia, persoalan tersebut juga perlu mendapat perhatian lebih. Produksi melanin yang relatif tinggi membuat kulit lebih rentan mengalami post-inflammatory hyperpigmentation (PIH), yaitu noda gelap yang muncul setelah peradangan seperti jerawat.

Baca Juga: Industri Kecantikan Indonesia Makin Bergairah, Inovasi dan Teknologi Jadi Kunci Persaingan

Ditambah iklim tropis dengan paparan sinar matahari sepanjang tahun, bekas jerawat pada kulit perempuan Indonesia bisa membutuhkan waktu cukup lama untuk memudar. Karena itu, penggunaan sunscreen menjadi bagian penting dari perawatan kulit, terutama ketika menggunakan bahan aktif tertentu.

Teknologi Membantu Melihat Masalah yang Tak Kasatmata

Di tengah semakin kompleksnya kebutuhan perawatan kulit, teknologi mulai memainkan peran penting dalam dunia estetika Singapura. Salah satunya melalui penggunaan AI-powered skin analysis untuk membantu dokter mendapatkan gambaran kondisi kulit secara lebih objektif.

Dr. Kelvin mengatakan teknologi tersebut dapat membantu mengidentifikasi masalah yang sulit terlihat dengan mata telanjang, seperti pigmentasi tersembunyi maupun kerusakan kulit akibat paparan sinar UV.

“Penggunaan teknologi ini memberikan kami gambaran dasar yang lebih objektif tentang kondisi kulit pasien, sehingga dapat membantu kami memantau perubahan dari waktu ke waktu dan memahami lebih baik masalah kulit mana yang perlu diprioritaskan,” katanya.

Namun, kecanggihan teknologi bukan berarti AI dapat menggantikan dokter.

Load More