- Pendiri NU KH Muhammad Hasyim Asy'ari menyatakan bahwa salat Rebo Wekasan tidak disyariatkan dalam agama Islam.
- Sebagian masyarakat memperingati Rabu terakhir bulan Safar dengan salat khusus karena meyakini turunnya banyak bala.
- Hasyim Asy'ari menegaskan larangan memberi fatwa, mengajak, atau melakukan salat tersebut karena tidak memiliki dasar rujukan sahih.
Suara.com - Rebo Wekasan kembali menjadi pembahasan setiap kali kalender Hijriah memasuki bulan Safar. Namun, apa itu Rebo Wekasan dan mengapa hari tersebut dianggap memiliki makna khusus?
Namun, persoalan mengenai salat Rebo Wekasan ternyata pernah mendapat perhatian serius dari salah satu ulama besar Indonesia, KH Muhammad Hasyim Asy'ari. Pendiri Nahdlatul Ulama sekaligus Rais Akbar NU tersebut memberikan penjelasan mengenai hukum pelaksanaan salat Rebo Wekasan.
"Tidak boleh memberi fatwa, (tidak boleh) mengajak-ajak, dan (tidak boleh) melakukan salat Rebo Wekasan dan salat Hadiah yang disebut dalam pertanyaan. Karena dua salat tersebut bukan salat yang disyariatkan." - KH Muhammad Hasyim Asy'ari Pendiri NU
Rebo Wekasan digunakan untuk menyebut hari Rabu terakhir pada bulan Safar. Dalam tradisi yang berkembang di sebagian masyarakat, hari tersebut diyakini sebagai waktu turunnya bala atau berbagai bentuk musibah dalam jumlah yang sangat banyak.
Keyakinan inilah yang kemudian melahirkan sejumlah amalan khusus, termasuk salat yang dikenal sebagai salat Rebo Wekasan.
Pandangan tersebut menjadi penting karena Rebo Wekasan tidak hanya berkaitan dengan tradisi, tetapi juga menyentuh persoalan ibadah. Bagi masyarakat yang ingin mengetahui apa itu Rebo Wekasan, penting untuk membedakan antara tradisi yang berkembang di masyarakat dengan ibadah yang memang memiliki dasar syariat.
Lantas, dari mana muncul anggapan bahwa Rabu terakhir bulan Safar merupakan hari turunnya bala? Dalam tradisi yang berkembang, terdapat keyakinan bahwa pada hari tersebut turun berbagai macam bala dalam jumlah yang sangat banyak. Karena itu, sebagian masyarakat kemudian melakukan amalan tertentu dengan tujuan memohon perlindungan kepada Allah SWT.
Salah satu bentuk amalan yang dikenal adalah salat Rebo Wekasan. Salat ini biasanya dilakukan dengan jumlah rakaat dan bacaan doa tertentu. Akan tetapi, keberadaan amalan tersebut tidak serta-merta berarti bahwa salat Rebo Wekasan merupakan ibadah yang disyariatkan dalam Islam. Hal inilah yang menjadi salah satu pokok pembahasan KH Muhammad Hasyim Asy'ari.
Apa Itu Rebo Wekasan?
Secara sederhana, Rebo Wekasan adalah istilah yang digunakan untuk menyebut Rabu terakhir di bulan Safar. Kata "Rebo" berasal dari bahasa Jawa yang berarti Rabu, sedangkan "Wekasan" berarti terakhir atau penghujung.
Tradisi Rebo Wekasan berkembang di sejumlah daerah dengan bentuk yang berbeda-beda. Ada masyarakat yang mengisinya dengan doa bersama, pengajian, sedekah, hingga amalan tertentu. Sebagian lainnya mengenalnya secara khusus melalui pelaksanaan salat Rebo Wekasan.
Baca Juga: Niat Sholat Tolak Bala Rebo Wekasan: Lengkap dengan Bacaan Latin, Arti, dan Jadwalnya di Tahun 2026
Tradisi tersebut umumnya berkaitan dengan keinginan masyarakat untuk memohon keselamatan dan perlindungan dari berbagai musibah. Karena itu, pembahasan Rebo Wekasan sering kali tidak dapat dilepaskan dari persoalan tentang bala, doa, dan ikhtiar spiritual.
Pandangan KH Muhammad Hasyim Asy'ari tentang Salat Rebo Wekasan
KH Muhammad Hasyim Asy'ari, sebelum wafatnya pada 1947, memberikan jawaban ketika mendapat pertanyaan mengenai pelaksanaan salat Rebo Wekasan. Jawaban tersebut ditulis dalam bahasa Arab Pegon Jawa dan kemudian diterjemahkan oleh Sabilun Nashr.
Dalam penjelasannya, Hasyim Asy'ari menegaskan bahwa salat Rebo Wekasan bukan termasuk salat yang disyariatkan. Ia juga menyebut sejumlah kitab fikih yang dianggap mu'tamad sebagai rujukan.
Menurut Hasyim Asy'ari, tidak ditemukan keterangan mengenai salat tersebut dalam kitab-kitab seperti Taqrib, Al-Minhajul Qawim, Fathul Mu'in, At-Tahrir, serta sejumlah kitab lainnya seperti An-Nihayah, Al-Muhadzdzab, dan Ihya Ulumiddin.
Ia kemudian menjelaskan bahwa apabila suatu amalan memang memiliki dasar dan keutamaan khusus, semestinya para ulama terdahulu telah menjelaskan amalan tersebut.
"Dan telah diketahui bahwa andaikan amalan itu punya dasar, pasti para ulama sudah mendahului penyebutan salat tersebut dan keutamaannya. Biasanya mustahil kesunnahan seperti itu tidak diketahui oleh mereka para ulama. Padahal mereka adalah yang paling mengerti agama dan panutan orang-orang mukmin."
Berita Terkait
-
Sholat Tolak Bala Rebo Wekasan 2026 Jam Berapa? Simak Waktu Pelaksanaannya di Sini!
-
Tata Cara Sholat Tolak Bala Rebo Wekasan 2026: Urutan Bacaan Surat, Niat, dan Doa Lengkap
-
Niat Sholat Tolak Bala Rebo Wekasan: Lengkap dengan Bacaan Latin, Arti, dan Jadwalnya di Tahun 2026
-
Siapa Pendiri Ponpes Tebuireng? Bangunan Pesantren Dipuji Menteri PU
-
Mitos-Mitos Rabu Wekasan, Benarkah Membawa Sial Bagi yang Menikah dan Bepergian Jauh?
Terpopuler
- 4 Rekomendasi Merk Rice Cooker yang Awet dan Bagus untuk Pemakaian Jangka Panjang
- Feng Shui Rumah Menghadap Utara, Lakukan 4 Tips Ini agar Energi Seimbang dan Bawa Hoki
- TNI Mau Ambil Alih Kamtibmas? TB Hasanuddin: Itu Tugas Polri
- Warga Teror Pekerja Stadion Sudiang, Pembangunan Tribun Selatan Terpaksa Ditinggalkan
- 5 Pilihan HP Samsung RAM 12 GB Agustus 2026, Performa Ngebut Anti Lag
Pilihan
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
Terkini
-
Google Maps Hadirkan Ask Maps di Indonesia, AI Bisa Cari Hidden Gems hingga Susun Rute Liburan
-
Imigrasi Catat PNBP Rp6,54 Triliun Hingga Agustus 2026, Naik 6,68 Persen
-
Link Pendaftaran Merdeka Run 2026 Kemenpora, Dibuka Hari Ini Pukul 17.00 WIB
-
Don Ritto dan Nurman Herin Diperiksa Kejagung Buntut Dugaan TPPU Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
-
Terungkap Sudah 2 Tahun, Perjalanan Cinta Nadya Arina dan Jerome Kurnia yang Awalnya Dirahasiakan
-
3 HP Redmi RAM 12 GB dan Memori 512 GB Bujet Rp3-4 Jutaan, Performa Juara
-
KLH Dorong Tobat Ekologis, Jangan Ada Lagi Eksploitasi Alam Tanpa Pemulihan
-
Viral Kasus Guru Lijan Sinaga: Diupah Rp500 Ribu Kini Terancam 12 Tahun Bui Gegara Tegur Murid
-
Menjelang HUT ke-81 RI, Pemkab Bogor Bagikan Bendera Merah Putih ke 40 Kecamatan
-
Dari Kepedulian Warga Menuju Kemandirian Desa: Jejak Kang Edai Membangun Kemiren