Suara.com - Banyak yang penasaran siapa pendiri Ponpes Tebuireng setelah Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo menyebut pesantren itu sebagai pondok pesantren dengan bangunan paling ideal di Indonesia.
Pernyataan tersebut berkaitan dengan keamanan bangunan pesantren, terutama setelah peristiwa robohnya bangunan musala di Ponpes Al Khoziny, Sidoarjo.
Insiden itu tak hanya menimbulkan duka, tetapi juga menjadi pengingat bahwa pembangunan tempat ibadah dan pendidikan harus memenuhi standar keamanan yang layak.
Kini, pemerintah menegaskan agar pesantren yang sedang membangun wajib menghentikan sementara kegiatan pembangunan sebelum memiliki Persetujuan Bangunan Gedung (PBG).
Menurut Dody, dari sekitar 42 ribu pesantren di Indonesia, hanya sekitar 51 pesantren yang memiliki izin bangunan atau PBG tersebut.
Ponpes Tebuireng merupakan salah satu pesantren yang memiliki infrastruktur modern, aman, dan layak.
Pemerintah pun mendorong agar pesantren lain meniru langkah Tebuireng dengan memastikan semua proses pembangunan sesuai aturan.
Berdiri lebih dari seabad yang lalu, pesantren yang berada di Jombang, Jawa Timur ini tetap eksis dan terus beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Lalu, siapa pendiri Ponpes Tebuireng dan bagaimana sejarah berdirinya? Berikut ulasan lengkapnya.
Baca Juga: Tebuireng Disebut Jadi Contoh Bangunan Pesantren Ideal oleh Menteri PU
Sejarah Berdirinya Pesantren Tebuireng
Pondok Pesantren Tebuireng berdiri pada 8 Agustus 1899 di Dusun Tebuireng, Desa Cukir, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang.
Pendiri pesantren ini adalah KH. Muhammad Hasyim Asy'ari, tokoh ulama besar yang kemudian mendirikan organisasi Nahdlatul Ulama (NU) dan ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional.
Nama Tebuireng sendiri berasal dari cerita rakyat setempat. Dahulu, ada warga yang memiliki seekor kerbau berwarna kuning yang kemudian terperosok di rawa penuh lintah.
Setelah ditemukan, kulit kerbau itu berubah menjadi hitam karena dipenuhi lintah, dan sang pemilik berteriak "kebo ireng" (kerbau hitam). Lama-kelamaan, sebutan itu berubah menjadi Tebuireng.
Kiai Hasyim datang ke daerah itu saat masyarakatnya masih diliputi kebiasaan buruk, seperti mabuk-mabukan akibat pengaruh pabrik gula milik asing di sekitar sana.
Melihat kondisi tersebut, beliau merasa terpanggil untuk memperbaiki akhlak masyarakat melalui pendidikan agama.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Sampo Uban Sachet Bikin Rambut Hitam Praktis dan Harga Terjangkau
- 5 HP Helio G99 Termurah di Awal Tahun 2026, Anti Lemot
- 6 Rekomendasi HP OPPO Murah dengan Performa Cepat, RAM 8 GB Mulai Rp2 Jutaan
- 5 Rekomendasi Sepatu Adidas untuk Lari selain Adizero, Harga Lebih Terjangkau!
- 28 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 10 Januari 2026, Ada 15.000 Gems dan Pemain 111-115
Pilihan
-
Cek Fakta: Yaqut Cholil Qoumas Minta KPK Periksa Jokowi karena Uang Kuota Haji, Ini Faktanya
-
Hasil Akhir: Kalahkan Persija, Persib Bandung Juara Paruh Musim
-
Babak Pertama: Beckham Putra Bawa Persib Bandung Unggul atas Persija
-
Untuk Pengingat! Ini Daftar Korban Tewas Persib vs Persija: Tak Ada Bola Seharga Nyawa
-
Kriminalisasi Rasa Tersinggung: Mengadili Komedi 'Mens Rea' Pandji Pragiwaksono
Terkini
-
Detektif Jubun Bongkar Rahasia Gelap Money Game Syariah: Waspada Riba Berkedok Surga
-
5 Water Heater Low Watt Harga Rp1 Jutaan, Cocok untuk Keluarga Minimalis
-
5 Cushion Anti Keringat untuk Pekerja Kantoran, Makeup Tetap Fresh dan Tak Luntur
-
Rekam Jejak Roby Tremonti, Aktor yang Terseret Isu Child Grooming di Buku Aurelie Moeremans
-
Daftar Wilayah DIY yang Berpotensi Diguyur Hujan Petir hingga Pukul 15.00 WIB Hari Ini
-
5 Hair Tonic untuk Menumbuhkan Rambut, Ampuh Atasi Kerontokan dan Kebotakan
-
4 Sepatu Sneakers Wanita Mulai Rp100 Ribuan, Empuk dan Anti Lecet Dipakai Jalan
-
Kenapa Korban Grooming Seperti Aurelie Moeremans Cenderung Diam? Waspadai Ciri-cirinya!
-
5 Moisturizer Terbaik Harga Pelajar untuk Mencerahkan Wajah, Mulai Rp20 Ribuan
-
Alasan Aurelie Moeremans Terbitkan Buku Broken Strings secara Gratis